5 Karya Seni Yang Wajib Kamu Lihat di Art Jakarta 2018

Fimela diperbarui 03 Agu 2018, 16:55 WIB

Art Jakarta 2018 kembali hadir di Indonesia pada tanggal 2-5 Agustus 2018 di Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, dan diresmikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia, Bapak Triawan Munaf. Pergelaran istimewa tahun ini menandai 10 tahun perjalanan Art Jakarta sejak diadakan tahun 2009 sebagai pameran seni bergengsi dan terpercaya yang mempertemukan kolektor, art dealer, seniman, penikmat dan pelaku dengan memadukan seni dan gaya hidup.

Perayaan 10 tahun Art Jakarta menampilkan dimensi baru seni Indonesia dan kolaborasi dengan pelaku seni lokal maupun internasional melalui program antara lain Mall Art oleh Faisal Habibi.

Pengunjung juga dapat menikmati Art Gram yaitu persona-persona Instagram dengan tampilan posting bernuansa seni; NAFA, Biennale Yogya, Museum & educational (MACAN, Ciputra Artpreneur Museum, SCAD, dan Erudio School of Art), instalasi galeri termasuk Gajah Gallery, ROH Project, Mizuma Gallery, RUCI Gallery, dan galeri anggota AGSI; Metamorphosis oleh Ay Tjoe Christine, Solo Show Botero oleh El Museo/Fernanda Pradilla dari Spanyol/Colombia; Lelang amal Art Carpet untuk Yayasan Mitra Museum Jakarta, dan program kampanye dari Yayasan Jantung Indonesia, serta lelang lemari es dari Modena untuk DoctorSHARE.

“Antusiasme baik dari masyarakat pecinta dan pelaku seni begitu tinggi dari tahun ke tahun, terlihat dari semakin banyaknya variasi karya seni Art Jakarta 2018 yang dapat dinikmati oleh pengunjung mulai dari kategori pemula hingga kolektor senior,” ujar Ria Lirungan, Deputy Head of Committee Art Jakarta 2018, saat ditemui dalam pembukaan Art Jakarta 2018, di Jakarta, Kamis (2/8).

Redaksi vemale.com pun merekomendasikan, lima karya seni yang wajib kamu lihat. Apa saja? Yuk intip.

1. The Battle Of Shoulders By Puri Fidhini

 

2. Give Thanks By Theresia Sitompul

3. Stainless Steel, Lacguer Paint and Resin by

Syagini Ratna Wulan

 

4. Special Project Kim Kira by Art:1

 

5. The irony of ruralism By Eddy Susanto

(vem/asp)

Tag Terkait