Menikah Bukanlah Akhir Cerita, Tapi Awal Kisah Cinta yang Sesungguhnya

Fimela diperbarui 26 Sep 2018, 18:45 WIB

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Melaksanakan pernikahan itu merupakan impian bagi sebagian besar orang. Ada yang  mempersiapkan hari besar itu jauh-jauh hari dengan persiapan yang matang. Namun ada juga pernikahan yang dilaksanakan dengan persiapan waktu yang singkat karena berbagai alasan. Kalau pernikahan dilakukan dengan persiapan cuma 2 bulan itu mungkin masuk dalam kategori persiapan pernikahan yang singkat, termasuk saya salah satunya. Mulai dari ketemu jodoh sampai ke pernikahan saya merasa semua serba singkat.

Namun sebelum menceritakan suka duka saya mempersiapkan pernikahan, kendala yang pertama saya temui adalah jodohnya. Karena syarat utama pernikahan adalah mempelai pria dan wanita. Saya menemukan jodoh di umur yang terbilang matang, 29 tahun. Padahal sejak kecil saya bercita-cita menikah di usia muda setidaknya 22 tahun sudah menikah. Namun bagaimana lagi sudah kesana-kemari mencari jodoh tapi tak kunjung bertemu sampai pernah curhat sambil bercanda sama teman kalau ada wedding organizer yang sekalian menyediakan mempelai pria saya mau pakai wedding organizer tersebut.



Jodoh itu misteri, ibarat rezeki yang sering datang di waktu yang tak disangka-sangka. Di saat saya sudah putus asa dan pasrah, jodoh tiba-tiba hadir. Kami sudah saling tahu cukup lama, sekitar 2 tahunan, namun jarang sekali berkomunikasi padahal satu ruangan kerja. Mungkin dalam 2 tahunan itu bisa dihitung pakai jari kami berkomunikasi.

Tiba-tiba saja suami mengungkapkan ingin bertemu orang tua saya dan ingin berkomitmen dengan saya lewat pernikahan. Kaget? Sudah pastilah. Kalau lagi berkhayal ingin rasanya ada yang mau segera nikahin, trus menikah  punya anak dan hidup bahagia. Tapi saat menghadapi hal seperti ini antara kaget, bingung, ada senengnya juga, semua campur aduk jadi satu. Singkatnya tanggal 10 November 2016 saya menerima dan mencoba membuka hati untuk suami saya tersebut dan memulai yang kata orang namanya pacaran.

Kami berdua bekerja di Jakarta, dan orang tua kami kebetulan sama-sama tinggal di Jogja. Karena itu suami saya tidak bisa langsung bertemu dengan orang tua saya. Sebulan kemudian kami pulang ke Jogja, tanggal 14 Desember 2016. Suami akhirnya bertemu dengan kedua orang tua. Di sinilah drama-drama dimulai, awalnya saya berpikir itu hanya pertemuan keluarga dengan tujuan saling mengenal tapi ternyata saya dilamar. Waktu pernikahan diserahkan kepada kami berdua. Awalnya suami saya minta sebulan kemudian menikah, bulan Januari 2017, namun saya belum siap dan minta diundur sebulan berikutnya akhirnya disepakati tanggal 26 Februari 2017.



Nentuin tanggal nikah itu ribet juga, udah fixed tanggal itu, ternyata tanggal ini pun berubah lagi, senior di tempat bekerja menikahkan anaknya di tanggal yang sama tanggal 26 Februari 2017. Akhirnya jadi bahasan orang-orang kantor, kebanyakan pada pergi ke nikahan kami, mungkin sekalian jalan-jalan ke Jogja. Kalau kebanyakan pergi ke tempat kami, kasihan juga senior kami.

Kami akhirnya berunding kembali, suami juga kurang sreg awalnya, kenapa harus kami yang mengalah berganti tanggal pernikahan yang sudah ditentukan. Namun pada akhirnya kami menyepakati tanggal pernikahan dimajukan menjadi tanggal 19 Februari 2017. Beruntungnya, meskipun kami sama-sama berasal dari Jawa yang biasa dikenal dengan hitungan hari baik tetapi kami dan keluarga menganggap bahwa semua hari itu baik. Jadi dari keluarga menerima keputusan kami berdua.

Tak berhenti di situ, persoalan tanggal masih ada. Di bulan Januari 2017 suami menerima surat untuk mengikuti diklat 3 bulan dari bulan Februari – April 2017. Kalau tidak mengikuti diklat tersebut suami tidak bisa mengajukan jabatan fungsional. Dan diklat tersebut jadi syarat utama mengajukan jabatan fungsional dan hanya diadakan satu tahun sekali. Konsekuensi  kalau tidak mengajukan jabatan fungsional di tahun tersebut tunjangan suami diturunkan, lumayan jugalah pengurangannya sekitar Rp500 ribuan. Angka tersebut buat kami lumayan banyak dan membuat galau jadi nikah tanggal tersebut atau tidak.



