Memperjuangkan Kesembuhan Anak, Menguji Ketegaran Hati Orangtua

Endah Wijayanti diperbarui 02 Jun 2020, 12:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Anna Fitri

Sama dengan yang dirasakan hampir semua muslim di dunia, Ramadan 1441 H adalah Ramadan yang istimewa. Ramadan tahun ini diliputi suasana keprihatinan karena adanya pandemi Covid–19 yang melanda dunia. Namun hal itu tentu tidak menyurutkan semangat kami dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Alhamdulillah puasa hari pertama berjalan lancar, termasuk untuk anak pertamaku yang berusia 12 tahun, Azkiya. Sudah beberapa tahun ini Azkiya bisa berpuasa sehari penuh tanpa keluhan apa pun. Alhamdulillah, kami syukuri, semoga bisa menjadi pembiasaan yang bagus untuk ke masa depannya nanti.

Sahur hari kedua, Azkiya hanya sedikit makan nasi, dilanjutkan minum susu. Setelah itu dia tidur lagi. Kubiarkan saja karena kupikir hanya mengantuk biasa. Azkiya tertidur lama. Sampai azan zuhur berkumandang, kubangunkan dia. Kusentuh badannya, Ya Allah, dia demam, panas sekali. Kami berusaha membangunkannya. Azkiya membuka mata, ingin bangun namun badannya kaku, tidak bisa digerakkan. Kami panik.

Segera berinisiatif membawanya ke puskesmas. Namun entah kenapa dokter merujuknya ke IGD rumah sakit terdekat. Kami semakin panik. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tak henti bibir kami berzikir dan berdoa. Sesampai di IGD, kami disambut para perawat dengan APD lengkap. Kami diberondong pertanyaan, apakah kami dari bepergian jauh, apakah ada sanak saudara datang dari luar kota, apakah ada keluarga terpapar Covid, ah Ya Allah. Kami tidak bepergian jauh, kami tidak kedatangan tamu luar kota, keluarga kami tidak ada yang terpapar Covid-19. Kami baik-baik saja. Kami tidak pernah sakit berat. Kami tidak punya riwayat penyakit apa pun. Kami tidak pernah dirawat di RS kecuali untuk melahirkan. Ya, ini kejadian luar biasa untuk kami.

Setelah diobservasi beberapa lama, akhirnya diputuskan Azkiya harus rawat inap. Demamnya sangat tinggi dan tensinya di bawah normal. Ya Allah di masa pandemi Covid-19 seperti ini, harus rawat inap. Kami takut ya Allah, tapi kami menurut kata dokter. Segera aku dan suami menyusun langkah apa saja yang harus diambil. Termasuk rencana menitipkan anak keduaku, Aqilla yang berusia 2 tahun ke simbah dan tantenya. Setelah mengurus administrasi booking kamar, Azkiya mendapat kamar, VIP. Seharusnya jatah Kami adalah Kelas I, namun karena penuh, Azkiya dititipkan di kamar VIP. Alhamdulillah. Kenikmatan di saat kegundahan Kami memuncak. Kamar luas, fasilitas lengkap, ada sofa dan bed untuk keluarga pasien, membuat kami sedikit tenang.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Kesembuhan Buah Hati Tercinta

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Sepanjang hari pertama dan kedua di rumah sakit, Azkiya terus menerus memejamkan mata, tidur. Tidak bisa minum apalagi makan. Namun air minum harus tetap masuk ke tubuhnya. Kuteteskan lewat bibirnya yang kering. Sedikit demi sedikit bisa masuk. Alhamdulillah. Kadang dia bangun, mengigau. Dia tidak ingat apa pun. Tidak bisa diajak berkomunikasi. Suamiku sedih sekali, hingga menangis menjumpai Azkiya seperti itu. Tapi kubesarkan hatinya, kubilang itu Azkiya seperti itu karena demamnya tinggi. Kalau demamnya turun, insyaallah Azkiya kembali seperti semula.

Hari demi hari berlalu. Tidak ada kerabat yang menengok, karena di tengah pandemi Covid-19, rumah sakit tertutup bagi pengunjung. Aku dan suami tetap berpuasa. Aku juga tetap WFH, mengajar siswa-siswaku melalui Pembelajaran Jarak Jauh. Kamar yang nyaman ini sangat membantu kami melalui hari-hari dengan cukup nyaman. Lima hari Azkiya dirawat di rumah sakit. Tidak ditemukan penyakit apa pun. Demamnya berangsur berkurang. Tensinya pun berangsur normal. Azkiya bisa berkomunikasi dengan baik kembali. Kami pun diizinkan kembali ke rumah. Alhamdulillah ya Allah. Kami bersyukur atas kesembuhan Azkiya.

Kami pun menjalani sisa Ramadan Kami dengan penuh syukur. Ramadan hari ke-12, Azkiya sudah bisa bergabung dengan kami menjalankan puasa. Kami tidak terlalu memaksanya. Biarlah kondisi tubuhnya membaik terlebih dahulu. Tetapi alhamdulillah, ternyata dia kuat menjalani puasa sampai akhir Ramadan. Terima kasih ya Allah, atas sedikit variasi berbeda di Ramadan kali ini. Ampuni Kami yang sering zalim kepada anak-anak kami. Mungkin ini sedikit pengingat supaya aku lebih lembut dan lebih sayang kepada Azkiya. Terima kasih untuk semua pertolongan dan kemudahan-Mu, ya Allah.

#ChangeMaker