10 Cara Sederhana untuk Menambah Nafsu Makan Anak

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 09 Mei 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Banyak orang tua merasa khawatir ketika anaknya sulit makan. Padahal, masalah nafsu makan pada anak merupakan hal yang wajar dan sering terjadi, terutama di usia balita. Anak bisa saja tiba-tiba menolak makanan favoritnya, hanya mau makan menu tertentu, atau bahkan tidak tertarik makan sama sekali. Kondisi ini memang bisa membuat cemas, tetapi dengan pendekatan yang tepat, nafsu makan anak dapat kembali meningkat secara perlahan. 

Melansir laman helenataylorclinic.com cobalah untuk menawarkan variasi makanan. Anak biasanya lebih tertarik pada sesuatu yang baru dan berwarna. Sajikan makanan dengan beragam tekstur, rasa, dan tampilan menarik. Misalnya, potongan buah bisa dibentuk lucu atau nasi dibentuk menyerupai karakter kesukaan anak. Selain menambah daya tarik, cara ini juga memperkenalkan berbagai jenis makanan sejak dini.

Kedua, bersikaplah sabar dan konsisten. Anak mungkin menolak makanan baru pada percobaan pertama, tetapi bukan berarti ia tidak akan pernah menyukainya. Cobalah menawarkan kembali dalam porsi kecil, berkali-kali, hingga akhirnya anak terbiasa. Hindari juga memberi terlalu banyak camilan manis atau minuman manis di sela waktu makan, karena bisa membuat perut kenyang sebelum makan utama.

Ketiga, jadilah contoh dengan pola makan sehat. Anak sering meniru kebiasaan orang tuanya. Jika orang tua terlihat senang mengonsumsi sayur, buah, atau makanan sehat lainnya, anak akan lebih mudah tertarik untuk mencobanya. Jadi, makan bersama sambil menunjukkan antusiasme terhadap makanan sehat bisa menjadi langkah sederhana yang efektif.

2 dari 3 halaman

Bangun suasana positif dan libatkan anak dalam proses makan

Libatkan anak dalam proses memilih dan membuat makanan. (foto: lifestylememory/freepik)

Keempat, hindari memaksa anak untuk makan. Tekanan justru bisa membuat anak semakin menolak makanan. Biarkan anak menentukan sendiri seberapa banyak ia ingin makan, selama makanan yang tersedia sudah sehat dan sesuai kebutuhan. Terapkan aturan sederhana, misalnya waktu makan hanya berlangsung sekitar 20 menit, lalu makanan disingkirkan agar anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang.

Kelima, ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Hindari gangguan seperti televisi, gadget, atau mainan saat makan. Sebaliknya, jadikan waktu makan sebagai momen kebersamaan keluarga yang hangat. Suasana rileks akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah menikmati makanannya.

Keenam, libatkan anak dalam proses memilih dan menyiapkan makanan. Misalnya, ajak anak ikut memilih sayur atau buah di pasar, atau biarkan ia membantu mencuci bahan makanan. Keterlibatan ini bisa menumbuhkan rasa penasaran dan membuat anak lebih bersemangat untuk mencicipi hasilnya.

3 dari 3 halaman

Atur pola makan, tambahkan rasa, dan beri apresiasi pada anak

Mengatur jadwal makan dapat meningkatkan waktu kebersamaan bersama keluarga. (foto: tirachardz/freepik)

Ketujuh, atur jadwal makan yang teratur. Anak akan lebih mudah merasa lapar jika memiliki pola makan yang konsisten. Tentukan waktu makan utama dan camilan sehat dengan jarak yang pas, agar perut anak siap menerima makanan di waktu yang tepat.

Kedelapan, gunakan saus atau pelengkap sehat. Beberapa anak lebih mudah mencoba makanan baru jika disajikan dengan tambahan rasa. Misalnya, potongan sayur bisa dicocol dengan yogurt atau saus kacang. Dengan begitu, makanan sehat terasa lebih menarik di lidah anak.

Kesembilan, berikan pujian saat anak mencoba makanan baru. Dukungan positif, meski sederhana seperti ucapan “hebat sekali kamu mau coba sayur ini”, bisa memotivasi anak untuk lebih terbuka dengan makanan lain. Pujian akan membuat pengalaman makan terasa lebih menyenangkan dan penuh apresiasi.

Terakhir, bila anak masih terus menolak makan hingga memengaruhi tumbuh kembangnya, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Mereka bisa memberikan saran sesuai kebutuhan anak. Ingat, tujuan utama bukan hanya membuat anak kenyang, tetapi juga memastikan nutrisi yang dikonsumsi cukup untuk pertumbuhan dan kesehatannya.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa