Makna dari Tradisi Mitoni pada Masyarakat Jawa yang Perlu Diketahui

Gayuh Tri Pinjungwati diperbarui 05 Agu 2020, 16:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Tingkeban atau mitoni adalah salah satu tradisi dalam masyarakat Jawa. Berasal dari kata mitoni, yang berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Upacara ini dilaksanakan ketika usia kandungan memasuki 7 bulan kehamilan. Acara mitoni adalah sebuah doa agar calon ibu dilancarkan selama mengandung hingga melahirkan janin. Mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tua.

Pelaksanaan Upacara

Dalam pelaksanaan upacara tingkeban, perempuan yang sedang hamil 7 bulan dimandikan dengan air bunga setaman. Gayung yang digunakan terbuat dari batok kelapa. Siraman ini bertujuan untuk membersihkan secara lahir dan batin dari calon ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan. Calon ibu juga harus mengenakan 7 macam kain dengan berbagai jenis motif atau sering disebut dengan jarik, ini dilakukan 7 kali pada kain ke tujuh di jawab “pantes.”

2 dari 3 halaman

Memecah Kelapa

Ilustrasi/copyrightshutterstock/Filipusdeddy

Kelapa gading di gendong oleh calon nenek yang dibawa keluar untuk dipecah. Kelapa gading di gambari  tokoh wayang Kamajaya dan Kamaratih. Calon ayah harus memecah kelapa gading tersebut, jika mengenai gambar Kamajaya maka anak yang dilahirkan adalah laki-laki, jika mengenai bagian Kamaratih maka anak yang dilahirkan adalah perempuan. Tetapi ini hanyalah harapan saja.

Jual Rujak

Pada upacara ini, calon ibu membuat rujak di damping oleh calon ayah. Para tamu yang hadir dapat membelinya dengan menggunakan kereweng sebagai mata uangnya. Upacara ini bermakna supaya anak mendapat banyak rezeki dan juga bagi kedua orangtuanya kelak.

Nah, berikut tadi filosofi dari proses tingkeban yang dilakukan masyarakat Jawa pada umumnya.

3 dari 3 halaman

Cek Video di Bawah Ini

#Changemaker