Menjanda Bukan Aib, Kadang Lebih Baik Bercerai daripada Hidup Merana

Endah Wijayanti diperbarui 02 Feb 2022, 15:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pasti pernah merasakan perasaan tak nyaman seperti rendah diri, sedih, kecewa, gelisah, dan tidak tenang dalam hidup. Kehilangan rasa percaya diri hingga kehilangan harapan hidup memang sangat menyakitkan. Meskipun begitu, selalu ada cara untuk kembali kuat menjalani hidup dan lebih menyayangi diri sendiri dengan utuh. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Bye Insecurities Berbagi Cerita untuk Lebih Mencintai dan Menerima Diri Sendiri ini.

***

Oleh: Mirannari

Hari itu saya merasakan lagi sesak napas untuk yang kesekian kalinya. Sangat menyiksa, dada terasa berat untuk bernapas, sehingga saya harus sering-sering mengambil napas yang dalam layaknya orang yang habis berlari maraton. Tubuh saya pun terasa cepat sekali lelah saat beraktivitas dan yang lebih menyiksa adalah tidur yang tak nyenyak di malam hari.

Kali terakhir ke dokter, saya disarankan menjalani tes EKG untuk memastikan kondisi jantung. Namun, saran itu tidak saya lakukan karena sesak napas sudah hilang dan saya kembali beraktivitas dengan normal. Sebenarnya bukan itu saja alasannya, saya tidak sepenuhnya percaya dengan diagnosa dokter jika ada sesuatu di jantung saya.

Namun, hari ini saya sudah tak tahan lagi, sesak di dada ini sudah begitu menyiksa. Maka, saya pun menemui dokter, tetapi bukan dokter yang kemarin tetapi dokter dari klinik lain. 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Dada yang Terasa Sesak

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/antonioguillem

Setelah mengantre cukup lama, kini giliran nama saya yang dipanggil. Saya pun memasuki ruangan dan menemui dokter. Setelah d tanya tentang keluhan yang dirasa, saya pun di periksa dengan seksama. Namun, saya kaget dengan apa yang dikatakan oleh dokter, "Masih muda kenapa suka sesak napasnya?"

Saya tersenyum kecut mendengar perkataan sang dokter, saya sama sekali tidak mengerti maksudnya. Bukankah sakit bisa menimpa siapa saja tanpa mengenal usia? 

Selanjutnya dokter bertanya, "Di sini tinggal di mana dan sama siapa?" Saya jawab apa adanya. Pertanyaan dokter masih berlanjut.

"Suami di mana?" Seketika mata saya berkaca-kaca. Saya tidak bisa menjawabnya.

Dokter kembali bertanya, "Apakah baik-baik saja hubungan dengan suami?" Kini air mata saya tumpah. Rasanya sudah tidak kuat saya menahannya.

Dokter membiarkan saya menangis, saya pun sudah tak malu lagi tersedu-sedu di hadapannya. Saya hanya merasakan lega yang luar biasa, serasa gunung berapi yang memuntahkan laharnya.

Setelah mereda tangisan saya, dokter mengatakan kalau apa yang tubuh saya alami adalah karena tekanan hebat di dalam batin. Dokter menyarankan saya tes EKG untuk memastikan kondisi jantung saya yang sebenarnya karena dari pemeriksaannya irama jantung saya tidak beratur.

Hari itu saya mendapat resep obat, nasihat, dan tempat curhat. Paket komplit yang membuka mata hati bahwa saya harus keluar dari zona ketidaknyamanan ini. Saya pun mulai konsultasi ke dokter spesialis jantung dan rajin mengkonsumsi obat. Hal yang dulu tak pernah saya lakukan, kini sesering mungkin saya curhat ke teman-teman. Tentu saya memilih curhat ke orang yang bisa dipercaya.

3 dari 3 halaman

Membuka Lembaran Hidup yang Baru

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/sonjachnyj

Saya juga tak malu lagi mengakui kegagalan berkeluarga dan kini hidup sendirian

Akhirnya setelah hampir tiga tahun hidup sendirian tanpa status yang jelas, saya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Saya jalani semua prosesnya dengan hati lapang meski terasa melelahkan. Akhirnya kurang dari setahun, saya sudah mendapat akta cerai dan kejelasan status.

Saya bukan lagi wanita bersuami tapi hidup tanpa suami. Saya bukan lagi wanita single tapi berstatus menikah di dokumen negara. Kini, saya tidak malu lagi menjawab jika ada yang bertanya tentang status, bahwa saya adalah janda.

Menjadi janda bukanlah aib, meski karena perceraian.  Ia hanya salah satu fase kehidupan tak sedikit wanita di dunia ini. Menjadi janda juga bukanlah pilihan yang mudah, karena saat memutuskannya banyak hal yang harus dipertimbangkan. Ada anak dan orang tua yang mesti diperhatikan juga perasaannya. Dan yang tak kalah penting adalah diri kita sendiri.

Menjanda adalah pilihan terbaik daripada bertahan dalam pernikahan yang tidak membahagiakan.

Kini setelah menerima semua yang terjadi dalam kehidupan, menghadapinya dengan hati yang luas, saya pun bisa melanjutkan kehidupan dengan baik. Jantung saya yang sempat bermasalah pun kini sudah membaik.

#WomenforWomen