Kepedulian Andien Terhadap Anak Difabel, Ditunjukan Lewat Pameran Seni

Fimela diperbarui 29 Agu 2018, 08:17 WIB

Anak-anak dengan kebutuhan khusus atau difabel memang memiliki keistimewaan. Apalagi ketika kamu melihat karya-karya mereka di pameran Warna-Warna yang berlangsung 29 Agustus - 9 September 2018 di Dia.Lo.Gue Art Space, Jakarta.

Pameran Warna-Warna ini merupakan salah satu rangkaian acara dari peluncuran single “Warna-Warna” oleh Andien. Demi terwujudnya pameran ini, Andien pun berkolaborasi dengan Art Therapy Center Widyatama (ATC Widyatama) yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Pelantun ‘Indahnya Dunia’ ini mengajak masyarakat untuk melihat anak-anak berkebutuhan khusus dari perspektif yang berbeda. Mereka sama seperti kita, hanya saja mereka memiliki kemampuan yang berbeda.

"Perlu sekali disebarluasakan, bahwa dalam memandng sesuatu, kita terkadang perlu melihat dari perspektif yang berbeda," tutur Andien, saat ditemui dalam pembukaan pameran Warna-Warna, di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (28/8).

Art Therapy Center Widyatama (ATC Widyatama) sendiri merupakan lembaga pendidikan kesenian di Bandung yang mendidik anak berkebutuhan khusus menggunakan ilmu seni sebagai metode terapi. Didirikan sebagai sebagai realisasi misi mencerdaskan anak bangsa tanpa kecuali; reguler dan penyandang disabilitas.

Direktur ATC Widyatama, Anne Nurfarina mengatakan, melalui pameran ini ingin menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki bentuk ekspresi yang baik dan kemampuan yang layak mendapat tempat di ruang publik, sebagai hasil pembelajaran sekaligus terapi mereka. Karena mereka adalah siswa siswi spesial, mereka penyandang disabilitas dengan berbagai kelebihan.

“Kelebihan ini muncul karena perjuangan para pengajar, para guru yang juga tak kalah istimewa. Dengan kesabaran dan ketekunan membimbing, mendampingi dan mengajari, terbukti kemampuan itu muncul sebagai ekspresi anak manusia dalam kualitasnya. Ibu Anne yakin, ajakan berpameran ini terjadi karena kualitas tersebut, bukan sekedar berempati atau mengasihani,” paparnya.

Lebih lanjut, Anunsiata Srisabda sebagai salah satu pengajar di ATC Widyatama dan kurator dalam pameran ini, mengatakan hampir seluruh karya mereka dibuat melalui sebuah proses yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan behavior, bagaimana mereka dituntut untuk belajar berkonsentrasi, fokus, bertoleransi, membangun komunikasi lewat gambar dan mengasah motorik halus. Mereka tidak sekedar menggambar. Ada banyak hal yang terjadi dan memiliki cerita menarik pada seluruh prosesnya.

Pameran ini diikuti oleh 14 siswa-siswi ATC Widyatama, antara lain Dwi Andini Maaruf , Faiz Muhammad, Ghany Aziz, Mulyo Rahardjo, Abiyan Zahran, Adryan Adi, Angkasa Nasrulah Emir, Nazario P, Ariq Rabanni, Hilary Sasabilla, Ahmad Taufan, Akbar Alliya, M Ichsan Nabil, dan Naufal Radiansyah. Jumlah karya yang dipamerkan adalah 62 karya, yang terbagi dalam 3 kategori yaitu karya murni
penciptaan (karya orisinil), karya yang menggunakan referensi foto sebagai objek kekaryaan, dan karya re-make, cycling, inspiring, dan duplicating.

Tidak hanya sekedar pameran untuk mempublikasikan karya-karya dari siswa-siswi ATC Widyatama saja, akan diadakan talkshow p ada 1 September 2018 dengan orang tua dengan tujuan untuk berbagi informasi bahwa ekosistem untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia sudah memadai. Baik dari sekolah, fasilitas umum, dan lapangan kerja. Bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki warnanya tersendiri yang memperindah dunia.

Selain itu, akan diadakan pula dialog dengan tim Human Resource dan Brand Marketing pada 5 September 2018. Dialog ini bertujuan untuk berdiskusi mengenai kesempatan kerja untuk anak-anak penyandang disabilitas.

(vem/asp)

Tag Terkait