Rasa Cocok dan Nyaman Bukan Jaminan Bisa Menyatu dalam Satu Ikatan

Endah Wijayanti diperbarui 02 Mar 2021, 08:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: NW

Banyak yang mengatakan kalau soulmate adalah belahan jiwa, seseorang yang memiliki persamaan dengan diri kita, hidup bersama untuk saling memiliki dan mencintai. Namun, tidak berarti bagiku, karena soulmate-ku tidak dapat aku miliki. Cukup menjadi kenangan manis cerita cinta yang tidak terlupakan. 

Aku memanggilnya dengan nama Simmy, pria asal Jerman yang aku kenal sejak 9 tahun lalu. Stasiun kota menjadi saksi perjumpaan kami pertama kali. Kala itu aku menjadi tour guide, saat ia dan temannya berwisata di Kota Tua. Sebagai tanda terima kasih, ia memberikan hadiah sekeping CD berisi lagu-lagu dalam bahasa Jerman. 

Kami tetap berkomunikasi selama ia traveling di pulau Jawa. Hampir setiap hari ia berkirim pesan sms hingga mengirimkan melalui pos, tiga tangkai bunga eldeweiss Bromo yang dibungkus dalam selembar kertas.

Aku memandu kedua kalinya saat ia berwisata di Bogor. Di akhir perpisahan, aku memberikan boneka couple Jawa yang aku buat sendiri sebagai kenang-kenangan. Aku sematkan namaku di bawah tatakan boneka. Aku bilang, "Boneka aku dulu yang ke Jerman, suatu saat aku bisa pergi ke Jerman." Entah mengapa aku merasakan perasaan sedih sampai menitikkan air mata. Padahal ini bukan kali pertama aku memandu turis asing. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Merasa Nyaman saat Bersamanya

Ilustrasi. (Foto: unsplash.com/adrian sava)

Sebelum kepulangannya ke Jerman. Ia berpesan akan kembali lagi ke Indonesia sendirian. Terus terang perasaan hatiku campur aduk. Usianya yang lebih muda 4 tahun dariku, tidak menyurutkan niatnya untuk menjalin hubungan meski sangat jelas perbedaan di antara kami. Apalagi menegaskan menyukai aku apa adanya dengan penampilanku berkerudung.

Benar saja, tiga bulan kemudian ia datang ke Indonesia. Menghabiskan liburan hanya untuk mengenal diriku, keluarga dan teman-teman terdekat. Tidak banyak yang tahu hubungan kami. Karena yang lain mungkin akan menyalahkan kenapa aku mau dekat dengan pria asing yang beda budaya dan keyakinan. Aku sadar jalan yang aku pilih tidak tepat, tapi aku tidak mau menghakimi seseorang karena perbedaan. Dan aku bersyukur keluargaku sangat terbuka dengan kehadirannya. 

Demi dekat dengan Indonesia, ia rela mutasi kerja ke Cina. Kami berdua hobi berpetualang, jadi setiap kali berkunjung ke Indonesia, kami selalu berpetualang bersama teman-teman terdekat. Masih membekas momen ketika aku, dia dan sahabatku,  backpacking ke pulau Lombok yang indah dan mendaki Gunung Rinjani yang menawan. Ia juga yang mengantarkan aku berani bepergian ke luar negeri. Pengetahuannya yang luas memberikan inspirasi bagiku untuk menjelajah dan menuangkan dalam tulisan. 

Berjalannya waktu, inilah yang membuat aku jatuh hati. Kebaikan dan cintanya tulus kepada diriku, keluarga dan teman-teman di Indonesia. Ia tak segan membantu aku dan teman-teman tanpa pamrih. Tidak pernah komplain akan penampilanku atau malu berjalan denganku di mana pun. Tidak pernah aku dapatkan kejahilan tangannya ataupun kata-kata yang tidak sopan terucap meski ia sedang kesal. Ia bahkan yang selalu sibuk mencari makanan halal saat kami bepergian. Pembawaannya yang kalem menyeimbangi sikapku yang ekspresif. Ia betul-betul menghargai diriku sebagai wanita muslim. 

3 dari 3 halaman

Tidak Bisa Terus Bersama

Ilustrasi./ Sumber: Pexels.com

Menginjak dua tahun hubungan, keluarga menginginkan aku segera mengambil keputusan. Kakak iparku sempat berujar kalau kami berdua seperti soulmate, jika tidak jadi, berasa sakitnya. Keadaan makin rumit karena ia akan resign kerja dan melanjutkan studi MBA di negara lain. Aku tidak ingin memaksakan kehendak ketika ia merasa belum siap sepenuhnya. Akhirnya, menjaga jarak adalah jalan untuk kebaikan bersama, meski secara lisan tidak menyatakan putus. 

Seringkali kami masih saling bertanya kabar. Ia pun tidak pernah melupakan hari ulang tahunku. Saat aku berencana ke Eropa, ia menawarkan tinggal bersama keluarganya serta menemaniku berkeliling Amsterdam dan Belgia. Padahal aku tahu ia sudah punya kekasih. Tapi ia tidak mengungkapkan, mungkin untuk menjaga perasaanku saja. Hatiku senang, kala aku lihat boneka couple Jawa terpajang di rak bukunya. Sebaliknya hatiku seakan getir, kala aku melihat mug gambar kami berdua, hadiah ulang tahunnya, masih tersimpan dan kudengar ia berkata, “I feel good with you."

Perjumpaan terakhir ketika aku traveling ke Hongkong bersama sahabatku untuk menghadiri seminar. Kebetulan ia tengah internship studi di Hongkong. Tak kusangka, ia menyempatkan bertemu dan mengajak jalan-jalan seharian ke Lantau Island.

Perlakuannya masih sama seperti dulu, meski sudah lama berakhir hubungan kami. Sahabatku mengatakan tatapan matanya padaku masih mengisyaratkan rasa sayang. Lagi-lagi hatiku dibuat sendu. Kini, kami harus menegaskan jarak untuk berhenti saling berkomunikasi melalui media apapun. Meski aku tahu ia selalu ada dalam deretan yang melihat status whatsappku. Ya, biar bagaimanapun, aku ataupun mungkin dia harus menghargai perasaan pasangan.

Dulu aku merasa marah, kenapa Tuhan tidak menjodohkan aku dengannya. Karena ia adalah soulmate yang aku inginkan, yang mungkin tidak dapat aku temui di sosok pria lainnya. Seiring waktu aku menyadari sebuah kutipan ayat, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Tidak semua yang baik bisa kita miliki, tapi kita bisa sampaikan yang baik dari seseorang yang pernah kita miliki. Meski soulmate-ku tidak bisa aku miliki, seribu kali cinta aku punya untuknya sampai nanti. 

 

#ElevateWomen