Jangan Merasa Hidupmu yang Paling Menderita di Muka Bumi

Endah Wijayanti diperbarui 19 Okt 2019, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Chintia Daniati - Jakarta Barat

Bangun tidur, cek gawai, mandi, dan siap-siap berangkat kerja. Itulah kebiasaan sebelum berangkat kerja. Lain lagi jika aku mengurusi kucing-kucing di rumahku yang ingin dimanja. Itu bakal menguras waktuku untuk bisa tepat waktu ke kantor. Jika aku rewind apa sudah terjadi di kehidupanku, aku sangat bersyukur. Aku bisa survive di waktu-waktu tersulitku dan bisa berpikir maju.

Setiap manusia pasti punya masalah. Masalah itulah yang bisa membuat manusia bergerak dan tidak jalan di tempat. Di umurku sekarang yang mau menjelang 24 tahun ini, justru membuatku tidak percaya diri untuk melangkah. Lihat saja teman seusiaku yang sudah menikah, punya anak, sukses dengan karier dan bisnisnya, atau apa saja yang terlihat sangat maju membuatku takut untuk melangkah.

Beda dengan teman-teman lain yang sangat di-support orangtuanya untuk menikah, aku tidak terlalu. Aku merasa beruntung karena aku sangat bisa untuk menentukan ke mana aku akan melangkah dan kapan aku akan melangkah. Untuk apa pun yang terjadi dalam hidupku sebagai anak broken home, aku bisa bertahan bahkan melawan.

Aku di sini bukan untuk menjual cerita sedihku, bukan. Bahkan ini sama sekali tidak terlihat sedih, karena aku dikelilingi dengan orang-orang yang bertanggung jawab dan membuatku menjadi orang yang kuat. Aku rasa sudah capek dengan kebencian dengan keadaan yang berlarut-larut di dunia ini. Life is too short to spread negativity even hatred. Jadi aku lebih memilih untuk mencari hal yang belum pernah aku dapatkan di dunia ini. Aku bekerja dan masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Belajar mencintai diri sendiri.

 

 
2 dari 3 halaman

Mencintai Diri Sendiri dan Belajar Menerima Keadaan

Ilustrasi./Copyright pexels.com/@nguy-n-lam-196145

Aku pernah mencintai seorang pria dengan amat sangat segenap jiwa, tapi itu justru sangat menyakitkanku. Jadi aku pikir, aku harus menetralkan pikiran dan perasaanku dengan lebih banyak lagi bertemu orang, belajar hal baru, dan mengikuti perkembangan yang terjadi sekarang-sekarang ini.

Sejak bekerja, aku jadi punya banyak sekali daftar untuk jalan-jalan! Aku suka sekali traveling. Salah satu keinginan terbesarku, yaitu keliling dunia. Ketika aku masih sekolah, perjalanan terjauhku cuma kota Bandung. Maklum saja, waktu itu aku belum berpenghasilan dan merasa sangat tidak aman untuk pergi jauh.

Di dunia perkuliahan, perjalanan terjauhku yaitu Busan, Korea Selatan. Saat itu aku bisa mengikuti perlombaan paduan suara mahasiswa kampusku di sana dan juara dapat medali emas atas nama kampus. Bangga sekali rasanya. Aku bersyukur berkali-kali, hidup ini berharga sekali. Untuk saat ini, perjalanan terjauhku yaitu Bangkok, Thailand.

Aku bisa menjelajahi berbagai tempat wisata yang sangat unik. Itu semua adalah rewards untuk diri sendiri karena sudah bekerja keras fisik maupun pikiran. Aku suka sekali pergi ke tempat baru untuk belajar hal baru. Rasanya dunia ini luas sekali. Jika kita terpaku dan merasa tidak berarti, itu tidak ada apa-apanya. I’m very greatful.

Mencintai diri sendiri itu tidak sulit. Cukup tahu apa yang dirasa kurang, apa yang disuka, dan apa yang harus dijauhi. Misalnya, jika ada orang yang mengomentari penampilanmu di kantor. Ketika aku menggunakan lipstik yang beda dari biasanya dan dinilai pucat, lantas orang itu bukannya memberi saran harus yang seperti apa, malah bilang kalau lebih baik aku tidak usah menggunakan lipstik sama sekali. Atau ketika ada seorang temanmu yang memakai celana baru, lantas dinilai bahannya jelek oleh teman yang lain. Padahal diri sendiri pun tidak bertanya apa pendapat mereka soal penampilan kita, bukan? Tapi kenapa terlontar saja? Bayangkan jika kita sedang ada di titik rendah atau sedang dalam masalah, komentar seperti itu justru yang menambah rasa tidak nyaman yang ada.

