Pria Posesif yang Sudah Melanggar Privasi Itu Membuatku Jadi Wanita Bodoh

Fimela diperbarui 14 Mei 2018, 18:45 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Kisah ini kira–kira 4 tahun silam, tepatnya tahun 2014. Untuk menjalin hubungan jarak jauh (long distance relationship)mungkin sangatlah sulit. Saya yang berada di Jakarta dan kekasih saya berada di Kalimantan, awal kenal ketika diperkenalkan oleh salah satu sahabat saya.

Waktu itu saya bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, dan kekasih saya bekerja di perusahaan tambang yang tugasnya di Kalimantan, (tepatnya di Pangkalanbun). Selama 8 bulan kami pacaran jarak jauh, dan selama pacaran 8 bulan kami baru bertemu 4 kali dan suatu hari kami ada niatan untuk menjalin hubungan serius ke jenjang pernikahan. Waktu itu usia saya 24 tahun dan kekasih saya 29 tahun. Di usia saat itu saya sangat ingin sekali menikah karena sahabat–sahabat saya juga berencana menikah.

Mungkin karena dijanjikan akan menikah saya menjadi wanita yang penurut. Semua yang saya lakukan saya harus lapor kegiatan saya seharian kepada kekasih saya. Kebetulan dengan pekerjaan saya sebagai sekretaris yang selalu mendampingi atasan saya meeting ke luar kota membuat dia resah, padahal atasan saya seorang ibu–ibu (yang sudah lumayan berumur dan seperti ibu saya sendiri).

Singkat cerita dia meminta kalau saya sedang meeting dan berada di luar kota harus foto bersama bersama atasan saya (agak sedikit risih sih tapi atasan saya memaklumi). Dan suatu hari dia pulang ke Jakarta, saya dikenalkan kepada keluarganya, ibunya sangat baik sekali dan dia mempunyai 2 kakak laki-laki.

Dia bercerita kepada ibunya bahwa ada rencana menikahi saya di tahun 2015, dan ibunya menyukai saya. Dan ketika kekasih saya tidak di rumah pun saya rajin berkunjung ke rumah dia bertemu dengan ibu dan kakak–kakaknya (saya memasak buat mereka).

Lamban laun, mungkin saya termasuk wanita yang bodoh karena jadi makin penurut. Tanpa saya sadari kekasih saya minta dibeliin ini itu dan minta ditransferin uang, ya saya pikir saya harus membantu karena mungkin sebelum berumah tangga saya harus mulai belajar membantu suami. Dan saya tidak berpikir yang aneh–aneh. Suatu ketika setiap dia menelepon dia minta diceritakan kegiatan seharian dan dia menanyakan hari ini ada yang menelpon kamu. Bapak ini siapa… Ibu ini siapa… terus yang SMS kamu ini siapa, itu siapa. Saya kaget dia tahu semua isi panggilan masuk dan keluar, semua SMS, dan media sosial saya, saya tidak bisa membukanya, ternyata HP dan media sosial saya disadap/hack oleh kekasih saya. Di situ saya mulai menyadari privasi saya sudah dikendalikan oleh dia. Saya sempat marah tapi ya sudahlah saya berpikir dia akan menjadi suami saya.

Suatu saya ada yang SMS saya mengajak kenalan, dia telepon tidak saya angkat dan dia SMS dan BBM saya terus tidak saya respon, dan akhirnya saya bilang, "Saya sudah punya pacar, jangan ganggu saya." Entah kenapa dia tidak berhenti mengganggu saya, dan karena isi HP saya sudah disadap oleh kekasih saya, dia pun bertanya itu siapa, saya pun bilang saya tidak mengenal dia.

Entah kenapa kekasih saya marah besar dan menuduh saya berselingkuh dan tiba–tiba saya diputusin via telp. Tidak terbayangkan posisi saya waktu itu yang bingung tiba–tiba saya diputusin. Saya telepon kekasih saya tetapi tidak diangkat dan SMS tidak dibalas. Satu bulan saya tidak dihiraukan sampai saya ada niatan ingin menyusul dia ke Kalimantan, tapi jujur saya takut berkunjung ke daerah sana. Akhirnya saya mengurungkan niat saya. Berjalannya waktu sudah dua bulan saya dihantui rasa kebingungan. Dan selama kejadian diputusin, lelaki yang mengganggu saya tiba–tiba tidak mengganggu saya lagi.

Dan tepatnya Februari 2015, saya mendapat kabar bahwa kekasih saya akan menikah. Saya merasa seperti wanita bodoh sebodohnya. Ternyata selama di Kalimantan dia mempunyai kekasih dan lelaki yang mengganggu saya yang mengajak kenalan adalah skenario dia supaya kami berpisah. Hancur hati saya dipermainkan, sumpah waktu itu saya merasa dendam dan saya berjanji tidak akan memaafkan dia selama hidup saya. Saya sampai menangis bertemu ibunya, tapi apa daya ibunya tidak bisa berbuat apa–apa, malah ibunya meminta saya untuk menikah dengan salah satu kakaknya (menurut saya itu adalah hal yang gila dan saya tidak bisa berkata apa-apa).

Setelah dari kejadian itu saya menjauh dari keluarga dia, tetapi mantan kekasih saya berusaha meminta maaf kepada saya, tapi hati saya terlalu hancur dipermainkan oleh dia. Saya bersumpah tidak akan meminta maafkan dia. Tetapi suatu ketika ibunya menelepon saya meminta saya memaafkan mantan kekasih saya dan berharap saya datang ke pernikahan dia yang akan digelar di Lombok. Hati saya menangis ketika ada seorang ibu meminta saya harus memaafkan anaknya.

Dan suatu hari saya berpikir saya tidak mau menjadi wanita yang jahat, kalau memang saya tidak jadi menikah dengan mantan kekasih saya berarti memang kita tidak berjodoh. Saya luaskan hati, perasaan saya dan membersihkan hati dari perasaan dendam dan benci, akhirnya saya memaafkan mantan kekasih saya, tetapi saya tidak sanggup apabila menghadiri pernikahan mereka.

(vem/nda)
What's On Fimela