7 Karakter Orang yang Gampang Overthinking sehingga Sulit Bahagia

Endah Wijayanti diperbarui 14 Jan 2024, 11:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Keseimbangan mental dan emosional menjadi kunci utama dalam mencapai kebahagiaan. Keseimbangan mental dan emosional membantu seseorang mengembangkan ketahanan terhadap stres. Individu yang memiliki keseimbangan ini cenderung memiliki kemampuan untuk mengelola tekanan hidup dengan lebih efektif, mengurangi risiko gangguan stres, dan menjaga kesejahteraan mental mereka. Namun, ada sejumlah orang yang rentan terjebak dalam jerat pikiran berlebih atau overthinking, yang pada akhirnya dapat menyulitkan mereka untuk merasakan kebahagiaan.

Kali ini, kita akan membahas tujuh karakteristik individu yang cenderung overthinking dan bagaimana hal itu dapat menghambat kemampuan mereka untuk menikmati kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Simak uraiannya berikut ini, ya Sahabat Fimela.

 

 

 

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Terlalu Perfeksionis

Ilustrasi sedih, kecewa, patah hati, putus cinta, terluka. (Photo by Tan Danh from Pexels)

Orang yang terlalu perfeksionis memiliki standar yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka seringkali menetapkan target yang sulit dicapai, dan ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan mereka, mereka cenderung terperangkap dalam siklus pemikiran negatif. Setiap kekurangan dianggap sebagai kegagalan, dan hal ini dapat membuat mereka sulit merasa puas atau bahagia dengan pencapaian mereka.

Penting untuk menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan yang realistis. Kesalahan adalah bagian dari pengalaman hidup, dan belajar untuk menerima kekurangan dapat membantu seseorang mengatasi siklus overthinking yang merugikan.

 

 

3 dari 8 halaman

2. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/theshotsco

Seringkali, orang yang mudah overthinking juga cenderung keras pada diri sendiri. Mereka memberikan tekanan berlebihan pada diri mereka sendiri untuk mencapai kesuksesan atau memenuhi ekspektasi tertentu. Setiap kali mereka tidak dapat memenuhi standar yang mereka tetapkan, mereka merasa kecewa dan cenderung memikirkan semua hal yang bisa mereka lakukan lebih baik.

Mengembangkan pemahaman diri yang lebih baik dan memperlakukan diri sendiri dengan kasih sayang adalah langkah awal untuk mengatasi kecenderungan ini. Memberikan ruang untuk kesalahan dan kelemahan adalah bagian penting dari pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan.

 

 

4 dari 8 halaman

3. Terlalu Reaktif Menghadapi Perasaan Sendiri

Ilustrasi/copyrightshutterstock/BlurryMe

Orang yang mudah overthinking seringkali terlalu reaktif terhadap perasaan mereka sendiri. Mereka mungkin terlalu terpaku pada perasaan negatif atau kecemasan, dan membiarkan pikiran mereka melayang jauh ke dalam kekhawatiran yang tidak berdasar. Hal ini dapat membuat mereka sulit untuk merasa bahagia karena mereka terus-menerus terjebak dalam perasaan negatif yang mendominasi pikiran mereka.

Mengutip buku Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku?, "Salah satu strategi untuk melawan makin parahnya suasana hati yang dapat diakibatkannya adalah memahami bahwa perasaan kita bukanlah bukti bahwa pikiran kita benar." Mengembangkan keterampilan regulasi emosi, seperti mindfulness atau meditasi, dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap perasaan mereka dan belajar untuk meresponsnya dengan lebih seimbang.

 

 

5 dari 8 halaman

4. Terlalu Mudah Berprasangka Buruk

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@aiony

Berprasangka buruk atau terlalu banyak berspekulasi tentang niat orang lain adalah karakteristik lain dari orang yang mudah overthinking. Mereka cenderung membuat asumsi negatif tanpa memiliki bukti yang cukup, dan hal ini dapat menciptakan kecemasan yang tidak perlu. Misalnya, ketika seseorang tidak menjawab pesan secara cepat, orang yang overthinking mungkin mulai mengkhawatirkan kemungkinan konflik atau ketidaksetujuan.

Untuk mengatasi kecenderungan ini, penting untuk memeriksa bukti dan memahami bahwa pikiran negatif mungkin tidak selalu mencerminkan kenyataan. Komunikasi terbuka dan jujur ​​dengan orang lain juga dapat membantu menghindari kecemasan yang tidak perlu.

 

 

6 dari 8 halaman

5. Terlalu Memaksakan Kehendak

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/sompong+rattanakunchon

Individu yang sulit bahagia juga mungkin terlalu memaksakan kehendaknya pada situasi atau orang lain. Mereka memiliki harapan yang sangat spesifik tentang bagaimana segala sesuatu seharusnya berjalan, dan ketika realitas tidak sesuai dengan harapan mereka, mereka cenderung merasa kecewa.

Belajar untuk mengikhlaskan kontrol atas situasi tertentu dan menerima bahwa tidak semua hal dapat diatur sesuai keinginan adalah langkah penting untuk mengatasi kecenderungan ini. Fleksibilitas mental dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dapat membantu seseorang menemukan kebahagiaan di tengah ketidakpastian.

 

 

7 dari 8 halaman

6. Terlalu Kaku Menyikapi Perubahan

Ilustrasi move on/copyright shutterstock

Orang yang cenderung overthinking sering kali sulit menerima perubahan. Mereka mungkin merenungkan kemungkinan skenario buruk yang dapat terjadi sebagai akibat dari perubahan, bahkan sebelum perubahan itu terjadi. Ketakutan akan ketidakpastian dapat menjadi hambatan serius dalam mencapai kebahagiaan, karena mereka mungkin terjebak dalam kekhawatiran tentang masa depan.

Mengembangkan sikap yang lebih terbuka terhadap perubahan dan melihatnya sebagai peluang untuk pertumbuhan dan pembelajaran dapat membantu meredakan kecemasan terkait dengan ketidakpastian.

 

 

8 dari 8 halaman

7. Terlalu Rendah Diri

Ilustrasi perempuan galau/copyrightshutterstock/MAYA LAB

Orang yang overthinking seringkali memiliki harga diri yang rendah. Mereka cenderung fokus pada kelemahan dan kekurangan diri mereka sendiri, membuatnya sulit untuk merasa berharga atau bahagia. Pikiran negatif tentang diri sendiri dapat meracuni persepsi mereka terhadap dunia dan melibatkan mereka dalam siklus kegelapan emosional.

Membangun rasa harga diri melalui pengakuan dan penghargaan terhadap pencapaian kecil dapat membantu mengatasi kecenderungan ini. Penerimaan diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan adalah langkah penting menuju kebahagiaan yang lebih besar.

Overthinking dapat menjadi tantangan yang signifikan dalam mencapai kebahagiaan, tetapi itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat diatasi.

Melalui kesadaran diri, latihan regulasi emosi, dan penerimaan diri sendiri, seseorang dapat membangun fondasi untuk mengatasi kecenderungan overthinking dan meraih kebahagiaan yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui langkah-langkah ini, seseorang dapat belajar untuk melepaskan pikiran-pikiran negatif yang merugikan dan menikmati momen dengan penuh kebahagiaan.