7 Rekomendasi Makanan Sehat dan Praktis untuk Anak Berusia 1 Tahun

Fimela Editor diperbarui 13 Mar 2021, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Menginjak usia 1 tahun, makanan padat secara bertahap mulai menjadi sumber nutrisi dan energi utama anak. Meskipun ASI masih menjadi nutrisi penting untuk memberikannya perlindungan terhadap penyakit.

Melansir dari healthline.com, umumnya anak usia 1 tahun, harus diberi makanan padat sekitar 3 kali sehari, diselingi camilan sehat sebanyak 2 hingga 3 kali, di antara waktu makan tersebut.

Selain itu karena pada waktu ini menjadi masa transisinya, kemampuan mencerna dan mengunyah si kecil belum berkembang dengan baik. Karena itu makanan yang diberikan untuk sang buah hati haruslah yang lembut dan bergizi sehat.

Untuk membantu kamu menemukan makanan yang tepat untuk buah hati, berikut ini deretan makanan untuk anak usia 1 tahun, yang sehat dan praktis.

1. Pisang, persik, dan buah-buahan lembut lainnya

Pada usia 1 tahun, si kecil mulai aktif mencoba makan sendiri. Ia akan menggerakan dan mencubit makanan dengan ujung jarinya. Karena itu, inilah saatnya untuk memberi sang buah hati asupan buah-buahan yang lembut.

Buah-buahan segar ini adalah pilihan yang bagus untuk masa transisinya. Tidak hanya memberikan nutrisi berupa serat dan vitamin yang dibutuhkan si kecil, tetapi juga membantu membiasakan anak makan makanan sehat.

Cukup iris pisang, mangga, atau alpukat dengan ukuran yang kecil agar ia tidak tersedak. pisang dengan ukuran yang kecil, sajikanlah kepada anak. Dan jangan pernah memberikan anak buah secara utuh.

Namun, agar si kecil mendapatkan zat gizi secara optimal, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menyarankan agar si kecil memakan buah yang dipotong dalam waktu 2 jam setelah di keluarkan dari lemari es.

2. Yogurt dan susu

Susu dan yogurt adalah sumber protein dan kalsium yang bagus untuk pembentukan tulang dan gigi. Satu gelas (244 ml) susu murni menawarkan 39% dari kebutuhan harian kalsium si kecil setiap hari, serta mengandung 8 gram protein.

Meskipun kamu tetap terus memberikan ASI sampai usia 2 tahun atau lebih, susu atau yogurt berlemak utuh juga dapat diperkenalkan pada waktu makan atau sebagai camilan.

Selain itu, walaupun produk susu umumnya aman, pastikan untuk memerhatikan tanda-tanda alergi kasein pada si kecil. Konsultasikan juga dengan dokter sebelum memberi mereka alternatif susu nabati. Sebab umumnya ini tidak disarankan untuk balita karena kurangnya nutrisi penting untuk pertumbuhan anak.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

3. Oatmeal

Ilustrasi anak makan. Sumber foto: unsplash.com/kazuend.

Anak usia satu tahun belum bisa menggunyah dengan benar sampai mereka berusia sekitar 4 tahun. Oleh sebab itu, makanan mereka harus dihaluskan atau dipotong kecil-kecil agar mudah dikunyah.

Oatmeal adalah pilihan yang bagus pada masa transisinya. Oatmeal mudah ditelan dan menawarkan zat gizi penting untuk tubuh seperti protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan lemak sehat. Terlebih lagi, gandum memberikan banyak serat, yang membantu menjaga saluran pencernaan tetap sehat dan teratur.

Namun karena rasa yang tawar, terkadang si kecil jadi enggan menyantapnya. Untuk mengakalinya, kamu bisa menambahkan susu dan topping dari buah-buahan favorit anak . Selain lebih lezat, tentu akan mengemas lebih banyak nutrisi ke dalam mangkuk si kecil.

4. Telur

Tak bisa dipungkiri, telur kaya akan nutrisi yang bisa melengkapi kebutuhan harian keluarga, termasuk si kecil. Zat gizi yang terdapat di dalamnya seperti protein, lemak sehat, dan sejumlah nutrisi lainnya, berperan mendukung kesehatan mata dan perkembangan otak si kecil.

Untuk menyajikannya kepada sang buah hati, kamu bisa merebusnya dan memotong telur menjadi potongan-potongan seukuran gigitan.

Perlu diketahui, walaupun bergizi telur menjadi salah satu dari delapan makanan penyebab alergi yang paling umum untuk anak-anak. Sebagian besar anak dapat mengatasi alergi, tetapi penting untuk memperhatikan gejalanya, yang dapat mencakup gatal-gatal, hidung tersumbat, masalah pencernaan, batuk, dan sesak napas. Konsultasikan dengan dokter anak jika kamu terlalu khawatir tentang alergi telur.

5. Tahu padat atau sutra

Tahu merupakan sumber zat besi, kalsium, dan protein yang hebat. Satu porsi tahu seberat 56 gram menyediakan hampir 1 mg zat besi dari kebutuhan kalsium harian si kecil.

Selain itu, tahu juga sangat serbaguna. kamu bisa menyajikannya manis atau gurih. Karena rasanya yang netral, kamu bisa mencampurnya menjadi smoothie atau dihaluskan bersama pisang dan alpukat.

Namun hindari makanan ini jika si kecil di diagnosis alergi kedelai. Terutama jika alergi ini menurun pada keluarga kamu. Konsultasikan ke dokter untuk mencari alternatif lain selain tahu.

3 dari 3 halaman

6. Daging ayam atau kalkun

Ilustrasi anak makan. Sumber foto: unsplash.com/hessam nabavi.

Daging ayam atau kalkun giling bisa menjadi cara yang bagus untuk memasukkan lebih banyak protein ke dalam makanan si kecil. Nutrisi ini dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Mulailah dengan memberi mereka makan bubur dengan potongan daging yang lembut. Rebus daging ayam terlebih dahulu, lalu tambahkan susu, kaldu, atau yogurt untuk melunakkan campuran ini dalam blender. Saat mereka merasa lebih nyaman dengan makan sendiri, tumis daging giling atau potong kecil-kecil seukuran gigitan.

Hindari potongan daging yang keras atau berserabut, karena ini mungkin terlalu sulit untuk dikunyah atau ditelan oleh anak. Selain itu, hindari bumbu pedas atau kuat, yang dapat mengganggu perut lembut mereka.

7. Brokoli kukus, kacang polong, dan wortel

Kandungan zat gizi pada sayuran sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang si kecil. Brokoli, wortel, dan kacang polong mengandung serat dan vitamin C. Terlebih lagi, wortel mengandung lutein, yang mendukung kesehatan mata, sedangkan kacang polong mengandung protein pembentuk otot.

Agar si kecil mudah mengunyahnya, sajikan sayuran ini dengan cara dikukus, direbus, atau menggunakan microwave. Lalu potong kecil-kecil agar anak tidak tersedak. Kamu juga bisa menjelajahi jenis sayuran lainnya, seperti ubi jalar dan bayam.

 

*Penulis : Hilda Irach

#Elevate Women