Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda merasa lemari pakaian didominasi warna netral dan potongan fungsional yang mirip busana kerja? Fenomena ini dikenal sebagai "commuter core", sebuah tren mode kontemporer yang kini semakin meresap ke dalam gaya berpakaian sehari-hari kita. Ini menandai pergeseran signifikan dalam cara kita memilih busana, bahkan di luar jam kantor.
Tren commuter core ini menggambarkan bagaimana pakaian yang praktis dan seringkali monoton telah mengambil alih pilihan busana, mengubah palet warna lemari pakaian menjadi didominasi krem dan nuansa netral lainnya. Gaya ini muncul sebagai respons terhadap berbagai faktor, termasuk budaya kerja yang intens dan kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi.
Dari kereta komuter hingga ruang publik, banyak individu, terutama demografi profesional muda, kini terlihat mengadopsi gaya berpakaian yang seragam dan fungsional ini. Mereka memilih item-item dasar yang mudah dipadupadankan, menciptakan tampilan yang praktis namun terkadang kurang ekspresif.
Mengenal Lebih Dekat Gaya "Commuter Core" yang Praktis
Gaya "commuter core" didefinisikan sebagai busana yang didominasi oleh pakaian kerja yang praktis dan serbaguna, kini meluas ke kehidupan sehari-hari. Pakaian ini seringkali dicirikan oleh kesan "hambar" dan "monoton" yang mudah ditemui di berbagai tempat umum.
Item-item kunci dalam tren commuter core meliputi:
- Trench coat klasik
- Kaus putih sederhana
- Tas jinjing yang fungsional
- Pakaian berwarna netral seperti krem, abu-abu, hitam, dan putih
Pilihan busana ini berfokus pada fungsionalitas dan kemudahan padu padan, memastikan setiap item bisa dipakai untuk berbagai kesempatan.
Keserbagunaan menjadi nilai utama yang dicari oleh para pengikut tren ini, memungkinkan mereka menciptakan tampilan yang rapi dan profesional tanpa banyak usaha. Pakaian ini juga seringkali terbuat dari bahan yang nyaman dan tahan lama, mendukung aktivitas sepanjang hari.
Pengaruh Budaya Kerja dan Ekonomi pada Pilihan Busana
Salah satu pendorong utama di balik dominasi gaya "commuter core" adalah pengaruh kuat dari budaya kerja modern dan kondisi ekonomi yang kurang stabil. Manisha Sabharwal, seorang penata gaya pribadi, menjelaskan bahwa tren ini bisa jadi merupakan hasil dari "algoritma berpakaian" yang memengaruhi demografi profesional muda. Mereka cenderung mengonsumsi konten fashion yang serupa, sehingga berpakaian dengan gaya yang tidak jauh berbeda.
Kondisi ekonomi juga memainkan peran signifikan dalam membentuk tren ini. Sabharwal mencatat bahwa item-item "commuter core" sering dianggap sebagai "potongan investasi berisiko rendah". Konsumen saat ini cenderung menghindari pembelian mode yang "berbahaya" atau terlalu trendi, dan lebih memilih item-item yang dapat menjadi bagian dari "lemari pakaian kapsul yang sangat fungsional".
Pendekatan ini mencerminkan keinginan untuk berinvestasi pada pakaian yang tahan lama dan serbaguna, daripada mengikuti tren cepat yang cepat berlalu. Hal ini membantu menghemat pengeluaran dan memastikan bahwa setiap item yang dibeli memiliki nilai guna yang tinggi. Oleh karena itu, fungsionalitas dan nilai investasi menjadi pertimbangan utama.
Efisiensi Waktu dan Mental di Balik Tren Commuter Core
Selain pertimbangan finansial, keterbatasan waktu dan bandwidth mental juga menjadi faktor penting yang mendorong adopsi gaya "commuter core". Sabharwal menyatakan bahwa mengadopsi gaya seragam apa pun dapat menghemat waktu dan mengurangi beban pengambilan keputusan sehari-hari. Dalam dunia yang penuh informasi, memiliki formula pakaian yang sederhana adalah sebuah kelegaan.
Fenomena ini mirip dengan kebiasaan Steve Jobs, pendiri Apple, yang selalu mengenakan turtle neck hitam, celana jins biru, dan sepatu New Balance setiap hari. Tujuannya adalah untuk "memfokuskan energinya di tempat lain" dan tidak membuang waktu untuk memikirkan pakaian. Kini, banyak orang biasa di tahun 2026 menghadapi defisit bandwidth mental yang sama.
Dengan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk memilih pakaian, individu dapat mengalihkan energi mental mereka ke tugas-tugas yang lebih penting atau aktivitas yang lebih menyenangkan. Ini menjadikan "commuter core" bukan hanya pilihan gaya, tetapi juga strategi manajemen waktu dan energi yang efektif dalam kehidupan modern yang serba cepat.
Akankah Minimalisme Commuter Core Bergeser ke Glamor?
Meskipun gaya "commuter core" saat ini mendominasi, ada indikasi kuat bahwa tren ini mungkin akan mengalami pergeseran di masa mendatang. Sejarah mode menunjukkan bahwa setelah periode minimalisme atau krisis, seringkali muncul keinginan untuk ekspresi yang lebih berani. Setelah krisis keuangan 2008, misalnya, muncul tren "dopamine dressing" yang mencapai puncaknya pasca-pandemi.
Ini menunjukkan bahwa masyarakat mungkin akan segera mencari sesuatu yang lebih ekspresif dan unik dalam berbusana. Dengan perayaan karya Matthieu Blazy untuk Chanel sebagai contoh, banyak yang memperkirakan bahwa minimalisme akan memudar dan glamor akan kembali ke panggung mode. Pergeseran ini bisa membawa angin segar bagi dunia fashion.
Kita bisa mengharapkan kembalinya bantalan bahu yang menonjol, rok pernyataan yang dramatis, kacamata hitam berukuran besar, perhiasan emas yang menyenangkan, serta lebih banyak motif hewan dan bulu (imitasi). Kilauan di siang hari dan topi yang stylish juga diprediksi akan "membumbui perjalanan harian ke tempat kerja". Ini menandai potensi evolusi dari fungsionalitas murni menuju ekspresi diri yang lebih berani.