Menanamkan Budaya Disiplin Pada Anak

FimelaDiterbitkan 29 April 2015, 11:33 WIB

Budaya kedisiplinan berkaitan erat dengan kehidupan sosial di masyarakat, menurut seorang psikiater, Michael Brody, MD. Namun, mengontrol kebiasaan anak juga bukan hal sepele. Seringkali anak diliputi dengan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga membuat anak bersikap di luar yang sewajarnya.

Ketika berbicara mengenai pola mendisiplinkan anak sejak dini, hal tersebut juga tidak dapat dilakukan seperti halnya memainkan sulap atau membalikkan telapak tangan. Untuk merealisasikannya, seperti yang dilangsir dari www.m.webmd.com , dibutuhkan beberapa langkah dimana para orang tua harus dengan konsisten memegang teguh prinsip-prinsip tersebut.

Pertama, mulailah dengan prinsip ‘reward and punishment’. Dengan demikian, tolak ukur yang digunakan adalah perilaku baik dan perilaku tidak baik dari anak. Misalnya, mulai dari kebiasaan anak mengompol. Tentu, hal ini tidak bisa dibiarkan tapi terkadang juga sulit diubah. Meskipun demikian, Bunda sebaiknya menerapkan aturan baku yang mengharuskan anak untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu agak anak tidak ngompol, misal harus ke kamar mandi sebelum tidur atau tidak minum banyak sebelum tidur, dan sebagainya. Metode ‘pemaksaan’ dan penegasan aturan yang benar kepada anak mau tak mau harus dilakukan.

Memberikan hadiah tidak selalu dengan barang lho, Bunda. Pujian dan ucapan apresiatif juga merupakan bentuk dari reward. Namun, bukan berarti harus memberikan hadiah kepada anak setiap kali mereka melakukan tindakan yang baik ya Bunda, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan kebiasaan buruk terhadap anak, bukannya menumbuhkan kesadaran anak. Berikan penjelasan logis mengenai alasan dilarang dan diharuskannya sesuatu hal. Dengan begitu, anak secara perlahan akan mengerti dan mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan baik seperti apa yang diajarkan.

Nah, langkah berikutnya adalah tidak mencla-mencle alias tidak berubah-ubah ketika memberikan instruksi. Dengan begitu, anak pun tidak bingung ketika akan melakukan sesuatu yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Namun, yang harus selalu diingat, menurut seorang psikiater anak dan remaja di American Academy of Child and Adolescent, apa yang disampaikan orang tua tidak seharusnya terlalu bertolak belakang dengan apa yang anak harapkan. Bersikap terlalu keras kepada anak juga tidak baik karena hanya akan membuat anak merasa takut, kurang percaya diri, dan minder. Bahkan, efek akhirnya jika anak sudah terlalu bosan dengan aturan yang terlalu keras, mereka tidak akan mau mendengarkan orang tua lagi dan bisa jadi mulai berani membantah orang tua. Ingat, tegas bukan berarti keras ya, Bunda, Bersikap strict pada aturan bukan berarti juga tidak bisa toleransi pada anak. Sudahkah Bunda melakukan hal tersebut?

Mendidik anak menjadi anak-anak yang baik dan nantinya dapat bermanfaat dan berperilaku mulia di dalam masyarakat merupakan impian semua orang tua. Segala pelatihan kebiasaan juga harus dilakukan sedari kecil dan dimulai dari keluarga. Bagi para orang tua, melakukannya pun tentu tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak bisa kan Bunda? Jadi, menjadi orang tua yang cerdas adalah awal tumbuhnya generasi yang cerdas pula.

Oleh: -tyz-

(vem/ver)
What's On Fimela