Calon Suami Sahabatku Ternyata Kekasihku

Fimela diperbarui 13 Sep 2018, 11:15 WIB

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Menurut kebanyakan orang, mempersiapkan pernikahan itu gampang-gampang susah. Apalagi jika ingin menggunakan adat pasti lebih repot. Namun, jika didiskusikan bersama-sama pasangan pasti lebih gampang.

Aku dan kekasihku telah berpacaran selama bertahun-tahun lebih tepatnya sudah 8 tahun bersama. Banyak orang yang telah bertanya kepadaku, “Kapan menikah?” Jawabanku hanya satu yaitu, “Doakan saja secepatnya,” sambil melemparkan senyum manisku.

Ketika aku bertanya kepada kekasihku kapan dia akan melamarku. Dia selalu mengelak. Dia selalu bilang, "Nanti ya, karierku sedang naik nih," atau, "Nanti ya. Uangnya belum terkumpul."



Saat itu aku hanya percaya saja dia karena kami memang sedang meniti karier masing-masing. Aku juga mempunyai sahabat. Sebut saja namanya N. Aku dan N sudah bersahabat selama 10 tahun sejak duduk di bangku SMA.

Sepengetahuanku, N belum mempunyai kekasih. Dia enggan menikah karena baginya semua cowok itu sama. Hanya janji palsu. Kalau soal itu, aku sepaham. Namun, aku yakin kekasihku tak akan seperti itu. Pertemuan kami bertiga semakin intens saja. Terlebih lagi sahabatku suka nebeng naik mobil kami.

Saat itu, aku tidak mempunyai pikiran negatif sedikit pun tentang mereka. Aku tak ambil pusing hanya saja dari beberapa teman kantor sering menyarankan agar kekasihku tak menemui sahabatku setiap hari. Takut kepincut nantinya. Saat temanku berkata seperti itu, ada perasaan berkecamuk di dalam diriku. Apa benar akan terjadi seperti itu? Semoga saja tidak.

Hubunganku mulai goyah saat jalan tahun ke-8. Kekasihku sering tak memberi kabar jika dia pergi. Jika diajak jalan, dia selalu mencari alasan. Aku tetap saja masih berpikiran positif dan percaya padanya walaupun dalam hati pasti ada yang tidak beres kepadanya. Berulang kali aku telepon ke nomornya selalu tidak aktif.



Sampai suatu ketika, sahabatku mengirimkan pesan singkat kepadaku. Katanya dia mau menikah dua bulan lagi ke depan. Jadi, dia memintaku untuk menemaninya dirinya mempersiapkan pernikahannya. Tentu saja dengan senang hati aku menemaninya. Ah, rasanya seperti aku saja yang ingin menikah.

Seandainya kekasihku segera melamarku. Pasti saat ini aku sangat excited mempersiapkan semuanya. Ada satu hal yang janggal di diri sahabatku. Ketika aku bertanya siapa calonnya. Dia mengelak. Katanya aku bakalan tahu sendiri seiring berjalannya waktu.

Bak petir di siang bolong. Aku terkejut bukan main. Kekasihku datang ke rumah sambil menangis-nangis memohon maafku. Jujur saat itu aku sangat bingung dibuatnya. Dikeluarkannya sebuah undangan berwarna merah muda. Di situ tertera namanya.

Aku segera ingin memeluk kekasihku karena saat itu aku berpikir dia ingin memberikan surprise kepadaku dengan cara melamarku seperti ini. Namun, alangkah terkejutnya aku ketika membaca nama mempelai perempuannya. Namanya N. Mirip nama sahabatku. Itu namanya bukan mirip lagi melainkan benar. Ya Tuhan, mereka berdua akan benar-benar menikah.

Selama ini, aku dibohongi oleh mereka. Semua pertanyaan muncul di dalam benakku, "Kapan mereka berpacaran?” “Kapan mereka merencanakan semua ini?” Hatiku hancur saat itu juga.



Tak kusangka, kekasih yang aku percayai selama 8 tahun ini. Aku yang selalu menemaninya saat suka dan duka, bahkan aku orang yang dia bohongi selama ini. Pantas saja dia selalu menghindari pertanyaan, “Kapan menikah?”

Kenapa harus aku yang kalian bohongi? Dan untuk sahabatku, yang kutemani dia mempersiapkan pernikahannya dengan harapan suatu hari nanti aku juga akan seperti dianya menikah dengan lelaki pilihanku. Ternyata aku salah. Lelaki yang akan menikah bersama sahabatku itu ialah kekasihku sendiri. Lebih tepatnya mantan kekasihku dan lelaki pilihanku ternyata tak baik untukku.

Dia lebih memilih sahabatku ketimbang diriku selama ini. Biar pergi sajalah kalian. Tinggalkanlah aku sendiri di sini bersama harapan-harapan untuk menikah yang kian pupus. Terima kasih kepada kalian karena telah mengajariku rasa sakit yang amat dalam. Selamat berbahagia untuk kalian berdua walau hanya ucapanku yang datang menemui kalian.

(vem/nda)
What's On Fimela