Sahabat Sekolah akan Selalu Dikenang, meski Sudah Lama Tak Saling Sapa

Endah Wijayanti diperbarui 23 Feb 2021, 11:38 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  Imelda Anatasya

Hi Friends, semoga hari-hari kalian menyenangkan. Cinta sama orang tua itu pasti, pasangan apa lagi. Mencurahkan seribu kali cinta untuk sahabat? Enggak semua orang punya kesempatan buat punya sahabat, termasuk aku. 

Cerita ini di mulai waktu aku duduk di bangku kelas 10 atau 1 SMA. Aku punya kawan baru yang sudah dekat sejak masa orientasi, tapi aku juga punya teman yang dekat sejak SMP dan kembali bersama satu SMA. 

Aki ingat hari itu hari Rabu, karena aku piket hari itu. Kebetulan aku piket bersama dengan 2 orang sahabatku. Pagi itu adalah hari terakhir siswa menyerahkan data diri untuk daftar kartu anggota perpustakaan sekolah. Aku yang gemar membaca tak bisa melewatkan kesempatan itu. Tapi, aku lupa membawa formulirku kesekolah. Aku bergegas kembali ke rumah sebelum bel masuk berbunyi. Parahnya, jarak dari rumah ke sekolahku sangat jauh. Aku tak punya cukup waktu kalau harus piket dulu. Seizin kawan-kawanku yang piket hari itu, aku bolos piket dan langsung pulang kerumah. 

Aku kembali ke sekolah saat jam pelajaran pertama sudah dimulai. Tanpa tahu apa pun yang terjadi aku belajar seperti biasa. Tapi, seorang sahabatku tampak muram sejak pagi. Aku tak tahu dia kenapa. 

Saat jam pelajaran ke-2 dimulai, guru kami memberi tugas untuk merangkum sebuah topik dari buku apa pun dan kami digiring ke perpustakaan sekolah. Aku yang pergi paling akhir karena malas berdesak-desakan dengan 31 teman sekelasku bertemu sahabatku yang tengah murung itu. 

Dengan sangat hati-hati aku bertanya kenapa dia begitu tak bersemangat. Aku takut dia tambah tak mau banyak bicara saat aku ingin tau apa masalahnya.

"Aku benci sama A. Males banget ketemu dia."

A adalah sahabatku yang lain. Saat aku tanya kenapa, dia tak memberiku jawaban hingga aku pergi lebih dulu. Saat di perpustakaan, untuk membantu perselisahan kedua sahabatku itu aku mencoba mengajak A bicara. Sialnya, tak cuma A yang dengar.

2 dari 2 halaman

Persahabatan yang Takkan Aku Lupa

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku mencoba menyelamatkan mereka tanpa tahu apa pun. Setelah jam istirahat berakhir, aku secara tiba-tiba dibentak si murung. Aku bertambah bingung saat itu. Aku pikir dia tak suka aku banyak bertanya. Tapi dugaanku ternyata salah. Kini kedua sahabatku itu megira aku ingin memisahkan mereka dengan berkata yang bukan fakta. 

Aku tak bisa berkata apa pun di hadapan semua orang termasuk wali kelas dan guru BK-ku. Aku bahkan tak sanggup membela diriku sendiri, dan aku tak bisa menangis. Aku menangis terisak-isak sendirian setelah aku meninggalkan ruang BK. Aku tak habis pikir aku melakukan kesalahan hanya demi menyelamatkan persoalan orang lain. Sejuta kali banyaknya aku mencintai persahabatan kami dari cinta yang mereka berikan kepadaku.

Keesokan harinya aku tak punya kawan. Semua orang yang bahkan tak ada urusannya dengan perkelahianku kemarin pun ikut menjadikan aku musuh mereka. Aku tak diberi buku paket, aku tak dibiarkan makan siang bersama. Untungnya dua orang di bangku belakangku punya hati yang sangat lapang sehingga mereka mendekatiku secara berkala. 

Suatu hari, saat aku dan dua orang siswa yang duduk di bangku belakangku itu sedang mengerjakan tugas bersama. Hingga salah satu dari mereka menanyakan sesuatu yang sangat membuatku tauh siapa yang pantas aku jadikan sahabat.

"Mel, kamu tahu nggak sih A sama B pagi sebelum ribut kemarin itu sempet cekcok karena si B enggak mau piket?"

Aku kaget, dan aku tak tahu. 

"Kayaknya ada yang salah deh sama masalah kemarin," begitu respons mereka setelah kujelaskan aku tak tahu apa pun soal percekcokan pagi hari itu. 

Setelah bertahun-tahun kemudian aku tak lagi dekat dengan keduanya dan aku mempunyai kehidupan yang sangat tidak mempercayai orang lain. 

Semoga mereka merasakan seribu kali cintaku kepada mereka atas persahabatan lama kami. 

#ElevateWomen