Sukses

Lifestyle

Serba-serbi Tren Industri Travel Tahun 2020

Fimela.com, Jakarta Industri travel Indonesia yang bernilai lebih dari 60 miliar USD merupakan salah satu negara paling menjanjikan di seluruh wilayah Asia Pasifik - dengan pertumbuhan sebesar 7,8% pada tahun 2018 yang melampaui pertumbuhan ekonomi negara Indonesia secara keseluruhan, serta mencapai dua kali lipat tingkat pertumbuhan rata-rata industri travel secara global.

Akan tetapi, industri dan para wisatawan berubah dengan cepat, kesuksesan di masa lalu bukanlah jaminan untuk masa depan. Saat kita memasuki tahun yang baru, berikut merupakan tiga poin utama yang perlu dipertimbangkan industri dengan hati-hati jika ingin mengakses potensi pertumbuhan sepenuhnya.

Menjadi bagian dalam Experience Economy, sebelum hal ini mendorong atau menguasai Anda

Meskipun Experience Economy bukanlah hal yang baru, pengaruhnya terhadap US$ 9 triliun sektor perjalanan dan pariwisata global menjadi semakin besar dari sebelumnya. Experience Economy didorong oleh dua tren yang menyatu, meningkatkan permintaan akan pengalaman yang berkesan dan dipersonalisasi, serta kemajuan pesat dalam teknologi.

Saat ini, pengeluaran global untuk memberikan pengalaman sudah lebih besar dari pada pengeluaran untuk barang dan jasa, dan permintaan akan pengalaman semakin meningkat dari generasi ke generasi. Teknologi memegang kunci untuk membuka potensi signifikan dalam industri perjalanan. Dan setiap hari, kemajuan baru menghadirkan peluang baru untuk memberikan nilai yang juga baru.

Contoh bagaimana Experience Economy membentuk industri perjalanan dan pariwisata saat ini ada di mana-mana. Singapore Tourism Board telah membuat simulasi yang memungkinkan para wisatawan yang transit di Bandara Changi untuk mengambil tempat duduk di atas becak tradisional, mengenakan headset VR dan melakukan tur virtual Singapura - lengkap dengan elemen 4D seperti bau dan kabut - semuanya tanpa meninggalkan Bandara.

EatWith memungkinkan wisatawan untuk makan dengan penduduk setempat di rumah mereka di negara-negara termasuk Kamboja dan Cina. Dan Airbnb Experiences memungkinkan wisatawan memesan semuanya, mulai dari menghadiri upacara minum teh dengan para biksu di Taipei hingga bermain sepak bola dengan penduduk setempat di Hanoi. Experience Economy akan selalu ada.

Hal ini menjadi peluang bagi mereka yang dapat memanfaatkannya secara tak terbatas. Namun demikian juga menjadi tantangan bagi perusahaan yang gagal merespons dan berkembang.

 

APAC memimpin permintaan untuk perubahan

Permintaan di wilayah ini sekarang termasuk yang tertinggi di dunia untuk pengalaman teknologi digital yang mengesankan dan menarik akan membuat perjalanan lebih mudah untuk dikelola. Menurut penelitian oleh Travelport, tiga perempat (75%) dari wisatawan di APAC saat ini mengatakan mereka sekarang secara aktif mempertimbangkan apakah sebuah maskapai penerbangan menawarkan pengalaman digital yang baik ketika melakukan pemesanan, angka ini menunjukan kenaikan sebesar 13% dalam dua tahun.

Ada juga permintaan signifikan dari para wisatawan di APAC untuk pengalaman virtual dan augmented reality. Empat perlima (61%), misalnya, percaya teknologi ini akan membantu mereka merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Jumlah ini merupakan dua kali lipat dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Utara.

Saat mempersiapkan dan mencari informasi mengenai perjalanan, 89% wisatawan di wilayah ini mengatakan bahwa mereka telah meninjau video dan foto yang diposting di media sosial; bukan oleh teman, tetapi oleh travel brand.

Ini adalah persentase tertinggi yang tercatat di wilayah mana pun di seluruh dunia. Selain itu, lebih dari dua pertiga (70%) telah menggunakan pencarian suara untuk membantu mengatur perjalanan mereka, dua kali lebih banyak daripada di Eropa. Keberuntungan menyukai para pemberani, melihat permintaan serta penggunaan teknologi ini di APAC yang begitu tinggi, waktu bagi perusahaan untuk menjadi berani telah tiba Raymond Setokusumo, Director Galileo Indonesia, operator Travelport di Indonesia berbagi salah satu hasil menarik dari Global Digital Traveler Research (GDTR) milik Travelport, yang juga menjelaskan karakteristik dan perilaku wisatawan di Indonesia.

Beliau menambahkan “Saat melakukan riset untuk perjalanan, lebih dari tiga perempat (83%) wisatawan di Indonesia telah meninjau video dan foto yang diposting oleh brand-brand pariwisata di media sosial – persentase tertinggi di dunia dengan 23 persen lebih tinggi dari rata-rata di dunia. Kami akan menginformasikan lebih banyak hasil temuan dari riset ini dalam waktu dekat”.

 

Bersiap untuk personalisasi di perjalanan udara

Terdapat banyak hal yang terjadi di dunia ritel tiket penerbangan. Konten mengenai penerbangan udara, misalnya, semakin dinamis - bersumber secara dinamis, dipaketkan secara dinamis, dan dihargai secara dinamis. Perdagangan bergerak dari seni ke sains, berkat big data. Otomasi memungkinkan produk terpersonalisasi lebih dari yang pernah ada pada sebelumnya. Bahkan model berbasis langganan sedang diselidiki dan diuji.

Maskapai juga sekarang mempertimbangkan bagaimana setiap kursi di pesawat memiliki nilai yang berbeda dan dapat menjadi bagian dari paket yang berbeda. Ketika Anda menambahkan penawaran untuk korporat, loyalitas, dan personalisasi, terdapat ratusan produk potensial di setiap penerbangan. Hal ini memiliki potensi besar bagi pelanggan, tetapi maskapai juga sadar akan hal ini.

Delta Airlines telah memprakarsai konsep yang disebut Next-Generation Storefront untuk memotong kompleksitas dalam produk yang bersaing dan menjualnya berdasarkan nilai, bukan sekedar harga. Sebagai platform perdagangan perjalanan, kita perlu menanggapi semua hal ini untuk memastikan kita terus mendukung semua pihak, tidak peduli model mana yang mereka putuskan adalah yang terbaik untuk mereka.

Kesimpulannya, laju perubahan saat ini sangatlah menakutkan dan sekaligus mengasyikkan. Berdiri diam bukanlah suatu pilihan, terutama bagi perusahaan seperti Travelport yang berada di jantung ekosistem industri perjalanan dan perlu mendukung semua mitra, tidak peduli seberapa besar atau kecil, seberapa inovatif atau konservatifnya. Masa-masa perubahan yang hebat membutuhkan kelincahan yang besar.

Melansir dari situs Travelport Author: Mark Meehan dan Raymond Setokusumo

#GrowFearlesss with Fimela

Loading
Artikel Selanjutnya
Melancong Semalam di Bali, Kunjungi 3 Tempat Hits untuk Bersantai yang Instagrammable
Artikel Selanjutnya
Ingin Melihat Matahari Terbit, Ini Tempat Terbaik di New Zealand