Sedih Kontrak Kerja Diputus Sepihak, Tapi Kudapat Ganti yang Lebih Baik

Fimela Editor diperbarui 28 Mei 2021, 17:15 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Dunia kerja, kalian yang bekerja tentu paham betul bagaimana situasi di dalamnya. Memang setiap perusahaan berbeda tetapi pasti ada sebagian cerita yang sama, beberapa karakteristik teman kerja mulai dari yang problem solving sampai trouble maker, yang berprestasi sampai yang suka bikin sensasi pasti ada saja disetiap perusahaan. Sebab tanpa keberagaman karakter perusahaan memang tak terasa hidup.Berawal dari perusahaan impian yang saat itu bagi saya sulit untuk didapat, 4 kali gagal untuk bisa bergabung di perusahaan impian rasanya bikin kapok untuk mencoba lagi meskipun masih tetap menjadi perusahaan impian. Singkat cerita setelah 4 kali gagal akhirnya saya dapat kesempatan untuk mencoba lagi, hampir benar2 kapok memang tapi dengan keyakinan saya coba lagi. Proses demi proses saya jalani dengan keyakinan kali ini saya pasti bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut, dan saya meyakini kata-kata ini “usaha tidak akan mengkhianati hasil” setelah kurang lebih 1 bulan melewati tahap demi tahap rekrut dan akhirnya saya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Bukan main bersyukurnya saya karena Allah kabulkan satu keinginan saya setelah 4 kali gagal untuk bisa bergabung. Dan bahagianya lagi saya mendapatkan posisi berbeda dari posisi terakhir saya di perusahaan sebelumnya tentunya dengan salary yang lebih besar, maklumi saja pekerja terkadang yang dilirik awalnya adalah posisi dan salary yang menjanjikan. Kebetulan sekali saya memang tipe pekerja yang suka jika ditawari posisi baru yang bisa bikin saya banyak belajar, tentunya experience saya bertambah dan link kerja saya pun bertambah.

Tak berhenti sampai di situ rasa bersyukur saya, selain bisa bergabung di perusahaan yang saya impikan dan mendapatkan posisi dan penghasilan yang lebih baik ternyata pengelolaan manajemen di perusahaan tersebut pun sangat baik bahkan jauh lebih baik dari perusahaan-perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Saya juga mendapatkan manajer yang menurut saya sangat baik, senior yang juga baik. Bahkan sangat terasa sekali kalau lingkungan kerja yang saya dapatkan saat itu akan membuat saya sangat menikmati pekerjaan baru saya. Benar saja, satu bulan pertama bergabung saya sudah mulai menemui kenyamanan yang hakiki dalam bekerja, rekan kerja yang sangat menyenangkan ya meskipun ada beberapa yang memang masih belum saya kenal betul tapi tidak begitu masalah bagi saya, hanya butuh waktu saja untuk bisa lebih akrab dan mengenal mereka yang belum saya kenal. Empat  bulan bergabung di perusahaan impian semuanya berjalan sangat baik dengan posisi saya sebagai Administration Assistant, meng-handle beberapa klien membuat saya mendapatkan banyak link baru dan bidang pekerjaan yang ternyata membuat saya banyak sekali belajar. Dan selama itu pula hubungan saya dengan menejer saya dan senior saya semakin dekat, iya mereka benar-benar seperti keluarga saya. Dengan atasan saya dan senior saya banyak bertukr cerita tentang banyak hal bahkan tentang hal pribadi yang memang masih bisa diceritakan kepada mereka sebab saya percaya merekapun sama menganggap saya seperti adik yaaa karena kebetulan saya yang termuda dalam satu team.

Semua berjalan begitu menyenangkan hingga akhirnya saya mulai menyadari ada beberapa kejanggalan dalam hal pekerjaan, di bulan keempat saya mulai melihat ada masalah serius yang dilakukan oleh atasan saya namun beliau sepertinya sangat rapat menyembunyikan hal itu. Ya sudahlah bagi saya mungkin masalahnya tidak untuk saya mengerti lebih jauh, meskipun ada beberapa pertanyaan janggal saat itu dari sebagian orang di kantor itu yang membuat saya berpikir kenapa bisa ada pertanyaan yang mungkin seharusnya tidak ditanyakan kepada saya, sedangkan mereka sudah mengenal atasan saya lebih dulu dibanding saya. Agak mengganjal memang, akhirnya saya bicarakan dengan senior saya mengenai pertanyaan-pertanyaan janggal itu kebetulan senior saya itu sudah saya anggap seperti kakak kandung saya sendiri. Ya saya sangat dekat dengan senior saya itu, bagi saya senior saya itu juga tahu banyak hal tentang atasan saya jadi saya memberanikan diri membicarakan apa yang menurut saya janggal dengan atasan saya. Namun setelah saya bicarakan dengan senior saya, rupanya dia pun tidak tahu persis ada apa hanya saja dia tetap berpikir positif dan menyarankan saya untuk tetap fokus saja dengan apa yang menjadi jobdesk saya, “Jangan dengerin kata mereka, mungkin mereka sekedar iri aja sama tim kita, kamu fokus aja sama kerjaan kamu, dek,” begitu jelasnya. Baiklah saya buang jauh-jauh pemikiran negatif tentang kejanggalan itu dan tetap berpikiran positif karena atasan saya sangat baik dan berhasil menggaet beberapa klien besar tidak dipungkiri akhirnya menimbulkan rasa iri bagi beberapa tim dan mungkin mencoba untuk menjatuhkan. Masih berjalan dibulan ke empat, semua kejanggalan yang sempat saya tepis tentang atasan saya mulai mencuat kepermukaan. Meskipun saat itu saya masih tidak tahu persis apa masalahnya, namun dari isu yang saya dengar ternyata masalahnya sangat besar karena sudah menyangkut dengan keuangan perusahaan saat itu.

