Menjadi Mahasiswa Rantau, Harus Punya Keberanian Berjuang Sendiri

Endah Wijayanti diperbarui 28 Mei 2019, 12:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Ersa Pasca Dwi Nurlayla - Salatiga

Perkenalkan, aku seorang mahasiswa rantau yang tak lain seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. Datang ke tanah ini dengan membawa sejuta mimpi dan berambisi mencoba mewujudkan. Terdengar klise memang, namun perjuangan bisa sampai di titik inilah yang justru orang lain tidak ketahui. Di sinilah kita diuji untuk bisa menghargai setiap proses yang telah dicapai. Satu hal yang terus aku ingat bahwa kebahagiaan bukan di saat kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Namun, seberapa jauh kita bisa bersyukur pada Tuhan dan menikmati setiap prosesnya.

Inilah sedikit kisahku yang bisa bagikan pada kalian.

Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh perjuangan untuk bisa mendapat satu kursi di sini. Sudah tak terhitung lagi tangis dalam setiap doa, seberapa perih usaha yang dikeluarkan, dan banyak waktu yang dikorbankan. Hingga aku bisa duduk sebagai mahasiswa di “kampus kuning” ini. Hanya saja segala pencapaianku ini kurang dihargai oleh orang di sekitarku, bahkan keluargaku sendiri. Sesuai dengan tuntutan mereka, aku sudah mengikuti apa yang mereka mau. Untuk bisa menjadi anak yang berguna, membanggakan, dan hanya sesimpel ini tekadku saat itu.

Bahkan di saat aku berjuang pun, kurang rasanya dukungan dari mereka. Entah mengapa aku merasa hanya berjuang sendiri saat itu. Direndahkan dan dibandingkan dengan saudaraku sendiri di depan banyak orang bukan satu hal yang aneh lagi didengar setiap hari. Terus dengan tekadku bisa menjadi anak berguna aku berusaha sendiri. Namun di lain sisi, masih banyak teman temanku yang peduli menolongku di saat jatuh, yang selalu memberi dukungan moral untukku. Merekalah yang menjadi keluargaku saat itu.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Terus Berjuang yang Terbaik

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Tuhan terima kasih Kau masih memberikan orang-orang yang peduli dan ada saatku lemah. Sungguh aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka. Tahun 2019, di saat kini aku menjadi mahasiswa rantau pun, jarang mereka menanyakan kabarku, pun itu hanya sesekali ketika aku mendekati ujian saja. Kakak yang masih berada di satu region meski berbeda kota denganku pun jarang menjengukku, apalagi menanyakan kabar. Namun lagi-lagi di tanah rantau ini, aku kembali menemukan teman-teman yang kuanggap seperti keluargaku sendiri. Merekalah orang-orang yang membuatku terus bersyukur dengan apa yang kumiliki, selalu bangkit jalani setiap harinya, dan tidak untuk berhenti berproses.

Mungkin ini salah satu cara Tuhan membuatku berproses. Aku diajarkan untuk bersyukur di setiap hal yang dilewati. Aku dibangun untuk memaafkan apapun. Aku mampu belajar ikhlas menerima keadaan yang ada. Aku dituntun belajar untuk menghadapi setiap permasalahan.

Hanya dukungan moral dan penghargaan dari setiap pencapaian yang aku punya saat ini. Aku tak berharap banyak dan tidak mengharapkan lebih dari itu. Aku sayang kalian.

3 dari 3 halaman

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA