Bisa Jadi Kamu Mengalaminya, Hati-Hati Bila Pacarmu Ternyata Sociopath

Fimela diperbarui 22 Mei 2018, 13:00 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Banyak orang menilai aku sebagai orang sabar (tapi mereka salah), karena yang mereka tahu ketika aku disakiti oleh orang lain, aku tidak pernah membalas dan tidak bisa membencinya.

Aku punya mantan pacar, yang seringkali dia menyakiti hatiku dengan kata-katanya. Aku memang selalu diam dari luar, tapi jangan tanya isi hati dan pikiranku yang tak henti-henti aku selalu menggumam dalam hati. Jujur aku tak pernah terima saat dia mengataiku dengan kata-kata tajamnya. Sebenar-benarnya segala hal yang kulakukan akan selalu terlihat salah di matanya.

Dia menganggapku mengidap gangguan jiwa, dan katanya dia tak pernah bertemu perempuan sepertiku sebelumnya. Karena dulu aku memang suka menyakiti diriku sendiri ketika aku kesal dengan apa yang dikatakannya, sedangkan aku tidak pernah sedikit pun berani membalasnya. Dia begitu terlihat membenciku dengan perilakuku itu. Aku tidak tahu, sungguh aku mengidap gangguan jiwa atau sebenarnya aku hanya mencari perhatiannya saja agar dia berhenti menyakitiku? Atau aku memang benar mencari perhatian, dan itulah yang disebut dengan gangguan jiwa?



Dari situ aku mulai berpikir, dan mencari tahu tentang apa yang salah dalam diriku ini. Aku mulai introspeksi, mengapa dia sampai mengatakan seperti itu. Logikanya, kalau memang aku baik-baik saja, dia tak akan sampai hati untuk menganggapku punya gangguan jiwa. Butuh waktu lumayan lama sampai aku menyadari bahwa perilaku self-injury yang ada dalam diriku itu tidak seharusnya dilakukan. Menyelesaikan masalah tidak harus dengan menyakiti diri sendiri, aku harus berbicara baik-baik padanya agar dia bisa menjaga kata-katanya dan tidak menyakitiku lagi.

Setelah itu aku berjanji pada diri sendiri, tidak hanya untuk dia tapi untuk diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi menyakiti diri sendiri ketika aku merasa tersakiti oleh orang lain. Tidak mudah untuk menghilangkan perilaku yang sudah biasa aku lakukan sejak dulu itu, tapi dengan niat yang sungguh-sungguh, aku berhasil menghilangkannya. Solusiku adalah ketika aku merasa tersakiti, aku membaca istighfar, dan bicara baik-baik dengan orang yang bersangkutan. Namun rupanya, usaha yang mati-matian aku lakukan, tetap terlihat salah. Mantanku itu masih saja selalu menyakitiku dengan kata-katanya, dan aku? Syukur aku masih bisa bertahan dengan tidak menyakiti diriku sendiri lagi.

Aku selalu berharap dia akan berubah, karena aku juga sudah merasa berubah dengan menghilangkan perilaku buruk yang tidak disukainya itu. Tetapi sepertinya harapanku hanyalah tinggal harapan, karena sepertinya sifat yang suka menyakiti orang lain itu, sudah bawaan dan sudah melekat di dalam dirinya dan hampir tidak mungkin baginya untuk berubah. Benar saja, aku menunggu waktu sekitar setahun untuk perubahannya, hasilnya nihil. Sekali pun dia tidak pernah menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan dia juga tidak pernah meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan. Selalu menentang, merasa dirinya benar, dan selalu mengeluarkan kata-kata tajam tanpa ragu hal itu akan menyakitiku atau tidak dan tentunya tanpa rasa bersalah.



Akhirnya aku mulai meragukan dia dan berpikir sebenarnya siapa di antara kita yang punya gangguan jiwa? Aku juga mulai tertarik dengan mencari tahu adakah seseorang di luar sana yang sama dengan laki laki itu dan bagaimana cara menghadapinya. Aku mulai menemukan titik terang, berdasarkan banyak artikel yang aku baca, aku terfokus pada sebuah perilaku yang disebut dengan “Sociopath”.

Aku bukan psikolog, yang tahu menahu tentang dunia psikologi. Aku hanya berbicara berdasarkan apa yang aku baca, yaitu 10 dari 10 gejala sociopath itu ada dalam mantanku. Benar atau salah dia adalah seorang sociopath aku tidak tahu pasti, tapi fakta membuktikan semua perilaku yang dia lakukan terhadapku itu adalah ciri-ciri seorang sociopath. Seseorang yang manipulatif, tidak pernah merasa bersalah, dan menganggap segala sesuatu yang salah itu benar baginya.

Selain itu aku juga membaca tentang ‘How to deal with sociopath’ dan bertanya kepada orang-orang yang pernah menghadapi orang yang sama sepertinya. Solusi terbaik dari semua sumber yang aku baca adalah “Leave him. You deserve better!” Tidak hanya sehari dua hari aku mempertimbangkan tentang apa yang akan aku lakukan sampai akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar meninggalkannya.

Jodoh nggak akan kemana, pikirku. Memang benar aku tidak lagi menyakiti diriku sendiri secara fisik, tapi kalau aku terus bertahan dengan orang seperti ini, sama saja dengan aku menyakiti diriku sendiri secara psikis. Lalu apa bedanya? Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, bahwa aku tidak salah untuk meninggalkannya. Aku hanya ingin fokus untuk memperbaiki diri dan akan berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.



7 bulan setelah aku memutuskan untuk pergi dari mantanku itu, aku bertemu dengan seorang laki-laki lain yang saat ini telah menjadi tunanganku, yang 5 bulan lagi kami akan menikah. Seseorang yang sabar, baik hati, dan tidak pernah sekali saja perkataannya menyinggung perasaanku.

Di tengah tengah kebahagiaanku ini, aku mendengar kabar bahwa kekasih baru dari mantanku itu juga mengalami hal yang sama sepertiku dulu yang itu berarti dia masih belum berubah atau memang tidak akan berubah. Aku bersyukur telah memilih keputusan yang tepat dengan meninggalkannya dan ternyata memang benar bahwa aku layak mendapatkan yang lebih baik selama aku juga berusaha menjadi lebih baik dan sekarang aku telah mendapatkannya.

(vem/nda)
What's On Fimela