7 Masalah yang Kerap Muncul dalam Hubungan Pernikahan pada Generasi Milenial

Gayuh Tri Pinjungwati diperbarui 19 Jan 2024, 08:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Jika salah satu pasangan mencoba menghindari komunikasi dalam sebuah pernikahan, pernikahan tersebut bisa berantakan. Kesenjangan komunikasi merupakan salah satu faktor utama atau signifikan dalam hubungan pernikahan. Pada generasi milenial seperti saat ini, mudah kita jumpai beberapa hubungan pernikahan yang bertahan seumur jagung. Ada banyak alasan mengapa beberapa pasangan sulit mempertahankan hubungan mereka. Penasaran, mengapa pola ini terjadi pada generasi milenial? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.

1. Perencanaan Keuangan yang Buruk

Hutang atau pinjaman finansial apa pun dapat menjadi penyebab utama kegagalan pernikahan. Jika kedua pasangan tidak puas dengan kebiasaan belanja satu sama lain, hal ini akan menimbulkan kepahitan dalam hubungan. Pernikahan tidak akan berhasil jika kedua pasangan tidak memiliki tujuan finansial yang sama.

2 dari 7 halaman

2. Kurangnya Keintiman Emosional

Ilustrasi pasangan marah/copyrightshutterstock/1112000

Merasa terputus dalam hubungan dapat mengindikasikan keintiman emosional. Jika salah satu pasangan menahan emosinya, atau memendam perasaan tidak enak, hal ini akan menciptakan jarak emosional di antara pasangan tersebut.

3 dari 7 halaman

3. Perbedaan dalam Pola Pengasuhan Anak

Kamu bisa mengajak anak untuk berdiskusi sekaligus mengajarkan anak akan berbagai perasaan yang sedang dihadapinya. (Foto: Pexels.com/Ketut Subiyanto)

Perbedaan pendapat tentang cara membesarkan anak adalah masalah pernikahan yang umum saat ini. Pola asuh yang berbeda menjadi faktor penyebab pertengkaran dalam suatu hubungan. Anak mungkin merasa lebih dekat dengan salah satu orang tuanya dibandingkan dengan orang tuanya. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan dalam pernikahan.

4 dari 7 halaman

4. Hubungan Bermasalah dengan Mertua

Ilustrasi/copyrightshuttertsock/Prostock-studio

Banyak pasangan milenial yang kesulitan berdamai dengan mertua. Mereka mungkin merasa mertuanya terlalu ikut campur sehingga membahayakan kebebasan mereka. Perbedaan pendapat dan pertengkaran terus-menerus dengan mertua dapat merusak emosi kedua pasangan. Ini menciptakan hubungan keluarga yang terasing.

5 dari 7 halaman

5. Sering Bertengkar

Ilustrasi/copyrightshutterstock/atiger

Perbedaan pendapat pada akhirnya membuat salah satu pasangan putus cinta. Awalnya, hubungan tersebut terasa seperti mimpi, tetapi setelah jangka waktu tertentu, sering kali menemukan kekurangan atau mengkritik membuat sulit untuk menoleransi sudut pandang satu sama lain. Penyebab umum pertengkaran antar pasangan suami istri adalah seringnya pertengkaran.

6 dari 7 halaman

6. Perselingkuhan

Ilustrasi/copyrightshutterstock/Sunti

Psikologi tentang bagaimana pria dan wanita jatuh cinta dalam sebuah pernikahan telah dipelajari sejak lama. Perselingkuhan adalah penyebab utama kegagalan pernikahan saat ini. Pasangan yang selingkuh mungkin tidak terlalu terlibat secara emosional dalam suatu hubungan. Kurangnya komitmen serius dalam pernikahan merupakan faktor utama perceraian.

7 dari 7 halaman

7. Kurangnya Keintiman Seksual

Ilustrasi pasangan bahagia yang sedang berada di atas ranjang/copyright freepik.com/jcomp

Kurangnya hubungan seksual yang sehat dan memuaskan dapat menyebabkan kedua pasangan merasa jauh secara emosional dalam hubungan tersebut. Ini adalah penyebab mendasar dari putusnya sebuah pernikahan. Penelitian menunjukkan bahwa chemistry seksual yang sehat di antara pasangan suami istri adalah pintu menuju pernikahan yang bahagia.

Sebuah pernikahan hanya bisa bertahan jika kedua pasangan berkomunikasi secara terbuka. Memendam kebencian atau menjadi tidak siap secara emosional membuat pernikahan menjadi sulit untuk dihadapi. Konselor hubungan dan psikolog telah menekankan kualitas sikap suportif agar pernikahan berhasil. Psikoterapi yang bertujuan untuk membuat pernikahan berhasil berfokus pada membangun pola pikir komitmen jangka panjang pada pasangan.