Apa yang harus dilakukan? Aku sering sekali mendengar komentar-komentar yang sebenarnya tidak penting dan tidak harus diucapkan tapi malah terlontarkan dan membuat aku merasa down. Biasanya aku menangkis itu semua dengan bilang kalau itu memang pendapatnya saja. Aku suka aku yang seperti ini.

Aku juga sering mendengarkan pendapat orang yang baik buat aku. Akhir-akhir ini aku juga sering sekali menjadi tempat curhat. Namun, curhatnya di sini aku rasa menjurus ke hasutan. Bagaimana caraku menangkis itu semua dan tetap menjadi pribadi yang positif? Tentu saja tidak mudah. Aku lebih ke arah apa yang sudah semestinya kita terima.

3 dari 3 halaman

Terus Berproses Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Sebagai manusia, tentunya kita punya takdir yang berbeda-beda. Ada yang mendapat pekerjaan yang sangat banyak dan ada yang sedikit. Semua ada waktunya. Mungkin waktuku saat ini dalam porsi yang biasa saja. Besok? Tahun depan? Tidak bisa memastikannya sendiri.

Sebagai manusia, mungkin seringkali mengukur takdirnya harus seperti apa dan membandingkannya dengan orang lain. Itu hal yang manusiawi, tapi bagaimana cara mengubahnya. Apakah kita harus stuck dengan stigma yang ada atau terus mengeksplorasi kemampuan sendiri, itu masing-masing cerita.

Balik lagi, ketika semua hal yang hari itu aku alami dengan berat, aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Aku berdamai dengan keadaan yang sama sekali mungkin saat itu tidak berpihak kepadaku. Karena aku tahu, kesehatan mentalku adalah milikku. Kesehatan mental dan fisik sekarang adalah warisan untuk anak cucu kita kelak. Jika aku rewind lagi beberapa tahun ke belakang, sulit sekali untuk tidak menyesal. Kenapa harus terjadi? Kenapa harus terjadi padaku?

Kata seseorang, “Jangan merasa hidup loe paling menderita sedunia." Ini ada benarnya juga. Tapi, jika ada masalah yang sangat berat walaupun itu kecil, sebaiknya berbagilah. Ceritakan kepada orang-orang yang bisa dipercaya. Aku termasuk orang yang sering sekali menjadi tempat curhat orang lain. Ketika ada dua orang teman yang sedang marahan, lalu keduanya pun curhat padaku. Aku senang. Aku senang karena mereka percaya kepadaku. Bahkan aku yang tidak mudah percaya dengan orang lain. Aku yang selalu memendam, bahkan kadang aku menganggap masalahku tidak ada. Apakah itu adalah proses pendewasaan atau melarikan diri dari masalah? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku hanya ingin berbuat baik.

Aku suka menonton film. Aku suka nonton konser. Ketika weekend tiba, biasanya aku balik ke itu semua untuk meyakinkan kalau masih ada hal yang aku suka selain apa yang sudah ku dapat.

Aku sempat berpikir, apakah aku takut dengan kenyataan? Apakah aku takut akan perubahan? Apakah aku sudah terlalu nyaman dengan keadaan yang sekarang? Ketika aku sadar ternyata seperti ini menjadi orang dewasa, aku akan memilih menjadi anak-anak selamanya yang mempunyai dunia bermain dan imajinasi yang tidak akan merusak penciptanya sendiri. Tapi tidak, aku juga tidak bisa memutar waktu, bukan?

Sampai sini aku menyadari kalau menerima dengan lapang dada atas diri sendiri itu lebih baik. Karena jika bukan diri sendiri, siapa lagi? Aku menempatkan diri untuk menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan memandang apa pun dari berbagai sisi supaya tidak gampang berasumsi. Just do what you love and spread happiness. Toxic people are not allowed to enter your life.

#GrowFearless with FIMELA