Ladies, Ini Dia Alasan Manusia Bisa Alami Mimpi Buruk

Fimela diperbarui 27 Mar 2018, 19:00 WIB

Siapa saja pasti pernah mengalami mimpi buruk saat tidur. Ladies, mimpi buruk ternyata tak disebabkan oleh rasa takut. Peneliti dari Universitas Montreal, Kanada, berhasil menemukan fakta bahwa mimpi buruk disebabkan oleh faktor alami penyebab bunga tidur pada umumnya, yakni emosi dan proses kognitif otak.

Seperti yang dilansir oleh Medical Daily (23/3), peneliti melakukan studi pada hampir 10.000 mimpi dari seratus lebih responden. Penelitian tersebut berhasil menganalisis sebanyak 253 mimpi seram dan 431 mimpi buruk. Dua jenis mimpi ini sengaja dibedakan karena memiliki intensitas kognitif yang berbeda satu sama lain.

Mimpi seram (nightmare) adalah mimpi yang mampu menguras emosi dan umumnya berisi tentang hal-hal yang bersifat memilukan serta membuat bulu kuduk merinding seperti kematian, masalah kesehatan, dan jebakan. Sedangkan mimpi buruk (bad dream) adalah sebutan untuk mimpi yang umumnya dihantui oleh bayang-bayang konflik inter-personal, seperti pertengkaran.

Mimpi ini berbeda terjadinya pada pria dan wanita. Namun, ada pula yang sama-sama terjadi pada keduanya seperti bencana atau ancaman. Ternyata pria cenderung mendapat intensitas mimpi seram yang lebih tinggi dibandingkan wanita. Wanita lebih sering mengalami mimpi buruk mengenai konflik antar individu. Setelah mengalami mimpi buruk mereka akan merasakan sedih, bersalah, atau bingung.

Proses terjadinya mimpi pada otak adalah sebagai berikut. Sebagaimana umum diketahui, tidur dibagi menjadi empat tahap: tahap 1 (tidur onset), tahap 2 (tidur ringan) dan tahap 3 dan 4 (tidur nyenyak) -- tahap REM (rapid eye movement). Mimpi buruk ini cenderung terjadi di sepertiga terakhir malam saat tahap REM yang kuat. Tidur REM terjadi setiap 90 menit pada malam hari, dan berhubungan dengan aktivitas otak yang tinggi, pergerakan mata yang cepat, serta menghambat aktivitas motorik.

Biasanya, mimpi terjadi di semua tahap, dengan 80 persen orang terbangun selama tidur REM dan tidur on set (pada tahap 1 dan 2). Di buku yang ditulis oleh Patrick McNamara, yang berjudul Nightmares: the Science and Solution of Those Frightening Visions During Sleep, dijelaskan peran amigdala. Ini adalah sekumpulan syaraf pengelola ingatan dan reaksi emosi dalam tidur yang menangani hal-hal negatif seperti rasa takut dan depresi.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan mengapa aktivasi berlebihan dari amigdala selama REM bisa menimbulkan respon ketakutan pada si pemimpi.

Nah Ladies, semoga informasi ini bermanfaat untukmu ya.

Sumber: Liputan6.com.



(vem/ivy)

Tag Terkait