Sukses

Lifestyle

Tak Semua Perempuan Punya Privilege Bisa Sekolah Tinggi dengan Mudah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Risma Ariesta - Salatiga

Pendidikan untuk Semua

Masalah utama ketertinggalan Indonesia dengan negara-negara lainnya ialah kebodohan dan kemiskinan. Yang mana, hal tersebut merupakan akibat dari lemahnya sektor ekonomi dan pendidikan dalam sebuah bangsa. Ironisnya, karena salah satu dari dua hal itu pulalah, aku harus meredam mimpiku untuk sejenak. Mimpi menjadi seorang mahasiswi yang beruntung mampu mengenyam tingkat pendidikan lebih tinggi daripada hanya sekadar lulusan SMK, sepertiku. Hal tersebut juga bukan tanpa alasan. Karena aku ingin agar masyarakat tak lagi memandangku dengan sebelah mata.

Sebenarnya, mungkin derajat pendidikan seseorang, apalagi seorang perempuan bukanlah tolok ukur kesuksesannya di masa depan. Karena biasanya, perempuan hanya akan identik dengan tiga hal, yakni bersolek, memasak, dan mengasuh anak. Namun demikian, justru perempuan sangat berhak mendapatkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Karena sebenarnya, pendidikan itu tidak hanya akan berguna untuk dirinya sendiri, melainkan untuk generasi-generasi emas yang dilahirkannya kelak. Perempuan adalah guru sekaligus pendidik pertama bagi seorang anak yang baru lahir ke dunia.

Sekelumit ceritaku bermula pada tahun 2016 lalu. Sekitar pertengahan April setelah ujian nasional diadakan, aku menerima kabar gembira berupa pengumuman diterimanya aplikasiku pada jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri Semarang melalui jalur SNMPTN. Tapi pada tahun yang sama pula, aku harus menelan pil pahit berupa penolakan dari keluarga karena keterbatasan biaya. Berangkat dari sana, gagasan yang tak pernah terlintas di kepalaku justru ditawarkan oleh ibu. Yakni bekerja sebagai TKI ke negara tetangga.

 

 

 

Kata ibu, aku harus berusaha sedemikian rupa demi meraih cita-citaku mengenyam pendidikan tinggi di bangku kuliah. Entah itu satu, dua, atau beberapa tahun lagi. Namun melalui hal tersebut, aku menjadi sadar bahwa aku harus lebih tangguh menghadapi hidup ini. Selain itu, secara tidak langsung ibu juga turut mengajariku menjadi seorang perempuan yang dewasa lebih cepat, serta mandiri lebih awal daripada mereka yang bahkan sedang duduk di bangku kuliah. Jadi, ternyata bermanfaat sekali hikmah dibalik penolakan keluargaku untuk berkuliah di awal aku lulus SMK.

Selama menjalani kehidupan sebagai TKI, sudah banyak cerita yang kuukir dan dapatkan juga dari teman-teman seperjuangan. Kadang, bahkan usia mereka terlampau jauh di atasku. Namun demikian, rupanya semangat untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah itu masih ada. Bahkan, gaji tetap per bulan yang saat itu selalu kudapatkan pun tidak juga meredakan dahagaku terhadap ilmu.

Lagipula selama menjadi sebagai operator bagian produksi di pabrik tempatku bekerja, aku menemukan sebuah fakta yang sebenarnya sangat memilukan. Pasalnya di pabrik tempatku bekerja saat itu, mayoritas pekerjanya adalah perempuan. Itupun sebagian besar ditempatkan di bagian produksi, yang tidak sedikit juga dari mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Sedangkan, untuk pegawai laki-laki justru banyak yang menjadi leader, manajer, supervisor, atau bahkan bos besar sekali pun. Di sini, ketidakseimbangan proporsi antara laki-laki dan perempuan sangat jelas terlihat.

 

Hingga pada suatu kali aku diberi nasihat oleh salah satu leaderku dengan bahasa Melayu, “Bila awak nak keje senang, sekolah dulu tinggi-tinggi.” Yang intinya, jika ingin bekerja di posisi yang bagus dan pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak tenaga, pendidikan tinggi umumnya masih menjadi indikator prestasi seseorang di sebuah perusahaan. Padahal, setiap kita pasti memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk bisa berada di posisi yang kita inginkan.

Memang benar, pendidikan menjadi suatu hal yang sangat krusial bagi kemajuan sebuah negara. Namun demikian, seharusnya pemerataan pendidikan juga lebih diperhatikan oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya. Apalagi untuk para perempuan yang akan melahirkan calon-calon generasi penerus bangsa. Subsidi terhadap biaya pendidikan pun, tak kalah penting untuk makin digalakkan. Selain itu, penambahan pengajar dari tenaga-tenaga ahli yang mumpuni di bidangnya juga sangat diperlukan, agar keberhasilan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat dalam sebuah negaraa, khususnya Indonesia benar-benar tercapai.

;
Loading