Menikmati Film Indonesia dan Australia dalam FSAI 2026 yang Kembali Hadir dan Jelajahi 11 Kota

Sarah ArsaliyanaDiterbitkan 23 April 2026, 18:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Festival Sinema Australia dan Indonesia (FSAI) kembali digelar di tahun 2026 dengan membawa film-film kontemporer dari kedua negara ke berbagai kota di Indonesia. Festival ini tidak hanya menjadi ruang untuk menonton, tetapi juga menghadirkan cara lain dalam memahami cerita lintas budaya melalui cara yang lebih dekat dengan keseharian.

Tahun ini, FSAI hadir di 11 kota yaitu Jakarta, Manado, Makassar, Semarang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Bogor, Yogyakarta, Kupang, dan Mataram. Kehadiran di berbagai kota ini memperluas akses penonton terhadap film-film pilihan yang telah dikurasi sesuai dengan preferensi audiens di Indonesia.

Sahabat Fimela, pemilihan film dilakukan dengan mempertimbangkan resonansi cerita agar tetap relevan dengan penonton lokal. Hal ini menjadi salah satu pendekatan yang membuat festival ini tidak hanya menghadirkan variasi tontonan, tetapi juga pengalaman yang terasa dekat.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menyampaikan bahwa festival ini menjadi cara untuk mempertemukan cerita dari kedua negara secara langsung. “FSAI membawa cerita Australia dan Indonesia secara langsung kepada penonton Indonesia sehingga memperkuat pemahaman budaya melalui film dan merayakan kemitraan industri kreatif kita yang terus berkembang,” ujarnya.

2 dari 3 halaman

Pengalaman Terbaru untuk Menikmati Film dari PSAI 2026

Salah satu hal baru yang dihadirkan tahun ini adalah program “Screen on the Green” (Sumber: Australian Embassy Jakarta)

FSAI 2026 menghadirkan sejumlah program yang dapat memberikan pengalaman menonton yang berbeda dari tahun sebelumnya. Festival ini dibuka dengan penayangan film berjudul Kangaroo, sebuah film drama komedi yang mengambil latar di Pedalaman Australia dengan cerita yang memperlihatkan hubungan antar tokoh dan pentingnya komunitas.

Sahabat Fimela, salah satu hal baru yang dihadirkan tahun ini adalah program “Screen on the Green” yaitu pengalaman menonton film di ruang terbuka yang berlokasi di Kebun Raya Bogor. Konsep ini memberikan suasana yang lebih santai sehingga penonton dapat menikmati film dengan latar alam terbuka.

Dalam rangkaian programnya, FSAI 2026 menampilkan lima film Australia dan dua film karya alumni Australia di Indonesia. Selain itu, terdapat empat film pendek Indonesia karya alumni Australian Alumni Awards yang turut menjadi bagian dari program film pendek.

Kehadiran berbagai jenis film ini menunjukkan keberagaman pendekatan cerita yang dihadirkan, mulai dari film panjang hingga film pendek dengan perspektif yang berbeda.

FSAI juga melengkapi programnya dengan sesi masterclass sinematografi dan produksi film dokumenter. Sesi ini akan dipandu oleh praktisi film Australia seperti Andrew Commis serta Associate Professor Michelle Johnston dari Curtin University.

3 dari 3 halaman

Kolaborasi yang Terus Dibangun Lewat Industri Film

Potensi kolaborasi juga terlihat dari kemungkinan distribusi film Indonesia ke Australia serta peluang kerjasama produksi di masa depan (Sumber: Australian Embassy Jakarta)

Sahabat Fimela, FSAI menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang terus dikembangkan antara Indonesia dan Australia dalam industri kreatif. Festival ini tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membuka ruang diskusi dan peluang kerja sama yang lebih luas.

Rod Brazier menegaskan bahwa kolaborasi ini akan terus berjalan ke depannya. “Pasti kolaborasi akan dilanjutkan, baik dalam bentuk FSAI maupun Australia Awards untuk teman-teman Indonesia yang ikut short course di Australia,” ujarnya.

Dari sisi Indonesia, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar melihat bahwa peluang bagi sineas Indonesia untuk berkembang ke level global selalu terbuka. Ia menekankan bahwa hal tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Impossible is I’m possible. Possibility itu pasti semuanya ada dan butuh semua dukungan dari banyak pihak,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa animo dari negara lain terhadap film Indonesia cukup tinggi sehingga membuka peluang lebih luas bagi karya lokal untuk dikenal secara internasional. Dalam hal ini, para sineas juga didorong untuk mulai melihat peluang tersebut.

Selain itu, potensi kolaborasi juga terlihat dari kemungkinan distribusi film Indonesia ke Australia serta peluang kerjasama produksi di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun tidak hanya berhenti pada festival, tetapi juga berkembang ke arah kolaborasi industri yang lebih luas.