Fimela.com, Jakarta - Tantrum sering kali menjadi momen yang paling menguras emosi dalam perjalanan parenting. Tangisan keras, teriakan, atau anak yang menjatuhkan diri ke lantai bisa membuat Moms merasa lelah, bingung, bahkan mempertanyakan cara mengasuh yang selama ini dijalani. Situasi ini terasa makin berat ketika terjadi di ruang publik, di mana tekanan sosial ikut menambah beban emosi.
Tantrum pada dasaarnya bukan perilaku buruk yang harus “dihentikan”, melainkan sinyal bahwa anak sedang kewalahan menghadapi perasaannya sendiri. Anak, terutama di usia balita, belum memiliki kemampuan bahasa dan regulasi emosi yang matang. Karena itu, mencegah tantrum bukan soal membuat anak selalu patuh, melainkan membantu mereka merasa dipahami, aman, dan mampu mengekspresikan kebutuhan dengan cara yang lebih sehat.
Dengan pendekatan parenting yang lebih sadar dan empatik, tantrum dapat diminimalkan sejak awal. Berikut lima tips penting yang bisa Moms terapkan untuk membantu anak tidak mudah tantrum seperti yang dirangkum dari laman kidshealth.org. Simak uraiannya berikut ini.
1. Perhatian Positif yang Konsisten Membuat Anak Lebih Tenang
Tantrum sering muncul ketika anak merasa kurang diperhatikan. Dalam keseharian, orang tua cenderung lebih cepat bereaksi saat anak berbuat salah, tetapi lupa memberi respons saat anak bersikap positif. Pola ini tanpa disadari membuat anak belajar bahwa cara paling cepat untuk mendapatkan perhatian adalah melalui perilaku ekstrem.
Mulailah membangun kebiasaan memberi perhatian positif secara sadar. Perhatikan dan apresiasi perilaku baik anak, sekecil apa pun itu. Pujian akan terasa lebih bermakna jika disampaikan secara spesifik, misalnya, “Ibu senang kamu mau menunggu giliran,” atau “Terima kasih sudah berbagi mainan dengan adik.”
Ketika anak merasa dilihat dan dihargai, kebutuhan emosinya terpenuhi. Anak pun tidak perlu meluapkan frustrasi melalui tantrum untuk mencari perhatian. Dalam jangka panjang, pola ini membantu anak memahami bahwa perilaku positif adalah cara yang aman dan efektif untuk terhubung dengan orang tua.
2. Beri Anak Rasa Kendali Lewat Pilihan Sederhana
Banyak tantrum berakar dari rasa tidak berdaya. Anak kecil sering hidup dalam rutinitas yang ditentukan sepenuhnya oleh orang dewasa. Tanpa disadari, kondisi ini membuat anak merasa tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Moms bisa mengurangi potensi tantrum dengan memberi anak pilihan kecil yang aman. Misalnya, “Kamu mau pakai kaus merah atau biru?” atau “Mau sikat gigi sebelum mandi atau setelah mandi?” Dengan cara ini, anak tetap mengikuti rutinitas yang diperlukan, tetapi merasa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Penting untuk memastikan bahwa semua pilihan yang ditawarkan sama-sama bisa diterima oleh orang tua. Hindari pertanyaan terbuka yang memberi ruang penolakan total. Rasa kendali sederhana ini membantu anak merasa dihormati, sehingga keinginan untuk melawan atau meluapkan emosi berlebihan menjadi berkurang.
3. Lingkungan yang Tertata Membantu Mencegah Ledakan Emosi
Anak belum mampu mengelola keinginan dan kekecewaan seperti orang dewasa. Ketika mereka melihat benda menarik yang tidak boleh disentuh, konflik emosional pun mudah terjadi. Dalam kondisi ini, tantrum sering kali menjadi respons spontan.
Mengatur lingkungan adalah langkah preventif yang sangat efektif. Di rumah, simpan benda-benda yang berpotensi memicu konflik di tempat yang tidak terlihat atau sulit dijangkau. Ini bukan berarti Moms memanjakan anak, melainkan menyesuaikan lingkungan dengan tahap perkembangan mereka.
Di luar rumah, memang tidak semua situasi bisa dikendalikan. Namun, dengan menyadari potensi pemicu tantrum sejak awal, Moms dapat lebih siap mengarahkan anak atau merespons dengan tenang sebelum emosi mereka memuncak.
4. Alihkan Emosi Anak ke Aktivitas yang Lebih Konstruktif
Distraksi yang tepat dapat mencegah tantrum berkembang menjadi ledakan emosi. Saat anak mulai frustrasi karena keinginannya tidak terpenuhi, cobalah mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain yang tetap menarik dan bermakna.
Misalnya, ketika anak melompat-lompat di sofa, ajak mereka membantu Moms melakukan aktivitas sederhana seperti “memasak” dengan alat mainan atau menyusun barang. Perubahan fokus ini membantu anak melepaskan emosi negatif tanpa merasa ditolak.
Selain itu, perubahan lingkungan juga sering kali efektif. Berpindah ruangan, keluar rumah sejenak, atau memulai kegiatan baru dapat memberi jarak emosional dari sumber frustrasi. Setelah anak berhasil mengikuti arahan, jangan lupa memberi pujian agar mereka belajar bahwa mengelola emosi juga membawa pengalaman positif.
5. Kenali Batasan Anak dan Pilih Konflik dengan Bijak
Tidak semua hal perlu diperjuangkan. Parenting yang sehat bukan tentang selalu berkata “tidak”, tetapi tentang mengetahui kapan harus tegas dan kapan bisa lebih fleksibel. Terlalu banyak larangan justru meningkatkan risiko tantrum.
Pertimbangkan setiap permintaan anak dengan tenang. Apakah permintaan tersebut benar-benar tidak masuk akal, atau hanya tidak sesuai dengan rencana Moms? Dalam situasi tertentu, mengubah keputusan awal bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepekaan dan kebijaksanaan.
Selain itu, kenali batas fisik dan emosional anak. Anak yang lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi jauh lebih mudah tantrum. Mengajak anak beraktivitas berat saat mereka sudah kelelahan sering kali menjadi pemicu konflik yang sebenarnya bisa dihindari. Dengan menyesuaikan jadwal dan kebutuhan anak, Moms sedang mencegah tantrum bahkan sebelum tanda-tandanya muncul.
Tantrum bisa dimaknai sebagai bahasa emosi anak yang belum sepenuhnya berkembang. Dengan pendekatan yang lebih sadar, yaitu memberi perhatian positif, rasa kendali, lingkungan yang ramah, distraksi yang tepat, serta empati terhadap batas anak, Moms tidak hanya mengurangi frekuensi tantrum, tetapi juga membantu anak membangun kemampuan mengelola emosi sejak dini.
Tujuan parenting salah satunya adalah membantu anak merasa aman untuk mengekspresikan perasaan, belajar dari pengalaman, dan tumbuh dengan kepercayaan diri. Ketika Moms mampu hadir dengan tenang di tengah emosi anak yang meledak, di situlah anak belajar bahwa setiap perasaan bisa dihadapi, bukan ditakuti.