5 Sikap Sederhana yang Memperkuat Bonding dengan Anak

Endah WijayantiDiterbitkan 22 Januari 2026, 15:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Moms, dalam perjalanan menjadi orangtua, ada satu hal yang sering kita kejar tanpa sadar, yaitu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan merasa dicintai. Hanya saja realitasnya di tengah kesibukan, tuntutan peran, dan rasa lelah yang tak ada habisnya, kita kadang lupa bahwa fondasi dari semua itu adalah bonding atau ikatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak.

Bonding bukan tentang seberapa sering Moms membelikan mainan atau memenuhi keinginan anak. Bonding adalah tentang rasa aman, kelekatan, dan kehadiran emosional yang membuat anak merasa dicintai apa adanya. Ikatan inilah yang kelak menjadi bekal anak dalam mengenali emosinya, menghargai dirinya sendiri, dan membangun hubungan sehat dengan orang lain.

Kabar baiknya, Moms, bonding tidak harus diciptakan lewat hal-hal besar. Justru, kedekatan yang penuh cinta sering lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan.

Berikut lima tips bonding dengan anak yang bisa Moms terapkan dalam keseharian agar hubungan ibu dan anak semakin hangat dan bermakna.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Hadir Sepenuh Hati, Bukan Sekadar Ada

1. Hadir Sepenuh Hati, Bukan Sekadar Ada./Copyright depositphotos.com/geargodz

Moms, anak tidak hanya membutuhkan kehadiran fisik kita, tetapi juga kehadiran emosional. Duduk di dekat anak sambil memegang ponsel berbeda maknanya dengan duduk sambil benar-benar mendengarkan cerita mereka.

Cobalah menyediakan waktu khusus setiap hari, meski hanya sebentar, untuk benar-benar hadir bagi anak. Simpan ponsel, hentikan aktivitas lain, dan fokuslah pada mereka. Tatap mata anak saat berbicara, dengarkan ceritanya sampai selesai, dan respon dengan penuh empati.

Saat Moms hadir sepenuh hati, anak belajar bahwa dirinya penting dan layak mendapatkan perhatian. Dari sinilah rasa aman dan kelekatan emosional mulai tumbuh dengan kuat.

3 dari 6 halaman

2. Dengarkan Perasaan Anak dan Validasi Emosinya

2. Dengarkan Perasaan Anak dan Validasi Emosinya./Copyright depositphotos.com/geargodz

Setiap anak memiliki emosi yang beragam, mulai dari bahagia, takut, kecewa, hingga marah. Namun, anak belum selalu mampu memahami atau mengungkapkan perasaan tersebut dengan kata-kata yang tepat.

Ketika anak menunjukkan emosi tertentu, Moms bisa menjadi tempat paling aman bagi mereka. Dengarkan tanpa menghakimi dan validasi perasaannya. Kalimat sederhana seperti, “Wajar kok kalau kamu sedih,” atau “Moms tahu kamu lagi kesal,” bisa membuat anak merasa dipahami.

Validasi emosi bukan berarti membenarkan perilaku yang salah, tetapi mengakui bahwa perasaan anak itu nyata. Setelah itu, Moms bisa membantu mengarahkan anak untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih sehat, misalnya lewat berbicara, menggambar, atau aktivitas kreatif lainnya.

Anak yang emosinya dihargai akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan percaya pada orangtuanya.

4 dari 6 halaman

3. Ciptakan Rutinitas Kebersamaan yang Hangat

3. Ciptakan Rutinitas Kebersamaan yang Hangat./Copyright depositphotos.com/somkku

Moms, rutinitas sederhana sering kali memiliki dampak besar dalam membangun bonding. Makan bersama, membaca buku sebelum tidur, atau mengobrol ringan di akhir hari bisa menjadi momen berharga yang sangat berarti bagi anak.

Rutinitas ini memberi anak rasa aman karena mereka tahu ada waktu khusus untuk kebersamaan. Gunakan momen tersebut untuk bertukar cerita, mendengarkan pengalaman anak, atau sekadar tertawa bersama tanpa distraksi.

Tidak perlu lama atau mewah. Yang terpenting adalah kualitas kebersamaan. Dari rutinitas inilah anak belajar bahwa keluarga adalah tempat yang hangat, nyaman, dan penuh cinta.

5 dari 6 halaman

4. Masuk ke Dunia Anak Lewat Bermain

4. Masuk ke Dunia Anak Lewat Bermain./Copyright depositphotos.com/geargodz

Bagi anak, bermain adalah bahasa cinta. Saat Moms mau bermain bersama mereka, Moms sedang menunjukkan bahwa dunia anak adalah sesuatu yang berharga.

Tak harus selalu permainan yang rumit. Bermain peran sederhana, menyusun balok, menggambar, atau bercanda ringan sudah cukup untuk menciptakan kedekatan. Bermain juga membantu anak mengekspresikan emosi dan mengurangi stres, terutama ketika mereka sedang lelah atau suasana hatinya kurang baik.

Lewat bermain, anak melihat Moms bukan hanya sebagai sosok yang mengatur, tetapi juga sebagai teman yang menyenangkan dan bisa dipercaya.

6 dari 6 halaman

5. Seimbangkan Cinta, Apresiasi, dan Batasan

5. Seimbangkan Cinta, Apresiasi, dan Batasan./Copyright depositphotos.com/geargodz

Moms, bonding yang sehat tumbuh dari keseimbangan antara kasih sayang dan batasan yang jelas. Anak perlu tahu bahwa mereka dicintai, sekaligus memahami aturan yang berlaku.

Tunjukkan cinta lewat sentuhan hangat, pelukan, dan kata-kata afirmatif. Berikan apresiasi atas perilaku baik anak, sekecil apa pun itu. Ucapan seperti, “Moms bangga kamu sudah berusaha,” bisa berdampak besar bagi kepercayaan diri anak.

Di sisi lain, tetaplah konsisten dalam menerapkan aturan. Jelaskan dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami mengapa aturan itu penting. Ketika batasan diterapkan dengan penuh kasih, anak belajar tentang tanggung jawab tanpa merasa ditolak atau tidak dicintai.

Membangun kedekatan emosional yang lebih erat dengan anak bukan tentang menjadi orangtua yang sempurna. Bonding adalah tentang kesediaan untuk hadir, belajar, dan bertumbuh bersama anak dari hari ke hari.

Setiap Moms punya caranya sendiri, dan setiap anak pun unik. Selama Moms mau mendengarkan, memeluk, menghargai perasaan anak, serta memberi batasan dengan cinta, hubungan yang hangat dan penuh kelekatan akan tumbuh secara alami.

Kelak, anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang Moms berikan. Akan tetapi, mereka akan selalu mengingat bagaimana rasanya dicintai, diterima, dan merasa aman di dekat Moms. Dari sanalah, cinta dan kasih sayang akan terus hidup, bahkan hingga mereka dewasa nanti.