Kenyamanan kerja mulai sedikit terusik dengan isu yang ada, sampai-sampai saya lebih banyak khawatirnya dibanding fokus dalam hal pekerjaan. Bagaimana tidak, sebab saya adalah sekertaris dari atasan saya dan berhungan langsung dengan beliau. Bisa jadi ketika ada masalah besar dalam pekerjaan yang terjadi terhadap beliau yaa kemungkinan saya juga bisa terkena imbasnya, begitu pikir saya. Berusaha tetap berpikir baik dan berharap semua akan tetap baik-baik saja, meskipun seiring berjalannya waktu banyak hal yang saya ketahui tentang atasan saya yang sangat saya sayangkan jika memang itu adalah benar. Seiring berjalannya waktu semua semakin nyata memang ada yang aneh, mulai dari atasan saya yang mulai banyak mangkir dari kantor bahkan sampai melakukan kebohongan-kebohongan yang tadinya kecil hingga menurut saya kebohongan yang dia lakukan sudah sangat-sangat mengecewakan. Namun apalah daya saya, beliau tetaplah atasan saya dan saya tetap berusaha menjadi yang terbaik dalam hal pekerjaan. Semenjak atasan saya tersebut terlilit masalah besar di kantor , sebenarnya saya dialihkan menjadi sekretaris dari senior saya yang sudah saya anggap seperti kakak kandung saya itu. Hanya saja manajemen saat itu tidak memberitahu secara langsung kepada atasan saya kalau memang ada peralihan pekerjaan hingga posisi saya saat itu sangat membuat saya serba salah harus berlaku seperti apa, di satu sisi saya sudah diberi peringatan oleh tim management untuk tidak lagi men-support pekerjaan atasan saya itu dalam bentuk apapun tapi di sisi lain team management tidak memberitahukan secara langsung kalau saya sudah bukan lagi bekerja sebagai sekretaris atasan saya tersebut. Jadi wajar saja kalau beliau masih sering menghubungi saya untuk memastikan absensinya dan urusan pekerjaan lainnya dan ya saya tetap membantunya selagi memang itu adalah yang biasa saya lakukan ketika saya menjadi sekretaris beliau. Masuk di bulan kelima saya bekerja, masalah besar itu semakin terlihat jelas sampai akhirnya senior saya yang sekarang meminta saya menyampaikan beberapa fakta yang benar-benar membuat saya semakin merasa kecewa atas perbuatan atasan saya bahkan ternyata masalah itu sudah masuk ke rana hukum. Semenjak itu saya benar-benar sangat berhati-hati menjalin hubungan dengan atasan saya tersebut karna senior saya tak ingin saya terseret dalam masalah besar itu, saya jadi sering mengelak ketika dihubungi beliau meskipun beliau tetap berlaku sangat baik terhadap saya dan senior saya. Mau bagaimana saya harus tetap mengikuti prosedur perusahaan yang sudah diwarningkan kepada saya. Beberapa hari setelah senior saya membuka beberapa fakta tentang atasan saya dan meminta saya untuk benar-benar tidak melakukan aktivitas kerja yang berhubungan dengan beliau, sebuah kejadian menyedihkan menimpa saya dan mungkin bagi saya ini tidaklah adil bagi saya. Hari itu saya dipanggil oleh team management dan diinterogasi banyak hal tentang atasan saya sebab saya adalah sekertarisnya, saya jawab semua pertanyaan dari team management dengan sangat-sangat jujur. Saat itu ada senior saya yang wajahnya sudah sangat sedih, menatap wajahnya saya hanya berpikir apa yang sebenarnya akan terjadi terhadap saya sampai senior saya tak biasanya seperti itu menatap saya, sesedih itu wajahnya ketika menatap saya. Setelah semua pertanyaan dari team management saya jawab, tiba-tiba saja ada penyataan yang menyebutkan kalau hari itu juga saya diberhentikan dari pekerjaan saya dan hari itu juga saya harus handover semua pekerjaan saya kepada HRD dan mengembalikan semua aset kantor yang saya gunakan. Hancur hati saya mendengar pernyataan tersebut karena bahkan saya tidak diberi waktu untuk menyampaikan pembelaan bahwa sebenarnya ada kesalahan dari team management juga yang tidak pernah memberitahu langsung perihal peralihan pekerjaan saya dari atasan saya ke seneior saya jadi wajar saja kalau atasan saya masih menghubungi saya. Tapi yasudahlah pernyataan itu sudah terlontar jelas, hanya saya rasakan hati saya hancur saat itu tapi saya tetap mengiyakan keputusan team management dengan senyum dan meminta maaf jika kinerja saya selama 5 bulan itu belumlah maksimal. Keluar dari ruangan team management dengan rasa yang sangat menyedihkan tapi saya tak ingin semua tau ada apa dengan diri saya, saya berusaha tetap tersenyum dan bercanda sembari menyelesaikan semua deadline pekerjaan saya yang harus selesai hari itu juga. Menyelesaikan deadline pekerjaan sambil menahan air mata agar tidak menetes adalah hal yang hal yang baru pertama kali saya alami. Sampai ada saat dimana senior saya akhirnya memanggil saya dan mengajak saya ke satu ruangan yang memang privat, di situ senior saya merasa sangat bersalah karena dia merasa gagal membela saya di hadapan team management. Dia bilang kepada saya kalau keputusan team management adalah keputusan sepihak di mana sebelumnya team management mempercayakan senior saya untuk me-manage saya dan keputusan terbaik ada di tangan senior saya, tetapi tiba-tiba muncul keputusan sepihak dari team management yang tidak lagi melihat dari sisi bagaimana cara bekerja.

