Kisah Jodoh Itu Penuh Kejutan, Belahan Jiwaku Ternyata Temanku Sendiri

Endah Wijayanti diperbarui 01 Mar 2021, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Eka Febriyanti

Kalau berbicara tentang cinta, tak ada habisnya. Selalu saja ada cerita di balik kisah cinta yang unik. Awalnya, aku dan suamiku teman satu kuliah, kami berteman seperti yang lain. 

Empat tahun selama kuliah sama sekali aku atau pun suamiku tidak pernah membicarakan masalah hubungan kami. Semuanya berjalan seperti layaknya rutinitas kami sebagai mahasiswa sekaligus pekerja. Pulang kerja langsung menuju kampus untuk kuliah, tetapi anehnya setiap ada hal yang mau didiskusikan kami selalu satu pendapat. Kami saling memberikan kritik dan saran.

Anehnya lagi setiap apa pun yang aku tanyakan, suamiku ini selalu panjang lebar untuk menjelaskannya. Aku merasa kami "klop" Kalau masalah diskusi belajar ataupun hal lainnya bahkan bisa dikatakan suamiku ini jadi kakak sekaligus teman curhatku. Tak terasa kami lulus kuliah, aku pun sempat merantau kerja di luar kota. Tiga tahun sama sekali tak pernah menanyakan kabar via telpon, WA, ataupun  lewat media sosial lainnya. 

Suat saat jam istirahat di kantorku berdering. Aku buka salah satu akun medsosku dan kubuka pesan pribadi. Ada beberapa teman yang menanyakan kabarku, salah satunya suamiku. Tepat saat medsos suamiku juga menunjukan status online, kami saling menanyakan kabar, bercanda layaknya waktu kuliah dulu.

2 dari 2 halaman

Berjodoh Dengannya

Teman tapi menikah./Copyright Eka Febriyanti

Satu pertanyaan yang selalu aku lontarkan kalau lagi ngobrol itu, "Kapan Kak nikah?" Kalau ingat pertanyaan itu, aku malu-malu sendiri. Suamiku selalu menjawab, "Ah tunggu Eka dulu ajalah," karena dia tau aku sedang menjalin hubungan dengan orang lain.

Selama sembilan tahun aku menjalin hubungan dengan lelaki yang tidak pernah ada sama sekali komitmen untuk serius. Di sini aku mulai goyah. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk selalu memberikan jodoh yang terbaik menurut-Nya. Ternyata dengan cepatnya Tuhan menjawab doaku kalau lelaki ini memang tidak baik. 

Waktu berlalu begitu cepat, setelah aku memutuskan hubungan dengan lelaki yang tidak berkomitmen itu, satu per satu teman dekatku khususnya teman lelaki, mengutarakan perasaannya kepadaku. Akan tetapi aku belum mau menerima hubungan yang akan membuat "sakit" lagi. Saat itu, aku hanya butuh Tuhan. Tuhan yang selalu setia mendengarkan doa hamba-Nya. Tuhan yang selalu setia memberikan jawaban atas usaha dari hamba-Nya. 

Ternyata lelaki baik pilihan Tuhan untukku itu adalah suamiku, teman kuliahku sendiri, teman diskusi belajar dan canda tawa, teman yang selalu cepat tanggap kalau aku punya masalah. Tak perlu waktu lama sampai bertahun-tahun untuk saling mengenal, saling cinta, saling sayang.

Kita sebagai perempuan membutuhkan lelaki yang berkomitmen untuk serius, lelaki yang mengajak kepada kebaikan dalam beribadah dan tujuannya hanya satu yaitu mengharap rida Tuhan. Alhamdulillah sekarang usia pernikahan kami telah memasuki tahun kelima dan kami telah mempunyai dua putri yang cantik. Inilah cerita cintaku, teman tapi menikah.

#ElevateWomen