Fimela.com, Jakarta - Di tengah isu perubahan iklim, krisis air, hingga hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin mengkhawatirkan, Louis Vuitton memperkenalkan babak baru dalam perjalanan sustainability mereka lewat program “Regeneration 2030”. Jika sebelumnya banyak brand fokus pada upaya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, Louis Vuitton kini ingin melangkah lebih jauh: bukan hanya menjaga, tetapi juga memulihkan alam dan ekosistem.
Program ini menjadi kelanjutan dari “Our Committed Journey”, roadmap sustainability Louis Vuitton sejak 2020 yang selaras dengan program LIFE 360 milik LVMH. Lewat Regeneration 2030, rumah mode asal Prancis tersebut berupaya mengubah cara mereka merancang, memproduksi, hingga mendistribusikan produk agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Fokusnya tidak lagi hanya pada pengurangan emisi, tetapi juga memperpanjang usia produk, menggunakan material yang lebih ramah lingkungan, hingga mendukung komunitas lokal dan pelestarian alam.
Louis Vuitton membangun roadmap baru ini di atas tiga pilar utama, yakni mendukung transisi lingkungan, memperkuat Circular Creativity, serta berinovasi dalam operasional berkelanjutan. Seluruh langkah tersebut diterapkan pada setiap tahap siklus hidup produk, mulai dari sourcing bahan baku, desain, produksi, pengemasan, transportasi, hingga layanan perawatan produk setelah dibeli konsumen.
Perjalanan Sustainability Louis Vuitton Sejak 2020
Dalam lima tahun terakhir, Louis Vuitton telah mencatat sejumlah kemajuan signifikan. Salah satu fokus utamanya adalah responsible sourcing atau sourcing bahan baku yang lebih bertanggung jawab. Jika pada 2020 hanya 52 persen bahan baku yang bersertifikasi, pada 2025 angkanya meningkat menjadi 98 persen. Bahkan, seluruh bahan baku alami Louis Vuitton kini sudah dapat ditelusuri asal-usulnya, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan.
Langkah ini penting karena bahan baku menyumbang hampir 50 persen jejak karbon Louis Vuitton. Salah satu contohnya terlihat pada sneaker Rivoli yang diluncurkan pada April 2025. Sepatu ini menggunakan sol hasil daur ulang dari 1.234 pasang sol sepatu lama untuk memproduksi 3.000 pasang sol baru. Selain itu, 66 persen materialnya berasal dari sumber berkelanjutan, sementara tali sepatu menggunakan 100 persen polyester daur ulang.
Louis Vuitton juga berhasil mengurangi penggunaan plastik sekali pakai hingga 90 persen dibandingkan tahun 2019. Brand ini bahkan menghilangkan penggunaan magnet pada gift box mereka, yang membantu mengurangi sekitar 33 ton limbah magnet setiap tahun dan menurunkan emisi karbon hingga 1.800 ton CO2.
Menekan Emisi dan Mengurangi Konsumsi Energi
Dalam menghadapi perubahan iklim, Louis Vuitton berfokus pada tiga sumber emisi terbesar mereka: bahan baku, transportasi, dan konsumsi energi. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah mengurangi penggunaan energi di workshop hingga 30 persen antara 2021 hingga 2025. Workshop terbaru mereka, seperti L’Oratoire di Prancis, dirancang dengan pendekatan bioklimatik sehingga mampu menghemat energi hingga 40 persen dibanding fasilitas sebelumnya.
Louis Vuitton juga mempercepat penggunaan listrik terbarukan. Pada 2025, sebanyak 95 persen listrik di workshop dan pusat logistik mereka sudah berasal dari energi terbarukan, meningkat dari 69 persen pada 2020. Selain itu, 91 persen toko Louis Vuitton kini sudah menggunakan lampu LED hemat energi.
Dalam sektor transportasi, Louis Vuitton mulai menguji pengiriman lintas Atlantik menggunakan kapal kargo bertenaga layar bersama startup Prancis Grain de Sail. Cara ini disebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 90 persen dibanding pengiriman kargo konvensional. Hingga 2025, sudah ada sembilan kali pengiriman yang dilakukan melalui metode tersebut.
Salah satu konsep utama dalam Regeneration 2030 adalah Circular Creativity, yakni prinsip desain yang memprioritaskan daya tahan, reuse, repair, dan recycle. Louis Vuitton ingin memastikan produknya tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki usia pakai yang panjang.
Saat ini, layanan Care & Repair Louis Vuitton telah mencakup seluruh kategori produk. Setiap tahunnya, hampir 600 ribu item diperbaiki oleh 400 artisan di 11 atelier yang tersebar di delapan negara. Ini memperkuat filosofi Louis Vuitton bahwa tas dan produk mereka dirancang untuk diwariskan lintas generasi.
Louis Vuitton juga mulai memperluas penggunaan produk refillable atau isi ulang, termasuk untuk lini parfum dan kecantikan. Sementara itu, dalam koleksi fashion, mereka memanfaatkan material sisa dan deadstock. Koleksi Boro Landscape Denim, misalnya, menggunakan lebih dari 3.000 meter denim sisa untuk menciptakan tas-tas ikonis seperti Speedy, Keepall, dan Neverfull.
Tak hanya pada produk, konsep circular juga diterapkan pada fashion show, pameran, dan window display. Pada 2025, sebanyak 97 persen material yang digunakan dalam fashion show berhasil digunakan kembali atau didaur ulang. Untuk Cruise 2026 show di Avignon, 96 persen material yang dipakai berhasil reused, recycled, atau donated setelah acara selesai.
Fokus Baru pada Biodiversitas dan Krisis Air
Dalam roadmap 2026-2030, Louis Vuitton menempatkan biodiversitas dan air sebagai fokus baru. Salah satu target mereka adalah membantu melindungi dan memulihkan satu juta hektare habitat flora dan fauna. Brand ini juga mulai mengembangkan rantai pasok untuk kulit, kapas, dan wol yang berasal dari praktik regenerative agriculture.
Louis Vuitton juga menargetkan pengurangan konsumsi air hingga 30 persen di seluruh operasional mereka pada 2030. Untuk mewujudkannya, mereka bekerja sama dengan WWF dan para ahli lokal dalam proyek ketahanan air di wilayah Drôme-Ardèche, Prancis. Proyek ini akan membantu para petani mengembangkan praktik pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan lebih efisien dalam penggunaan air.
Komitmen Louis Vuitton terhadap biodiversitas juga terlihat lewat kolaborasi dengan organisasi konservasi People For Wildlife sejak 2023. Program ini berfokus pada perlindungan area seluas 400 ribu hektare di Australia Timur Laut yang menjadi habitat lebih dari 4.300 spesies flora dan fauna, termasuk 293 spesies terancam punah seperti Palm Cockatoo, Saltwater Crocodile, dan Jardine River Turtle.
Melalui program ini, Louis Vuitton tidak hanya mendukung konservasi alam, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal melalui bisnis berbasis alam dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Pada 2025, People For Wildlife bahkan menerima penghargaan Australian Geographic Award for Nature berkat kontribusinya dalam pelestarian lingkungan.
Lewat Regeneration 2030, Louis Vuitton ingin menunjukkan bahwa masa depan luxury fashion tidak hanya soal craftsmanship dan desain, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap bumi. Bagi Louis Vuitton, produk mewah tidak hanya diciptakan untuk digunakan sesaat, melainkan untuk dirawat, diwariskan, dan tetap relevan bagi generasi berikutnya.