Team management hanya tak ingin ada orang yang berhubungan baik dengan atasan saya yang bermasalah itu agar memudahkan proses hukum yang sudah berjalan, saat itu saya mengerti senior saya sangat kecewa dengan keputusan sepihak itu sampai dia menyalahkan dirinya atas pemutusan kontrak kerja saya, tapi saya sama sekali tidak menyalahkan senior saya justru saya sangat berterimakasih karena dia sudah sangat banyak membantu saya dan menyelamatkan saya dari masalah besar itu. Saya pun berusaha untuk tidak menyalahkan team management sebagai pemberi keputusan dan tidakpun menyalahkan atasan saya yang ternyata dalam masalah besarnya sudah sangat merugikan karir saya. Saya hanya berpikir mungkin hanya sampai disitu saja rezeki saya, setidaknya Allah sudah memberikan saya kesempatan untuk menikmati dan mensyukuri keinginan saya yang DIA kabulkan. Mungkin memang tidak adil menurut saya saat itu, tapi kembali lagi saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Saya tak ingin perasaan hancur saya saat itu juga menghancurkan semangat kerja saya untuk mencari pekerjaan baru, saya maafkan semua yang telah terjadi sambil saya mengoreksi apa yang salah dalam diri saya saat itu agar saya tidak lagi mengalami hal yang sama. Pikir saya saat itu Allah sedang sangat merindukan saya untuk lebih berserah kepada-Nya maka Dia hadirkan masalah dalam pekerjaan saya, memberikan saya pembelajaran bahwa saya harus lebih banyak bersabar dan tetap menjadi baik diantara ketidak baikan. Dan saya meyakini bahwa Allah mengirimkan masalah sudah satu paket dengan solusinya, benar saja tak harus menunggu lama Allah kirimkan saya kabar baik atas pekerjaan saya. Saya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang tak kalah bagus dengan perusahaan yang telah memutuskan kontrak kerja saya. Saya sangat bersyukur sekali sebab Allah sangat sayang kepada saya, dan sampai hari ini saya masih menjalin hubungan baik dengan senior saya yang masih bekerja di kantor lama saya. Bahkan dua hari sebelum puasa saya menyempatkan sekadar mampir ke kantor lama saya untuk menemui senior saya, saya bertemu dengan team management namun semua saya rasa biasa saja. Tak ada rasa marah yang saya simpan untuk team management yang secara sepihak memutuskan kontrak kerja saya saat itu. Bahagianya saya Allah jauhkan saya dari rasa marah dan dendam hingga saya masih bisa memberikan senyum bahagia untuk mereka yang pernah menjadi rekan kerja saya dan sampai saat ini saya masih sangat menganggap perusahaan yang pernah menjadi perusahaan impian saya itu adalah perusahaan yang baik. Satu hal yang saya sadari ketika seseorang tertimpa masalah besar dia harus percaya bahwa dia punya Allah yang lebih besar dari masalah itu, bereserahlan dan tetap berprasangka baik maka Allah akan berikan jalan keluar yang terbaik untuk masalah itu berikut dengan hal yang lebih membahagiakan. Jakarta, 19 May 2018Salam Hangat,Meliya Sari

(vem/nda)