Ladies, sudah mencoba browsing kasus-kasus Zoofilia? Memang terdapat beberapa artikel dalam Bahasa Indonesia, tapi ladies, artikel itu hanya memberitakan kasus hubungan seks manusia dengan hewan yang terjadi di luar negeri.
Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Yah, di Indonesia memang masyarakatnya masih tertutup soal kehidupan seks dan cenderung tidak melihat kelainan seks sebagai objek studi yang menarik. Kalau pun memang ada, mungkin hanya di kalangan akademik saja, Ladies. Di media populer, tema macam itu diekspos dari sisi yang benar menurut kebanyakan orang saja.
Perlu diingat, ladies, kalau zoofilia berbeda dengan bestiality. Bestiality kebanyakan adalah kata kunci yang merujuk pada situs-situs porno 'sakit' di Internet. Sedangkan kata 'Zoophilia' akan merujuk pada artikel-artikel tentang penderita kelainan seks tersebut.
Para zoofilis yang tersangkut kasus kriminal memang banyak. Hukum yang dipakai untuk menjerat mereka, kebanyakan adalah hukum yang didasarkan hak perlindungan hewan.
Bagaimana jika menemui penderita kelainan seks zoofilia? Yang pertama harus Ladies lakukan adalah jangan mendiskriminasikannya! Sikap benci, mengucilkan, hanya akan menjatuhkan penderita kelainan seks seperti itu. Alih-alih sembuh, si penderita malah membenci semua orang karena dia merasa terkucilkan.
Tindakan mengkucilkan tidak membantu apa-apa, Ladies. Dan juga sangat tidak berpendidikan. Daripada mengambil tindakan seperti itu, lebih baik, Ladies segera kontak psikiater yang Ladies kenal.
Sarankan si penderita untuk menemui psikiater. Menurut rightdiagnosis.com, Ladies, ada beberapa terapi yang mungkin dilakukan untuk penderita zoofilia.
Terapi-terapi itu adalah: Psikoanalisis, Hipnosis, Terapi Behavioristik, Terapi Kognitif, atau terapi obat. Semua itu bisa dilakukan hanya oleh psikiater.
Nah, ladies. Jangan bertindak gegabah ya kalau menghadapi penderita kelainan seks zoofilia, karena mungkin hanya anda lho yang bisa diandalkan oleh si penderita.
Oleh: Sahirul Taufiqurrahman
(vem/rsk)