Sukses

Lifestyle

Valrhona Cocoa Forest di Bali Wujudkan Gastronomi Berkelanjutan

Fimela.com, Jakarta - Indonesia saat ini merupakan produsen kakao terbesar ketujuh di dunia dengan kontribusi sekitar 4% terhadap produksi global. Ke depannya, pertumbuhan sektor ini akan sangat bergantung pada penguatan produksi di hulu serta peningkatan kesejahteraan petani, yang menjadi fondasi penting bagi berkembangnya industri pengolahan kakao nasional.

Melihat hal ini, Nyanyi Bali, sebuah grup multigenerasi asal Bali, Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, berbasis komunitas dan budaya, berkolaborasi dengan Valrhona, perusahaan B Corp asal Prancis, pemimpin dalam gastronomi cokelat premium sejak 1922.

Kolaborasi ini menghadirkan Valrhona Cocoa Forest sebagai tonggak baru dalam pengembangan gastronomi berkelanjutan. Berlokasi di Tabanan, Bali, Valrhona Cocoa Forest merupakan pusat pembelajaran kolaboratif pertama Valrhona di Asia yang dikembangkan berbasis perkebunan kakao.

Kemitraan antara Nyanyi Bali dan Valrhona menghadirkan keahlian berkelas global yang akan berkontribusi dalam memperkuat seluruh rantai nilai kakao dan cokelat, melalui dua pendekatan utama yang saling melengkapi.

“Kami bangga dapat bekerja sama dengan mitra yang memiliki visi sejalan dan membawa keahlian berharga untuk mendorong inisiatif ini ke tahap berikutnya. Kolaborasi ini terjalin berkat komitmen bersama terhadap keberlanjutan, edukasi, dan eksplorasi kreatif, sekaligus menyoroti produk endemik Indonesia yang selama ini belum mendapatkan pengakuan lokal sebagaimana mestinya,” kata Made Ariani Siswanto, Managing Director Nyanyi Bali

Mengelola Tanah dan Air Secara Berkelanjutan

Kawasan seluas satu hektare akan dikembangkan menyerupai kebun kakao tradisional, dengan penerapan prinsip agroforestri dan metode pertanian agroekologis. Dirancang dan dibangun dari awal sejak tiga tahun lalu, area ini menggunakan pendekatan regeneratif, untuk mengelola tanah dan sumber daya air secara lebih berkelanjutan. 

Hutan kakao ini menanam lebih dari 10 varietas kakao yang dipadukan dengan beragam pohon dan tanaman endemik Indonesia, yang mencerminkan komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan dan ekosistem Bali. Inisiatif ini juga telah mendapat pengakuan sebagai Slow Food Farm, sebagai apresiasi atas upaya menghadirkan pangan yang baik, bersih, dan adil.

Pertama, Valrhona akan menjaga sekaligus mengembangkan pasokan biji kakao fermentasi agar para produsen kakao dapat menjangkau pasar cokelat premium. Kedua, kolaborasi ini turut memperkuat ekosistem gastronomi Bali, bahkan Indonesia, melalui program edukasi Nyanyi bagi pelajar, serta program École Valrhona yang didedikasikan untuk para chef.

Warisan panjang Valrhona dalam pengolahan cokelat dan praktik pengadaan bahan yang bertanggung jawab sejalan dengan misi Nyanyi Bali untuk mengembangkan Nyanyi sebagai destinasi pariwisata gastronomi. Kolaborasi ini diarahkan untuk mendorong lahirnya talenta dan inovasi kuliner, sekaligus menghidupkan kembali lahan melalui pendekatan berkelanjutan serta pendidikan berbasis pengalaman.

Emmanuelle Brun, Head of Strategic Growth & New Ventures, Valrhona, menyampaikan inisiatif ini diharapkan dapat mendorong cokelat naik ke tingkat yang sama seperti kopi di Bali, yang kini tidak lagi sekadar diminum, tetapi dinikmati, dipelajari, dan diapresiasi asal-usulnya. Ia menegaskan bahwa cokelat adalah produk yang menuntut ketelitian di setiap proses, mulai dari pemilihan biji kakao terbaik hingga tahapan produksi yang panjang dan presisi.

“Melalui pusat pembelajaran berbasis pengalaman ini, Valrhona berharap dapat memperkuat seluruh rantai nilai kakao sekaligus melibatkan berbagai pihak, mulai dari konsumen, chef, hingga petani, untuk bersama-sama membangun industri kakao lokal yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Emmanuelle.

Nyoman Astari Siswanto, Director Nyanyi Bali mengatakan melalui kolaborasi ini, ingin mengajak masyarakat lokal maupun wisatawan global untuk memahami perjalanan cokelat secara utuh, dari proses budidaya hingga pengalaman rasa. Kakao masih menjadi sumber penghidupan penting bagi petani kecil di Bali.

Kehadiran Valrhona Cocoa Forest diharapkan menjadi ruang belajar terbuka dan pusat komunitas, tempat praktik budidaya, edukasi, dan kreativitas yang saling terhubung, sekaligus menegaskan peran Bali dalam lanskap gastronomi dunia 

“Proyek ini disatukan oleh semangat dan tujuan bersama untuk membangun masa depan Bali yang lebih bertanggung jawab, serta memberi kontribusi bagi komunitas kuliner global,” tutup Astari.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading