Perceraian sangatlah menyedihkan, tetapi ada lagi yang lebih menjengkelkan: menjadi janda. Janda, apa lagi janda muda, banyak mendapat cibiran dan status sebagai perebut suami orang. Stereotype ini yang terkadang memuakkan. So, let’s talk about it, dan mari berusaha untuk mampu memahami posisi mereka sebelum menghakimi.
Menurut suite101.com, ternyata ada beberapa cara untuk para janda “bertahan hidup”. Pertama, mereka akan hidup dengan kelompok mereka sendiri. Para janda muda, misalnya, cenderung untuk memiliki komunitas sendiri. Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga memiliki teman yang lebih tua dari mereka. Dengan begitu, mereka bisa bertahan atas luka yang mereka dapatkan.
Kemudian, mereka yang menjadi janda ketika maish memiliki anak kecil akan bertahan hidup dengan mengantarkan anak-anak mereka pergi ke sekolah. Anak itu akan mengingatkan mereka kepada sang ayah, begitu pula perayaan hari Ayah.
Selain itu, mereka juga akan mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan baru bila mereka memiliki anak kecil, karena kekasih mereka harus bisa mengambil hati si kecil terlebih dahulu.
Lalu bagiamana cara mereka menghadapi stigma masyarakat? Menjadi janda ketika muda, terutama apabila janda mati, adalah hal yang sangat sulit, karena kaum muda masih sedikit individual. Sebagai gantinya, mereka akan mengencani duda dengan kondisi yang sama dengan mereka. Tidak hanya itu, mereka juga harus hidup dalam cercaan masyarakat mengenai kematian suami mereka atau perceraiannya. Hal ini yang membuat merek terus dikelilingi rasa sedih.
Terakhir, mereka tiba-tiba tumbuh menjadi seorang single fighter karena dunia mengharuskan. Mereka yang dulu bekerja untuk diri mereka sendiri, sekarang bekerja untuk keluarganya. Dia menjadi ibu dan ayah bagi keluarganya.
Bagaimana, Ladies? Itulah hidup menjadi janda muda.
Oleh: Dimas Galih Wijaya
(vem/rsk)