Cinta Laura Bicara Beda Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Indonesia dan Luar Negeri

Rivan Yuristiawan diperbarui 16 Apr 2021, 15:24 WIB

Fimela.com, Jakarta Di luar profesinya sebagai aktris, Cinta Laura Kiehl juga berperan aktif sebagai pegiat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Beberapa tahun lalu, ia diangkat sebagai Duta oleh Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak untuk ikut mengampanyekan perlawanan tersebut.

Dalam YouTube channel THE POWDER ROOM TALK, ia pun bercerita tentang perbedaan Indonesia dan negara maju ketika menangani masalah kekerasan, khususnya isu seksual. Lantas, apa perbedaannya?

"Di negara maju, hukum memang tidak sepenuhnya sempurna. Tetapi ketika kamu jadi korban, pemerintah akan menyediakan pengacara, jadi bantuan hukum gratis," ujar Cinta Laura Kiehl.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Dibantu Pemulihan

Sekarang ini, Cinta Laura sudah kembali ke Indonesia. Seperti rencana yang dibuat sebelum bergegas dari Amerika Serikat, kini Cinta semakin mengembangkan kariernya dan kegiatan positif lainnya yang bermanfaat. (Instagram/claurakiehl)

Lebih lanjut, perempuan berdarah Indonesia-Jerman itu juga menuturkan jika di beberapa negara maju, tersedia pekerja sosial yang membantu pemulihan fisik dan psikis untuk para korban. Hal itu dianggapnya efektif untuk mengurangi rasa traumatik para korban.

"(Di luar neflgeri) Pekerja sosial akan datang membantumu, memulihkan diri secara fisik dan psikis," lanjutnya.

3 dari 4 halaman

Masih Sedikit

Dalam obrolan yang diunggah di channel YouTube THE POWDER ROOM TALK, perempuan berdarah Indonesia-Jerman itu mengaku tak butuh cinta dan teman. Ia melakukan demi kebahagiaan yang ia temukan di Indonesia. (Instagram/claurakiehl)

Ia pun lantas mengungkap fakta yang terjadi di Indonesia terkait hal tersebut. Meski sudah memiliki pekerja sosial yang aktif dalam hal pemulihan fisik dan psikis korban kekerasan, namun jumlahnya masih sangat terbatas dan belum mampu menjangkau korban-korban kekerasan yang jumlahnya tiap hari semakin bertambah.

Terlebih, banyak pula korban kekerasan yang masih enggan bersuara atas apa yang dialaminya.

"Meski mereka (pekerja sosial) juga ada di Indonesia, tapi sepertinya hanya sepuluh persen korban yang melaporkan. Dan dari sepuluh, mungkin hanya satu persen yang mencari cara lewat pengadilan," pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Tag Terkait