Sukses

FimelaMom

5 Tips Parenting untuk Membesarkan Anak yang Baik Hati

Fimela.com, Jakarta - Banyak orangtua berharap anaknya tumbuh cerdas, mandiri, dan sukses. Itu memang sesuatu yang wajar, tetapi yang sering terlupakan adalah kualitas yang menjadi penentu kebahagiaan jangka panjang seorang anak, yaitu kebaikan hati. Anak yang baik hati tidak hanya mampu membangun hubungan yang sehat, tetapi juga memiliki ketahanan emosional dan kepedulian sosial yang kuat.

Pola asuh agar anak tumbuh baik hati bukan tentang menjadikan anak selalu mengalah atau terlalu penurut. Justru ada proses membimbing anak agar mampu memahami perasaan orang lain, berani berbuat baik, dan sadar bahwa tindakannya memiliki dampak bagi sekitar. Kabar baiknya, empati dan kebaikan hati bukan bakat bawaan semata, melainkan nilai yang bisa ditumbuhkan melalui pengalaman sehari-hari di rumah. Berikut lima tips pola asuh, seperti yang dirangkum dari laman website Michele Borba (seorang psikolog pendidikan, pakar parenting, kontributor acara TODAY Show, dan penulis 22 buku), yang dapat membantu Moms menanamkan kebaikan hati pada buah hati tercinta.

1. Mengajak Anak Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Langkah awal dalam pola asuh agar anak tumbuh baik hati adalah membantu mereka mengenali emosi orang lain. Anak kecil masih berada pada fase egosentris, di mana dunia terasa berputar di sekeliling dirinya. Maka, orangtua berperan sebagai pemandu yang membantu anak melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.

Saat ada teman yang tampak murung, saudara yang kesal, atau seseorang yang sedang lelah, bantu anak membaca situasi tersebut. Moms bisa berkata dengan lembut, “Kamu lihat wajahnya? Sepertinya dia sedang sedih.” Kalimat sederhana seperti ini melatih kepekaan emosional anak tanpa menggurui.

Seiring waktu, anak akan terbiasa memperhatikan ekspresi, nada suara, dan bahasa tubuh orang lain. Dari sinilah empati mulai tumbuh.

2. Melatih Empati Lewat Bertukar Peran

Anak belajar paling efektif melalui pengalaman. Salah satu cara yang sangat membantu dalam pola asuh agar anak tumbuh baik hati adalah mengajak mereka bertukar peran. Ketika anak tanpa sengaja menyakiti perasaan orang lain, alih-alih langsung memarahi, ajak anak membayangkan dirinya berada di posisi tersebut.

Moms bisa bertanya, “Bagaimana perasaanmu kalau kamu diperlakukan seperti itu?” Pertanyaan ini mendorong anak berpikir dan merasakan, bukan sekadar takut pada hukuman. Untuk anak yang lebih kecil, permainan peran dengan boneka atau mainan bisa menjadi alat yang menyenangkan sekaligus mendidik.

Dengan latihan seperti ini, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi emosional.

3. Mengembangkan Imajinasi Emosional Anak

Imajinasi bukan hanya alat bermain, tetapi juga jembatan menuju empati. Dalam pola asuh agar anak tumbuh baik hati, Moms dapat memanfaatkan momen sederhana untuk mengajak anak membayangkan perasaan orang lain.

Ketika anak membuat kartu ucapan, membantu seseorang, atau berbagi mainan, ajak ia membayangkan bagaimana perasaan penerimanya. “Coba bayangkan, bagaimana perasaannya saat menerima ini?” Pertanyaan seperti ini membantu anak mengaitkan perbuatannya dengan dampak positif yang nyata.

Lambat laun, anak akan memahami bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain.

4. Menjadi Teladan Nyata dalam Bersikap Baik

Tidak ada pola asuh agar anak tumbuh baik hati yang lebih kuat daripada keteladanan. Anak memperhatikan lebih banyak dari yang sering kita sadari. Cara Moms berbicara pada pasangan, memperlakukan tetangga, atau merespons situasi sulit akan menjadi cermin bagi anak.

Ketika anak melihat orangtuanya bersikap empatik, suka menolong, dan menghargai orang lain, nilai-nilai itu tertanam secara alami. Akan lebih bermakna jika anak diajak terlibat langsung, misalnya menemani saat berbagi makanan, menjenguk orang sakit, atau membantu sesama.

Dengan begitu, anak tidak hanya mendengar tentang kebaikan, tetapi merasakannya secara langsung.

5. Menggunakan Disiplin yang Mengajarkan Nurani

Disiplin tetap dibutuhkan dalam parenting, tetapi cara menerapkannya sangat menentukan pembentukan karakter anak. Pola asuh agar anak tumbuh baik hati menekankan disiplin yang mengedepankan penjelasan dan kesadaran, bukan sekadar hukuman.

Saat anak berbuat salah, jelaskan dampak perilakunya terhadap orang lain. “Perkataan itu membuat temanmu sedih,” misalnya, membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan perasaan orang lain. Pendekatan ini membangun tanggung jawab emosional dan suara hati yang kuat.

Anak yang dibimbing dengan cara ini cenderung tumbuh menjadi pribadi yang patuh sekaligus memiliki rasa peduli yang tinggi.

Moms, membesarkan anak yang baik hati adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Setiap percakapan kecil, setiap teladan sederhana, dan setiap pengalaman empatik yang Moms hadirkan akan membentuk fondasi karakter anak di masa depan.

Pola asuh agar anak tumbuh baik hati bukan tentang kesempurnaan orangtua, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, mendengar, dan membimbing dengan hati. Anak yang tumbuh dengan empati akan membawa kebaikan itu ke mana pun ia melangkah, dan itulah warisan terindah yang dapat kita tinggalkan sebagai orangtua.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading