5 Kesalahpahaman tentang Feminisme yang Paling Banyak Terjadi

Fimela Reporter diperbarui 27 Okt 2023, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Baru-baru ini kesetaraan gender, yang dikenal juga feminisme, telah menjadi salah satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan oleh PBB. Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Pada dasarnya femisnisme merupakan suatu ideologi yang memberdayakan perempuan. Semua gender memiliki hak dan kesempatan yang sama.

Dilansir dari laman iwda.org.au, feminisme berarti tentang menghormati pengalaman, identitas, pengetahuan, dan kekuatan perempuan yang beragam, serta berupaya memberdayakan semua perempuan untuk bisa mewujudkan hak-haknya secara keseluruhan. Perempuan memiliki kesempatan hidup yang sama seperti yang dimiliki laki-laki.

Hal ini terkait tentang menyamakan kedudukan antar gender. Memastikan bahwa perempuan juga bisa menjadi subjek dalam segala bidang dengan menggunakan pengalamannya dan menggunakan perspektif perempuan yang terlepas dari kultur patriarki. Menjadi seorang feminis berarti meyakini persamaan hak bagi semua gender.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Feminisme menuntut kesetaraan hak dan kesempatan

Diskriminasi dan eksploitasi terhadap kaum perempuan harus diakhiri dengan gerakan feminisme. (Foto: Unsplash/Priscilla Du Preez)

Dilansir dari digilib.unila.ac.id, sebagian masyarakat berasumsi feminisme adalah gerakan pemberontakan kaum perempuan terhadap kaum laki-laki. Feminisme dianggap sebagai usaha pemberontakan kaum perempuan untuk mengingkari apa yang disebut sebagai kodrat atau fitrah perempuan, melawan pranata sosial yang ada, atau institusi rumah tangga, seperti perkawinan dan lain sebagainya.

Padahal, feminisme bukan ideologi yang menebar kebencian pada kaum laki-laki. Hal ini juga bukan tentang menuntut kedudukan perempuan yang lebih baik dari laki-laki. Gerakan feminisme hanya menuntut equal right, bukan special right. Feminisme mempelajari dan memahami dampak ketidaksetaraan terhadap perempuan dan laki-laki.

Tidak bisa dipungkiri, perempuan sering berada dalam keadaan ditindas dan dieksploitasi. Penindasan dan eksploitasi terhadap kaum perempuan inilah yang harus segera diakhiri. Gerakan feminisme bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan dan kedudukan martabat perempuan dengan laki-laki, serta kebebasan untuk mengontrol kehidupannya sendiri baik di dalam maupun di luar rumah.

3 dari 3 halaman

Kesalahpahaman tentang feminisme

Feminisme bukan ideologi yang menebar kebencian pada kaum laki-laki. (Foto: Unsplash/Vonecia Carswell)

Sayangnya banyak pemahaman yang keliru mengenai gerakan feminisme. Kesalahpahaman inilah yang perlu segera diluruskan. Dilansir dari laman sites.aub.edu.lb dan medium.com, berikut kesalahpahaman tentang feminisme yang sering terjadi:

1. Hanya wanita yang bisa menjadi seorang feminis

Banyak kesalahpahaman yang menghubungkan istilah feminisme dengan feminitas yang dianggap lebih mendukung kaum perempuan. Padahal feminis bukan hanya untuk kaum feminin tetapi juga untuk maskulin. Bahkan tujuan awal feminis adalah untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan menegakkan hak-hak dasar manusia.

2. Feminisme berarti membenci laki-laki

Pada dasarnya feminisme hanya menyerukan kesetaraan gender. Terdapat sebagian kaum laki-laki yang menentang gerakan feminisme karena mengira hal itu ditujukan untuk menyerang mereka. Namun, kebencian terhadap laki-laki bukan berasal dari konsep feminisme, melainkan sebagai reaksi terhadap penentangan sebagian laki-laki terhadap perjuangan feminis. Dapat dibilang feminisme menentang toxic masculinity.

3. Feminisme menuntut perempuan lebih baik dari laki-laki

Para feminis yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mencapai kesetaraan sering dilihat sebagai aktivis yang hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri. Padahal, kampanye ini hanya memperjuangkan hak-hak yang selama ini tidak dimiliki atau menentang pembatasan pada kaum perempuan. Feminis sejati mendukung hak asasi manusia untuk semua identitas gender atas dasar bahwa setiap orang berhak diperlakukan setara.

4. Feminisme melawan kodrat alami manusia

Banyak yang menyalahartikan kodrat perempuan seperti hanya mengurus rumah tangga dan sebagainya, padahal ini merupakan peran gender. Feminis memperjuangkan pembebasan hak-hak perempuan yang sering terabaikan. Seperti contoh melahirkan yang sering dianggap sebagai kewajiban perempuan, padahal melahirkan adalah sebuah pilihan. Setiap perempuan berhak untuk menentukan setiap pilihan atas tubuhnya.

5. Feminisme merupakan konsep barat

Beberapa orang menentang feminisme karena dinilai sebagai sebuah konsep kebarat-baratan yang tidak cocok diterapkan di Indonesia. Globalisasi bukanlah penyebab adanya gerakan feminisme, bahkan paham feminisme sudah ada sejak dulu di wilayah non-Barat, Afrika, Asia, dan sebagainya untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia.

 

Penulis: Maritza Samira.

#BreakingBoundariesOktober