Sukses

Fashion

Breakfast With Dorothy Perkins

Vemale.com - Jika Anda pecinta fashion, jangan bilang bahwa Anda tak mengenal Dorothy Perkins. Label retail asal Inggris ini tak hanya berkibar di kota mode London, namun juga tersebar di mancanegara, termasuk daratan Asia dan tentunya Indonesia. Butik pertamanya hadir di Oxford Street London pada tahun 1977, dan kini Anda bisa dengan mudah mendapati koleksinya di departement store terkemuka serta mal di kota besar tanah air. Sepintas karakter gaya Dorothy Perkins menawarkan gaya feminin dan manis lewat koleksinya. Namun, citra dan aura Londoners yang fashionable dan edgy melebur dalam DNA dari label ini. Lantas, apa perbedaan dari Dorothy Perkins dengan London's high-street brand lainnya? Pertengahan Maret lalu, Dorothy Perkins mengundang Cosmo untuk sarapan pagi di National Museum of Singapore, Stamford Road, Singapura. Sarapan ini tentunya bukan makan pagi biasa. Karena pada kesempatan ini, hadir tokoh-tokoh penting dari Dorothy Perkins, sepeti Charlotte Pettician, Buying Director dan Claire Pinckney, Design Manager. Pada momen ini juga, Dorothy Perkins berkesempatan untuk memamerkan inovasi terkini serta gaya kunci dari koleksi Spring/Summer 2011. Setelah sarapan dan mingle dengan sesama editor fashion dan penjuru Asia, saatnya Cosmo memasuki ruangan The Salon yang berada di lantai dasar museum. Bangunan klasik berwarna putih dari rak-rak yang dipenuhi dengan busana koleksi Dorothy Perkins, yang dibagi dalam beberapa seksi menurut tema koleksi. Ya, koleksi kali ini warnanya terlihat begitu menggiurkan. Dalam presentasi pun, Charlotte mengungkapkan bahwa warna-warna terang seperti kuning, tangerine, dan cobalt merajai hampir dari keseluruhan tema. Juicy and fresh! Holiday in the 50s and 70s Charlotte menambahkan bahwa pengaruh tren Spring/Summer 2011 seperti color blocking, 50s, 70s, clashing color and print turut memengaruhi tema koleksi terbaru Dorothy Perkins musim ini. Modern 50s hadir dengan siluet pinggang ramping namun tetap nyaman untuk seaside holiday. Sementara free spirit dan flower generation dari era 70-an, memberi sentuhan segar dan begitu muda. "Spirit Dorothy Perkins adalah wanita yang feminin, not too edgy, not too preppy, and she likes to be fashionable, serta menjadikan gaya streetwear ala selebriti sebagai inspirasi," tutur Charlotte yang telah bergabung dengan brand ini selama 20 tahun. Namun quote yang paling diingat Cosmo adalah, Dorothy Perkins gives you flatering look and is surely accessible. Yes, ini dia key statement dari label yang memiliki second line Doll & Frog. Fashion item seperti celana capri berwarna terang, jumper, pencil skirt bermotif retro, hingga maxi dress menjadi sorotan penting di mata Cosmo. Begitu mudah dinikmati dan....tentunya saja ramping! THE INTERVIEW: Sebelum mengakhiri sarapan kali ini, Cosmo akhirnya bisa bercakap langsung dengan Charlotte Pettican dan. Pinckney di mana Claire turut mendesain lini aksesori. Cosmo: Ceritakan tentang styling concept dari Dorothy Perkins. Charlotte: Layering is very important, we do layering a lot. Apalagi, clashing color and print menjadi fokus bagi tema gaya '70an ala Dorothy Perkins. Cosmo: Bagaimana proses desain Dorothy Perkins? Claire: Tiap koleksi sekurangnya membutuhkan tiga season sebelum akhirnya dilansir. Dimulai dari design prediction yang diperoleh dari streetwear sampai catwalk, brainstroming dalam tim, hingga marketing. Bagi Dorothy Perkins, detail merupakan unsur penting dalam total look. Kami menambahkan embellishment, lace, hingga lining dalam tiap koleksi. Dan, aksesori memegang peranan penting bagi brand ini. Cosmo: Ada rencana untuk memiliki ambassador seperti kolaborasi Kate Moss dengan Topshop? Charlotte: Tidak. Kami justru membuat inovasi lain, seperti menyelenggarakan The Print gn Competition dengan peserta pelajar sekolah mode di daratan Inggris. Pemenangnya adalah Charis Younger dari Northumbria University. Jurinya selain saya, juga ada fashion designer Olivia Rubin, serta Fashion Director dari UK Cosmopolitan, Shelly Vella. Penenangnya berkesempatan untuk magang di Dorothy Perkins, dan karya yang dimenangkan dapat diperoleh di butik kami. Seru, bukan? Claire: sebenarnya kami pernah bekerja sama dengan top model Helena Christensen di 1994 sebagai wajah brand ini. Namun, kami menginginkan sesuatu yang baru dan beda, seperti kompetisi ini misalnya. Cosmo: Dalam presentasi disebutkan bahwa gaya Dorothy Perkins kerap terinspirasi oleh street style ala selebriti. Siapa yang Anda maksud di sini? Charlotte: Hmmm...siapa ya? Mungkin Blake Lively dan Olivia Palermo. [initial] Source: Cosmopolitan, Edisi Mei 2011, Halaman 94 (Cosmo/bee)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading