Sukses

Beauty

Studi Mengungkapkan 84% Gen Z Global Peduli Sustainable Beauty, Tapi Kebiasaan Daur Ulang Masih Tertinggal

Fimela.com, Jakarta - Kesadaran akan pentingnya kecantikan berkelanjutan kini semakin meningkat, terutama di kalangan Gen Z. Hal ini terungkap dari survei terbaru yang dilakukan oleh British Beauty Council bekerja sama dengan UNiDAYS, yang melibatkan 3.533 mahasiswa untuk memahami sikap mereka terhadap sustainable beauty.

Hasilnya cukup menarik. Sebanyak 84% responden Gen Z mengaku mempertimbangkan aspek keberlanjutan saat membeli produk kecantikan, bahkan 78% di antaranya aktif mencari brand yang menerapkan prinsip ramah lingkungan. Ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin selektif dan sadar akan dampak konsumsi mereka.

Melansir theindustry.beauty, di balik angka tersebut, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Hanya 56% responden yang selalu mendaur ulang kemasan produk kecantikan mereka, sementara 27% hanya sesekali melakukannya. Lebih mengejutkan lagi, 26% responden bahkan belum menyadari bahwa sebagian besar kemasan produk kecantikan sebenarnya bisa didaur ulang.

Faktor insentif juga terbukti berpengaruh besar. Sebanyak 86% Gen Z mengaku akan lebih terdorong membeli produk berkelanjutan jika ditawarkan keuntungan seperti diskon, poin loyalitas, atau kredit toko. Ini menjadi sinyal kuat bagi brand untuk tidak hanya menghadirkan produk ramah lingkungan, tetapi juga strategi yang relevan untuk menarik minat konsumen muda.

Kotak Daur Ulang Alat dan Kemasan Kecantikan

Temuan ini juga menjadi latar belakang kembali digelarnya kampanye tahunan The Great British Beauty Clean Up (GBBCU) oleh British Beauty Council. Kampanye ini hadir untuk mendorong kebiasaan daur ulang, program pengembalian kemasan (take-back scheme), serta berbagai inisiatif keberlanjutan lainnya di industri kecantikan.

Berlangsung sepanjang bulan Maret, kampanye ini bertepatan dengan Global Recycling Day dan International Day of Zero Waste. Salah satu inovasi utama tahun ini adalah peluncuran kotak daur ulang khusus hasil kolaborasi dengan MYGroup.

Kotak ini dirancang sebagai solusi “zero landfill dan incineration”, yang mampu menampung berbagai jenis limbah kecantikan yang sulit didaur ulang, seperti compact powder, tube maskara, pompa produk, hingga limbah berbahaya seperti foil rambut bekas. Nantinya, limbah tersebut tidak hanya didaur ulang, tetapi juga diolah kembali menjadi barang yang bermanfaat, seperti furnitur sekolah.

CEO British Beauty Council, Millie Kendall, menyebutkan bahwa kemasan kosong produk kecantikan memang sering kali sulit didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali. Karena itu, solusi praktis seperti ini diharapkan dapat mempermudah konsumen sekaligus memberikan dampak nyata.

Tak hanya fokus pada daur ulang, kampanye ini juga mengajak brand untuk lebih aktif mempromosikan produk reusable dan refillable, guna mengurangi budaya sekali pakai. Selain itu, perusahaan juga didorong untuk bekerja sama dengan organisasi seperti Beauty Banks, The Hygiene Bank, dan In Kind Direct dalam mendistribusikan produk yang masih layak pakai.

Stok berlebih, produk discontinued, atau item dengan kemasan yang sedikit cacat kini bisa dijual atau didonasikan, alih-alih berakhir di tempat pembuangan.

Chief of Policy & Sustainability British Beauty Council, Victoria Brownlie, menegaskan bahwa industri kecantikan masih memiliki pekerjaan rumah besar. Mengingat industri ini menyumbang sepertiga dari total limbah landfill, pendekatan daur ulang saja tidak lagi cukup.

Pada akhirnya, sustainable beauty bukan hanya tentang pilihan produk, tetapi juga perubahan kebiasaan. Dan Gen Z, dengan segala potensinya, bisa menjadi kunci perubahan tersebut. Di Indonesia bisa mengikuti cara ini untuk lebih peduli dengan lingkungan. Apalagi setiap hari kita menggunakan skincare dan makeup. 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading