Yang Sering Didoakan Bisa Makin Didekatkan

Endah Wijayanti diperbarui 15 Sep 2019, 16:14 WIB

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Desty - Makassar

120 Detik

Teruntukmu yang tak akan pernah bisa kugenggam. Teruntukmu yang senyumnya selalu mampu membuat jantungku seketika terhenti sejenak. Kehadiranmu dalam tulisan ini semata-mata hanya untuk meluapkan sesuatu yang mengganjal padaku, yang tak bisa kujelaskan dengan lisan pada mereka dan terlebih padamu.

Mengawali cerita kita, pertemuan tak terduga waktu itu benar-benar membekas hingga mulut yang dulunya mengatakanmu biasa saja mendadak berulang-ulang memujimu. Hingga mata yang dulunya tak ingin berlama-lama menatapmu tiba-tiba saja hanya terfokus pada satu titik, tentu saja pada senyumanmu dari kejauhan. Ya, ini sangat konyol. Sejak kapan wanita sepertiku memikirkan lagi untuk jatuh cinta.

Setelah berakhir tragis karena perselingkuhan yang dilakukan mantanku 3 tahun silam, hati ini dingin menuju beku ketika lelaki datang untuk mengetuknya. Rasa trauma dan tentu pandangan bahwa semua lelaki itu sama saja, menjadi penyebab utama aku masih sendiri hingga kini. Namun, semuanya buyar, aku mendadak amnesia bahwa aku pernah mengatakan tak lagi ingin mencintai siapapun. Ini semua karena dua menit sore hari kala itu.

Kamu hanya butuh waktu dua menit untuk membuatku jatuh cinta.

Hanya sesingkat dan secepat itulah tatapan matamu mengubah segala prinsip kuat dalam hidupku. Prinsip bahwa aku tak akan pernah percaya lagi pada lelaki selain ayahku, kakak, adik, dan sahabat lelakiku. Bahwa aku tak akan pernah memberikan hatiku pada lelaki secepat aku memberikan hatiku dulu pada mereka yang dengan mudah menyakitiku. Bahwa aku tak akan pernah percaya lagi dengan hubungan yang akan berakhir bahagia. Dan bahwa aku tak akan pernah jatuh cinta lagi. Demi apa pun, semua itu terbantahkan olehmu hanya dalam waktu singkat.

Hari berganti minggu, hingga menjadi bulan. Tak terasa sudah beberapa bulan aku memendam perasaan ini sendirian. Melalui hari-hariku seperti biasanya, memujamu dalam jarak dekat tapi terasa jauh.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengagumimu

ilustrasi./Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash

Seperti biasa, aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai mahasiswa. Aku yang tengah berjalan menuju kampus mendadak menangkap sosokmu. Melihatmu dari jauh, menatapmu seksama bersama angin yang sejuk dipagi ini. Langkahmu pasti ketika berjalan menyusuri jalan yang dilalui orang banyak tiap harinya.

Caramu berjalan, sikap cuekmu bahkan senyummu benar-benar membuatku tak berkutip sekata pun pagi ini. Mengawasi gerak-gerikmu perlahan, kadang mataku menangkap jelas dirimu dan kadang tidak sama sekali. Beberapa kali aku selalu merasa bahwa takdir ingin kita bertegur sapa. Buktinya pertemuan tak sengaja, tatap mata mendadak yang kadang berselang lama, dan caramu tersenyum ketika menatapku. Dari kesemua itu, pikirku memusat pada takdir yang seakan benar-benar ingin kita saling mengenal tanpa terhalang oleh apapun.

Saat berada di kampus aku merasa bahwa waktu memaksaku untuk menyibukkan diri dan ini sedikit menyita kesempatanku untuk menatapmu diam-diam. Hatiku kesal ketika kelas akan dimulai pada siang menjelang sore hari, itu berarti aku tak dapat mengambil kesempatan untuk ke rumahmu, sekadar beli minuman misalnya. Sepertinya aku tak ingin melewatkan sedetik pun untuk mengetahui apa saja yang kamu lakukan seharian ini.

Hingga sore hadir dengan kekejamannya, sore hari sepertinya selalu enggan mempertemukan kita kala kemunculannya datang. Entah sudah berapa kali aku tak dapat menemukanmu ketika sore hari, padahal itu adalah waktu penutup untuk melihatmu sebelum senja hadir mengiringi malam.

Kuarak badanku, diriku dan hatiku yang tengah dipenuhi kemurungan untuk pulang. Beristirahat dan menunggu waktu menghadirkanmu kembali di kala esok terbit. Seperti itulah kira-kira rutinitasku dalam mengagumimu setiap harinya, itu semua terjadi setiap hari dalam waktu yang lumayan lama, mungkin sudah 3 bulan.

Ketika malam hari, aku kadang memikirkan sesuatu yang jauh untuk dijangkau. Memikirkan mengapa perasaan macam ini tumbuh kepada seseorang yang sama sekali tidak kukenali sebelumnya, yang belum jelas kelakuannya apakah akan lebih baik dari yang sebelumnya atau bahkan lebih buruk. Memikirkan bagaimana caranya membuatmu mengerti dari beberapa sinyal yang kuberi selama ini, bahkan kamu sudah beberapa kali memergokiku salah tingkah. Dan memikirkan bagaimana seandainya suatu saat ternyata kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku atau bahkan kamu sudah memiliki kekasih. Ketika sudah terlalu jauh membawa pikiran ini mengembara, pasti seketika akan muncul pesan ayahku waktu itu melalui mimpi sebelum aku bertemu denganmu.

"Pilihlah lelaki yang ketika kamu melihatnya, kamu langsung yakin." Almarhum ayahku berpesan seperti itu padaku dulu, saat aku tengah bimbang menentukan pilihan dari beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku. Dari ke semuanya, tak ada satu pun yang berhasil membuatku yakin, walaupun menurutku mereka hampir sempurna untuk dikatakan pantas. Aku mengenal mereka dengan baik dan begitu pun sebaliknya, lalu bagaimana denganmu? Aku tak mengenalmu sama sekali. Tapi mengapa justru aku merasakan pesan ayah kepadamu, hanya kepadamu saja.

3 dari 3 halaman

Terus Mendoakanmu

Ilustrasi./copyright: unsplash/pablo heimplatz

Saat sedang kusut begini seringkali aku ingin sekali mundur, ingin menyudahi cinta sepihak ini, tetapi hatiku menjerit tak terima. Aku bahkan sering memaki diriku, menghina diriku, mengatakan diriku tak tahu malu, tak pantas untukmu yang belakangan ku ketahui banyak disukai oleh teman kampus ku dan bahkan seniorku di kampus. Tapi hatiku selalu menguatkan, karena baginya cinta ini sudah sangat sempurna.

"Bagaimana kamu akan tahu perasaannya yang sesungguhnya jika kamu berhenti sekarang. Jika hatimu yang meminta, kumohon jangan berhenti. Salatlah, doakan jika seandainya dia jauh agar hatinya didekatkan olehmu. Mintalah dengan baik-baik kepada-Nya," bisik Sarah sahabatku ketika kegundahan ini hendak meruntuhkan fondasi yang sedari dulu telah kokoh.

Mulai saat itu, ketika aku salat aku selalu menyelipkan namanya. Meminta agar dipersatukan denganmu, meminta jika aku jauh agar Allah menjaga pandanganmu, meminta agar hati yang mungkin tidak menyukaiku berbalik menyukaiku. Dan yang paling sering adalah meminta jika kamu baik untukku semoga Allah dekatkan namun jika tidak maka dijauhkan dariku. Aku mulai mencari tahu apa saja doa-doa yang terbaik agar Allah menjaga dirimu untukku, hingga aku menemukan sebuah doa yang menurutku sangat baik.

Allahumma Inni As Aluka, Bi Haibati Adhamatika, Wabi Sathwati Jalaalika An Taj’ala Mahabbatii Fii Qalbii … [kemudian sebutkan namanya], Wa Alqil Mahabbata Wal Mawad Data Fii Qalbihi Wa Aththifhu, Alayya Bi Fadhlika Yaa Kariim.

Doa di atas selalu aku amalkan ketika selesai salat fardu dan tahajjud, kadang ketika aku mengingatmu, ketika aku tiba-tiba saja berpapasan denganmu aku selalu membaca doa diatas. Entahlah, rasanya sangat tenang ketika doa itu selesai kulantunkan dalam hati. Semoga yang membaca tulisan ini bisa mengamalkannya juga.

Beberapa bulan kemudian, hingga entah seperti apa aku harus menceritakannya, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk di HP-ku. Kucek profil nomor tersebut hingga mataku menemukanmu. Sungguh, aku loncat dari kasur waktu itu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan mengagumimu, aku bisa berkomunikasi dan berkesempatan mengenalmu lebih dalam.

Namun, kesenangan ini ternyata singkat saja, karena aku harus berjuang kembali. Menunggu dengan sabar dirimu memulai semuanya, karena sangatlah tidak baik jika wanita yang memulainya. Tapi hati ini rasanya tak pernah tenang, sudah hampir dua bulan tak ada kepastian sama sekali, hingga Allah memberiku keberanian untuk mengatakan semuanya padamu. Mengungkapkan bagaimana awal mula aku menyukaimu, bagaimana aku mengharapkan agar bisa mengenalmu, namun di akhir pesanku kukatakan bahwa aku tak berharap banyak dan tidak memaksamu untuk membalas perasaanku ini.

Setelah itu terjadi, jujur aku benar-benar takut. Aku takut semuanya berubah, sikapmu kepadaku, keramahanmu padaku dan bahkan aku takut kamu menjauhiku.

Ingin sekali kutarik kembali ucapanku saat itu, pikirku mengatakan bahwa ini kesalahan yang sangat fatal, ini akan menjerumuskanku menuju kegagalan, ah sangat malu jika ingin kuceritakan selanjutnya. Sebaiknya tulisan ini kusudahi dan cukup sampai di sini saja, jika kekuatan sanggup menguatkan jari-jariku mengetik kembali maka tak mungkin aku membiarkannya sampai disini saja.

Salam untukmu yang sangat indah untuk kumiliki.Oiya, tulisan ini kubuat pada bulan Mei tahun 2018 lalu ketika aku masih menjadi pengagum rahasiamu. Dan hari ini 2 Juli 2019, dengan perasaan yang dulunya tanpa berharap banyak, di sini dan saat ini juga ternyata sudah hampir setahun aku telah resmi menjadi kekasihmu.

"Terima kasih 120 detik yang sangat membekas Rabu sore kala itu. 16 September 2018 akan selalu mengingatkanmu bahwa aku mencintaimu."

#GrowFearless with FIMELA