Sukses

Lifestyle

Derita Keluarga Karena Kakak Ipar

Vemale.com - Pengirim : Kholisotun Cerita ini menjadikan hikmah bagi siapa saja yang mengalami kekerasan dalam keluarga, bahwa semua kejadian yang kita alami di dunia harus kita jalani dengan ikhlas karena dari semuanya itu pasti ada pelajaran yang dapat kita ambil. Dimulai pada tahun 2003 ketika memasuki bangku kuliah pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota pelajar Yogyakarta. Tanpa biaya yang saya punya, saya berusaha mencari beasiswa karena dalam keluarga saya tidak ada yang mau melanjutkan sekolah. Perlu diketahui saya adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara yang berasal dari keluarga tidak mampu. Selama 3 tahun saya mendapatkan beasiswa untuk belajar pada sebuah Akademi Manajemen Informatika&Komputer, sehingga hanya tinggal mencari biaya untuk kos dan hidup sehari-hari. Setiap minggu saya pulang ke rumah yang jaraknya 30 menit perjalanan menggunakan angkutan umum. Setiba di rumah pada hari Sabtu & Minggu, saya bekerja menjadi buruh potong padi untuk jadi bekal makan selama 1 minggu ke depan di Yogyakarta. Terkadang orang tua menjual itik untuk tambahan uang saku karena pekerjaan sehari-hari ibu saya hanya menggembala itik. Sehari-hari bapak bekerja mencari rumput untuk pakan ternak kerbau. Dalam kurun waktu 3 tahun tersebut saya berjuang makan seadanya bahkan terkadang tidak makan jika bekal menipis. Ketiga kakak saya sudah berkeluarga jadi tidak mungkin lagi bisa membantu saya. Kakak laki-laki saya yang belum menikah juga tidak bisa membantu karena hanya bekerja sebagai buruh di Kalimantan. Memasuki tahun ketiga dari masa belajar yang hanya tinggal beberapa langkah lagi, pada masa-masa menyusun tugas akhir saya dikejutkan bahwa kakak saya yang di Kalimantan sakit dan butuh biaya karena dirawat di rumah sakit. Saya bingung karena saya butuh biaya untuk pendadaran dan wisuda. Namun Tuhan tidak tinggal diam, hasil menjadi buruh mengerjakan sawah terkumpul cukup untuk dikirimkan biaya pengobatan di rumah sakit walau tidak ada sedikitpun yang tersisa untuk makan di rumah. Tahun 2006 bulan September saya berhasil menyelesaikan pendidikan Diploma III dengan prestasi Cum Laude. Setelah lulus, saya melamar pekerjaan sebagai penjaga toko bunga di sebuah mall di Yogyakarta untuk batu loncatan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan saya. Pada waktu menjadi penjaga toko saya sudah bisa menabung walau hanya sedikit untuk digunakan mencukupi kebutuhan kedua orang tua di desa. Tahun 2007 saya mendapatkan kesempatan bekerja pada sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pendidikan pada sekolah tinggi jurusan Pramugari di Yogyakarta. Kehidupan saya berangsur membaik karena penghasilan yang saya kumpulkan tiap bulan cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta dan bisa saya kirimkan untuk kedua orang tua di rumah. Tahun 2008 kakak yang bekerja di Kalimantan menikah dengan perempuan keturunan Jawa yang berdomisili di Kalimantan. Pada bulan Desember 2008 keduanya kembali ke Magelang tinggal dengan kedua orang tua saya. Petaka dalam keluarga saya dimulai dengan kehadiran kakak ipar saya. Umurnya lebih muda dari saya sehingga terkadang semua keinginan dia harus dimaklumi oleh anggota keluarga yang lain. Setiap saya pulang mengunjungi orang tua saya dia selalu menunjukkan muka yang marah dan bengis karena dia merasa saya paling disayangi di keluarga. Dia mencuri uang yang ada di tas saya bahkan uang ibu saya dan menjual beras persediaan rumah hanya untuk jajan. Padahal saya yang mencukupi kebutuhan dia dan kakak saya. Hari berganti hari semakin kurang ajar kelakuan dia di rumah. Dia melarang saya pulang ke rumah karena rumah orang tua saya akan dimilikinya. Bahkan orang tua saya diusir dari rumah karena merasa kakak saya berhak memiliki rumah tersebut. Mulailah kehidupan seperti di neraka. Keributan demi keributan terjadi di rumah. Dia mengancam akan meninggalkan rumah apabila kemauannya tidak dituruti. Namun karena orang tua tidak memiliki rumah lain maka orang tua menjadi bingung harus tinggal di mana. Ibu saya yang setiap hari bekerja di sawah sambil menggembala itik harus bangun pagi-pagi untuk memasak nasi bekal bekerja kakak saya. Siangnya harus mencuci piring yang dipakai kakak ipar saya karena dia merasa rumah itu adalah miliknya sehingga jika mau tinggal di rumah harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tahun 2009 saya meminta ijin orang tua untuk menikah karena umur saya sudah menginjak tua. Kakak ipar saya tidak menyukai calon suami saya maka berbagai cara dia lakukan termasuk menghasut kakak saya. Suatu malam ketika saya dan calon suami menggelar acara lamaran, kakak ipar saya membuat keributan dengan menyuruh kakak saya melapor ke ketua RT. Intinya keluarga calon suami saya tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di rumah kedua orang tua saya. Betapa malunya saya karena keluarga calon suami sudah dalam perjalanan. Untuk menyelamatkan acara tersebut, terpaksa saya meminjam rumah kakak tertua untuk menggelar acara tersebut. Semakin hari semakin banyak hal yang dilakukan kakak ipar saya pada kedua orang tua dan adik saya. Adik saya sudah menikah terlebih dahulu ketika saya masih kuliah. Jika dia mengunjungi kedua orang tua saya, kakak ipar akan membanting pintu tanda dia tidak suka terhadap adik saya. Makanan dan minuman yang ada di rumah disembunyikan di kamar kakak ipar saya. Bulan Juni 2009 saya menggelar acara pernikahan secara sederhana tanpa dihadiri anggota keluarga satu pun di KUA setempat. Hanya bapak dan adik ipar saya yang mengantar. Semenjak menikah saya tinggal dengan suami di Yogyakarta dengan kos. Terkadang saya menjenguk orang tua sebulan sekali. Setiap saya pulang ke rumah orang tua, suami saya tidak ikut karena suami tidak diperbolehkan oleh kakak ipar saya. Terkadang saya sedih mengalami ini semua, namun saya yakin kami yang teraniaya oleh perbuatan kakak ipar saya tidak buruk di mata Tuhan kami. Saya hanya bisa bersabar dan memberikan kekuatan kepada kedua orang tua saya atas kelakuan kakak ipar saya. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Yang terpenting adalah amal perbuatan baik kita yang akan menemani kita di akhirat kelak. Siapa menanam amal kebaikan pasti akan menerima kebaikan pula dan siapa yang menanam keburukan akan menuai keburukan pula. Sekelumit kisah ini semoga bisa menjadi lentera dalam kehidupan kita bahwa bersabar memang susah tapi jika ikhlas menjalani Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik bagi hamba-Nya. Amin (vem/miw)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading