Hadirnya Anak Membuatku Seolah Terlahir Kembali Jadi Wanita yang Lebih Kuat

Fimela diperbarui 16 Mar 2018, 13:45 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Saya adalah wanita pekerja di sebuah perusahaan swasta, sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki. Sejak lahir saya adalah seorang wanita yang sangat lemah, kenapa saya bilang saya wanita lemah karena sedikit-sedikit saya selalu pusing dan ingin pingsan. Telat makan sedikit langsung mual dan saat menstruasi saja saya bisa lemas dan sampai harus berbaring seharian di tempat tidur. Belum lagi adanya amandel di leher  yang membuat saya tidak bisa minum dingin karena sekalinya saya minum dingin pasti amandel saya langsung bengkak dan di saat itulah saya sangat tersiksa, itulah yang membuat saya dibedakan di keluarga saya (begitu menurut pikiran negatif saya).

Kenapa dibedakan? Saya adalah anak ke-4 dari enam saudara. Saya memiliki 3 kakak perempuan, 1 adik laki-laki dan 1 adik perempuan di mana tiga kakak saya dan dua adik saya tidak ada yang seperti saya (lemah). Saat itu saya selalu berpikir kenapa saya terlahir berbeda dengan saudara saya (di samping kulit saya juga berbeda dari yang lainnya, kebetulan saya berdarah Cina).



Karena kelemahan saya ini lah, orang tua saya selalu protektif kepada saya. Saya tidak boleh kemana-mana, harus di rumah sedangkan kakak saya dan adik saya bisa sesuka hati keluar rumah tanpa pernah dilarang. Saya hanya keluar rumah saat saya sekolah ataupun kuliah, selesai itu saya berada di rumah. Sempat protes namun karena alasan yang masuk akal dari orangtua saya maka akhirnya saya menurut. Karena saya lebih banyak di rumah dan saya tipikal orang yang tidak suka lihat rumah berantakan alhasil saya lah yang merapikan rumah. Kebetulan memang di rumah kami tidak ada pembantu. Semua dilakukan oleh saya, karena orangtua saya juga pekerja jadi kadang rumah suka berantakan dan tidak terurus. Semua pekerjaan rumah saya lakukan, hitung-hitung sebagai bekal untuk berumah tangga.

Sebelum menikah saya sempat masuk rumah sakit dikarenakan mungkin tekanan pekerjaan di kantor. Selain capek mengurus rumah dan stres memikirkan pernikahan, tanpa diduga ternyata saya memiliki wasir yang sudah sangat mengganggu dan akhirnya saya harus dilarikan ke rumah sakit untuk dioperasi. Saat itu saya merasa hidup saya hancur sekali. Memang penyakit ini tidak separah seperti penyakit-penyakit mematikan lainnya, tapi karena saya selalu melabeli diri dengan julukan saya sebagai wanita yang lemah jadi saya sedikit kebawa perasaan.

Hampir dua minggu saya di rumah sakit pasca operasi. Semua sudah baik-baik saja sampai akhirnya saya menikah. Selama pernikahan kami memang berencana untuk tidak memiliki momongan hingga 1 tahun dikarenakan mental saya yang belum siap karena saya berpikir seandainya saya hamil saya pasti akan sakit-sakitan. Namun, Tuhan Yang Maha Esa berkehendak lain. Di saat saya menunda kehamilan, di bulan ke-9 pernikahan kami, saya mulai merasa seperti dahulu lagi. Capek sedikit, mual, pingsan dsb sampai akhirnya ketahuan kalau saya ini hamil.



Saat itu antara bahagia dan ketakutan apakah saya bisa melahirkan atau apakah saya bisa menjadi ibu dan mengurus anak saya. Sampai akhirnya saya stres dan wasir saya timbul lagi. Saya sudah seperti tidak ada semangat hidup sampai akhirnya dokter kandungan saya yang selalu menyemangati saya untuk menjalani hidup ini tanpa rasa khawatir dan menyemangati kalau saya bisa melahirkan normal walau ada wasir.

Namun, ketika hari persalinan tiba, semua perawat meminta saya untuk operasi caesar dikarenakan wasir saya yang sudah membesar seperti buah apel. Saat itulah saya benar-benar sudah tidak tahu apa yang harus saya lakukan karena dokter saya sangat menentang untuk lahir secara caesar maka saya dimotivasi untuk tetap berjuang dalam melahirkan normal. Dan Puji Tuhan saya dapat melampaui ini semua dengan melahirkan normal di mana kondisi wasir saya yang sudah sangat besar. Dorongan dari suami, keluarga, dan terutama dokter kandungan saya yang sangat besar kepada saya lah yang membuat saya mampu melampaui ini semua.



Kehidupan saya tidak berakhir sampai di situ. Di sinilah saya harus berjuang juga untuk mengatasi wasir saya dan mengurus anak saya yang baru lahir. Saat itu dokter sudah menyuruh saya untuk operasi lagi tiga hari setelah melahirkan. Karena saya tidak mau meninggalkan anak saya yang baru berumur tiga hari akhirnya saya memutuskan untuk tidak melakukan operasi dan terus menjalani hidup dengan wasir yang masih besar bermodal obat penahan sakit dari dokter.

Saya menjalaninya terus selama kurang lebih 1 tahun sampai wasir saya mengecil. Mungkin karena anak lah yang membuat saya merasa tidak mau merasakan penyakit yang ada di tubuh saya. Dan karena anak saya juga saya merasa terlahir kembali. Saya yang merasa dulu selalu lemah, sekarang saya merasa seperti terlahir kembali. Di situlah saya merasa saya adalah wanita kuat.

Oleh karena itu, saya harus giat bekerja meski harus berangkat pagi dan pulang malam. Saya juga harus membereskan rumah sama seperti yang saya lakukan di rumah orangtua saya. Sekarang anak saya usianya sudah 3,5 tahun yang sudah mengerti kalau mamanya hanya ada waktu untuk dia pada saat malam hari, di mana dia selalu mengajak saya bermain sampai jam 3 pagi dini hari dan saat itu saya begadang untuk menemani dan harus berangkat lagi untuk bekerja. Sampai saat ini Puji Tuhan, saya tidak pernah merasa lemah ataupun sakit-sakitan.



Saya benar-benar terlahir kembali karena anak lah yang membuat saya menjadi wanita super yang tidak lagi merasa pusing ataupun penyakit saya yang saya rasakan pada saat sebelum memiliki anak. Rasa cinta saya kepada anak lah yang membuat perubahan dalam hidup saya. Saya tidak pernah mengeluh lagi walau kadang saya suka menangis dikarenakan ada masanya suami saya yang sering kecapekan karena bekerja tidak mau membantu saya dalam mengurus anak ataupun rumah tangga. Tapi karena satu tujuan, anak lah yang membuat saya tidak pernah mengeluh dan menjalani hidup ini dengan bahagia walau jeruji-jeruji kehidupan pasti ada melanda hidup saya.

Anakku, engkau adalah teman sehari-hariku
Tempatku berbagi dalam suka dan duka
Walau aku belum menjadi ibu sempurna untukmu
Aku akan berjuang untukmu dan selalu mendampingimu hingga sisa hidupku

Engkau adalah permata hidupku
Karena engkau saya kuat
Karena engkau daya dapat menikmati hidup
Dan karena engkau hidupku menjadi berwarna



(vem/nda)