Kalau tetap nikah tanggal tersebut sudah pasti ribet banget persiapannya karena di tengah diklat. Ribet ngurus izinnya dan banyak hal lain yang dipertimbangkan. Namun dengan segala pertimbangannya dan tekad menikah secepatnya, suami lebih memilih menikah dulu dan ikut diklat di tahun depannya. Jujur saya merasa bahagia, karena dia lebih memilih komitmen dia untuk menikah tanggal tersebut daripada materi. Karena diklat ini kan menyangkut pendapatan juga. Padahal ada jalan keluarnya mengundur waktu pernikahan setelah diklat, tapi dia takut terjadi apa-apa yang menggoyahkan niatnya untuk menikah tahun itu.

Persiapan pernikahan itu memang perlu waktu apalagi kami punya prinsip jangan sampai terlalu merepotkan keluarga. Urusan administrasi pernikahan baru dilakukan akhir bulan Januari karena kami ada waktu pulangnya hanya waktu tersebut.  Konsep pernikahan dari kecil saya memimpikan konsep pernikahan yang sederhana cukup ijab qobul di KUA dan kenduri sebagai rasa syukur dan mengumumkan kalau kita sudah menikah resmi secara agama dan hukum. Suami pun meng-yakan, tidak perlu adanya pernikahan yang seperti orang lain lakukan dengan adanya resepsi dan lain-lain.



Ternyata kenyataan tak sesimpel yang kami pikirkan. Saya anak perempuan satu-satunya dan anak pertama di keluarga. Akhirnya mengesampingkan keinginan saya dan memutuskan ada resepsi meskipun kecil-kecilan sesuai masukan dari keluarga. Menentukan konsep pernikahan dan mencari baju pengantin, make up, catering dan lain-lainnya dengan waktu dua bulan itu ternyata sangat mepet sekali. Baju pengantin sampai berkali-kali ganti konsep, saya cocok tapi suami tidak, belum lagi orang tua dan mertua.

Kalau sudah urusan orang tua atau mertua itu paling membingungkan, karena kami tidak ingin orang tua kami kecewa. Akhirnya konsep pengantin adat Jogja yang dipilih meskipun tidak semua prosesi adat dilaksanakan, hanya yang bagian-bagian paling penting saja. Hal ini karena perhitungan budget yang kami punya. Semua pengeluaran kalau bisa semua dari kami berdua. Kami tidak ingin membebani kedua orang tua, meskipun menikahkan anak merupakan tanggungjawab kedua orangtua kami. Jujur saya sampai pusing mengatur budget pernikahan ini, tabungan saya tidak besar jumlahnya. Dan akhirnya kami menikah dengan mahar seperangkat alat salat saja tanpa tambahan lainnya.



Tak hanya konsep pernikahan, hal-hal kecil kalau kami mendahulukan ego masing-masing akan berakhir dengan pertengkaran. Hal kecil seperti menentukan souvenir saja sempat ribut, namun akhirnya saya mengalah dan memilih pilihan suami. Nah, yang mungkin sering orang lain rasakan saat hari-hari terakhir menjelang pernikahan ada-ada aja kejadian. Mulai dari tiba-tiba mantan pacar suami yang tiba-tiba datang. Seakan-akan cerita mereka belum selesai, padahal dari versi suami saya cerita mereka sudah selesai sejak lama.

Deg-degan, galau dengan akhir ceritanya karena mantannya lebih dari saya dari segala hal. Lebih cantik, fashionable, badannya lebih bagus, dari keluarga berada dan masih banyak lagi. Alhamdulillah suami tak goyah dari niatnya dan menyelesaikan masalahnya dengan mantannya. Tak berakhir di situ, tiba-tiba saya mengetahui kelakuan buruk suami saya sebelum dekat dengan saya. Kalau saya tidak teguh dengan pendirian bisa saja hal ini membatalkan pernikahan kami. Namun saat itu saya bisa menerimanya dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu di masa lalu. Kalau saya melihat satu keburukannya dan tak melihat seribu kebaikannya itu tidak adil. Toh setiap manusia punya masa lalu, dan dia mau berubah untuk yang lebih baik. Saya pun bukan orang yang sempurna pasti punya banyak kekurangan.

Akhirnya setelah melalui berbagai hal, pada tanggal 19 Februari 2017 pada pukul 09.00 WIB kami sah secara agama dan hukum dengan mahar seperangkat alat shalat dibayar tunai. Menikah itu bukan akhir kisah percintaan tetapi awal dari kisah cinta yang sesungguhnya. Namanya bersatunya dua orang yang berbeda pasti tak semudah mempersatukan kedua tangan. Perbedaan pendapat dan cara pandang pasti ada, asal kita mau mendiskusikan dan tidak mendahulukan ego masing-masing masalah bisa diselesaikan bersama. Berbicara menggunakan hati dan mau lebih mengenal kepribadian pasangan. Sampai sekarang saya menganggap suami adalah teman hidup dan teman berbagi.  




(vem/nda)
What's On Fimela