Waspada! Prediksi Deretan Ancaman Siber di Dunia Maya hingga Platform Edukasi di 2023

Fimela Reporter diperbarui 20 Des 2022, 21:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Kemajuan teknologi yang dirasakan saat ini tidak perlu diragukan lagi, masyarakat dunia diberi kemudahan dalam mengakses apapun melalui internet. Namun, harus diwaspadai juga bahwa nyatanya banyak ancaman siber yang dapat merugikan para konsumen.

Melihat itu, Kaspersky membagikan beberapa ancaman siber yang diprediksi dapat terjadi pada tahun 2023. Berikut deretan ancaman tersebut, antara lain:

Media sosial dan metaverse

  • Media sosial baru akan membawa lebih banyak risiko privasi. 

Kaspersky melihat bahwa dalam waktu dekat akan terjadi fenomena revolusioner baru dalam dunia jejaring sosial. Hal ini mungkin sudah terjadi dalam virtual reality (VR), namun belum pada augmented reality (AR).

Dengan dirilisnya berbagai aplikasi trendi dapat memicu munculnya risiko bagi para pengguna. Tak hanya itu, para penjahat dunia maya pun hadir untuk membajak akun para pengguna dengan tujuan berbahaya yang dapat merugikan para pengguna. Adapun bahaya yang dapat terjadi seperti pencurian data dan uang, hingga phising.

  • Eksploitasi metaverse. 

Dalam platform metaverse pun terdapat beberapa hal yang harus diwaspadai karena dapat menimbulkan risiko yang kemungkinan terjadi di masa depan. Hal ini berdasarkan dari metaverse yang dinilai bersifat universal, sehingga tidak mematuhi undang-undang perlindungan data regional, seperti GDPR yang dapat menimbulkan konflik.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Media sosial dan metaverse

Ilustrasi media sosial facebook/Photo by Kaboompics .com from Pexels
  • Pelanggaran dan kekerasan seksual virtual akan mencapai ruang metaverse. 

Sejumlah kasus pelecehan dan pelanggaran avatar, terlepas dari upaya dalam membangun mekanisme perlindungan dalam metaverse. Hal ini terjadi karena tidak ada regulasi khusus atau aturan moderasi, tren menggemparkan ini kemungkinan besar akan terus terjadi hingga tahun 2023.

Sumber baru data pribadi sensitif untuk penjahat dunia maya

  • Data dari aplikasi kesehatan mental akan digunakan dalam serangan rekayasa sosial yang ditargetkan secara akurat. 

Menjaga kesehatan mental bukan hanya sekadar tren saja, namun memang harus dilakukan. Terkadang tanpa disadari internet dapat mengetahui data sensitif tentang kondisi mental, terlebih saat menggunakan aplikasi kesehatan mental.

Perlu diwaspadai bahwa data tersebut dapat saja bocor, baik disengaja ataupun tidak karena mereka dapat meretas akun dengan menyebarkan rekayasa terutama bagi mereka yang sedang memiliki kondisi mental yang tidak stabil. 

Melalui itu, para penjahat dapat melakukan berbagai cara untuk mendapatkan yang diinginkan dengan meretas dan penipuan untuk mendapatkan keuntungan lebih.

3 dari 3 halaman

Platform edukasi dan proses pembelajaran

Ilustrasi anak sedang belajar online. Credit: pexels.com/Julia
  • Platform edukasi online akan menarik lebih banyak upaya serangan siber. 

Di era pasca pandemi, edukasi online terbukti tidak kalah efisiennya dengan kelas offline, melihat adanya investasi pada platform edukasi online dan learning management system (LMS) meningkat secara signifikan.

Tren ini bukanlah hal baru, tetapi relevansi ancaman yang menyertai akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan digitalisasi: file trojan dan halaman phishing yang meniru platform edukasi online dan layanan konferensi video, serta pencurian kredensial LMS siap tumbuh pada tahun 2023. 

  • Sejumlah besar teknologi inovatif tertanam dalam proses pembelajaran. 

Tanpa disadari bahwa tren penggunaan teknologi inovatif berupa penggunaan virtual dan augmented reality, antar muka suara, otomatisasi proses (termasuk robotisasi komunikasi), analisis mesin atas tindakan pengguna (user actions), dan pengujian serta penilaian dengan bantuan AI.

  • Gamifikasi edukasi.

Pada tahun 2023, diprediksi pada platform pembelajaran online memiliki penggunaan teknologi gimifikasi yang lebih besar, sehingga mencapai tujuan fungsional seperti, akuisisi dan dipersonalisasi, inklusivitas, serta menguragi resistensi terhadap pembelajaran.

Hal ini membuat para siswa dapat menghadapi risiko tambahan seperti yang telah terjadi dalam industri game, adapun risiko tersebut antara lain: troll, phishing, dan perundungan pada platform yang dibangun untuk komunikasi, kompetisi, dan kerja tim.

 

*Penulis: Angela Marici.

#Women for Women