Lepas Karier untuk Jadi Ibu Rumah Tangga Sepenuhnya Tidaklah Mudah

Fimela diperbarui 12 Apr 2018, 13:45 WIB

Hidup memang tentang pilihan. Setiap wanita pun berhak menentukan dan mengambil pilihannya sendiri dalam hidup. Seperti cerita sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Menulis April 2018 My Life My Choice ini. Meski kadang membuat sebuah pilihan itu tak mudah, hidup justru bisa terasa lebih bermakna karenanya.

***

Menjadi wanita karier sepenuhnya dan memutuskan untuk tak terlalu pusing soal menikah adalah satu-satunya keputusan besar yang saya ambil lima tahun yang lalu. Keputusan ini tak luput pula dari cibiran banyak orang mengenai wanita sebaiknya segera menikah selagi masih muda, dan ukuran wanita muda kala itu adalah rentang usia 20 – 25 tahun. Namun sayangnya, pada rentang usia itu, saya harus mengalami masalah percintaan yang memilukan sehingga saya berani membulatkan tekad bahwa saya tak harus menikah secepat itu.

Jujur saja, menyibukkan diri menjadi wanita karier dengan profesi yang bisa membuat saya keliling Indonesia mengunjungi tempat-tempat indah adalah pilihan paling tepat kala itu. Luka yang sempat menganga karena harus mengakhiri hubungan serius yang terjalin selama delapan tahun perlahan memudar dan bahkan hilang. Bagi saya, salah satu cara mensyukuri hidup adalah dengan menikmati apa yang telah diputuskan.



Meski saya sibuk dan menjadi wanita karier yang bahagia, namun ada kalanya hati yang sedang kosong ini rindu untuk diisi kembali. Ada pipi yang rindu untuk merona ketika bertemu dengan pujaan hati, ada senyum yang rindu untuk diberikan kepada sang belahan jiwa, dan ada cerita-cerita kehidupan yang rindu untuk dibagikan dengan sesosok bernama lelaki.

Saya pikir menjadi wanita “bebas” sepenuhnya akan membawa kebahagiaan yang utuh untuk kehidupan saya, namun ternyata ini salah. Tuhan benar bahwa setiap manusia memang diciptakan berpasangan dan mereka disunahkan untuk menyempurnakan separuh agama. Menginjak usia yang sudah memasuki 28 tahun, saya pun mulai kembali memikirkan hal itu.



Saya mencoba membuka kembali pintu hati untuk seorang lelaki dan gayung bersambut, saya bertemu dengan ia yang sudah langsung menyatakan keseriusannya untuk menikah. Dengan kuasa Tuhan yang bisa membolak-balikkan hatiku, maka saya memutuskan untuk berkomitmen ke jenjang yang lebih serius. Lelaki ini adalah lelaki yang benar-benar saya butuhkan. Ia membimbingku untuk menjadi pasangan dunia-akhirat. Ia juga tak membatasi mimpi-mimpiku sewaktu masih melajang dulu. Saya pun tak sungkan mengatakan padanya bahwa saya ingin tetap bekerja meski sudah berumah tangga dan nanti apabila sudah punya buah hati. Dan ia pun mengabulkan keinginanku.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Tuhan mempercayakan keturunan lebih cepat dari perkiraan kami. Kami bahagia meski PR untuk rumah tangga kami masih begitu banyak terutama tentang kesiapan finansial. Ya, memang benar kata semua orang. Menikah adalah membuka lembaran baru yang jauh lebih menantang daripada kehidupan sebelumnya. Salah satunya adalah sesaat setelah kami memiliki anak. Kebahagiaan yang kami rasakan diikuti oleh banyak perubahan yang terjadi dan mungkin akan terjadi nanti. Karena kami belum menemukan rumah yang pas, dan kedua orang tua kami tak bisa sepenuhnya dipasrahkan begitu saja untuk merawat si kecil, maka sebuah keputusan pun sempat dibuat. Bila nanti keadaannya tak memungkinkan, maka saya sebagai wanita harus mengalah untuk melepaskan predikat wanita karier dan berubah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.



Keputusan ini sempat mengguncangku, namun hari-hari selama cuti panjang yang saya habiskan dengan si kecil telah membuatku lebih jatuh cinta dengan malaikat kecil ini daripada karir istimewaku. Meski tak kutampakkan kesedihan ini pada suamiku, namun ia tahu apa yang tengah mengganjal hatiku. Ia pun berucap bahwa bila Tuhan memberi rezeki untuk saya bisa berkarier kembali, maka hal tersebut bukanlah hal yang tak mungkin. Saat ini, berbesarlah hati untuk berada di rumah sepenuhnya untuk mengurus keluarga kecilmu. My life is my choice, semoga keputusan untuk mengesampingkan mimpi-mimpiku demi keluarga kecil ini berbuah manis.



(vem/nda)
What's On Fimela