Sukses

Lifestyle

Mungkin Tuhan Batalkan Pernikahanku Agar Kubisa Lebih Berbakti pada Ayahku

Tulisan sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Ayah Aku Rindu ini menceritakan sebuah kesedihan. Tapi di balik kesedihan itu ternyata ada pelajaran lain.

***

Wajah yang dingin. Hanya tersenyum tipis saat melihat kesuksesan anaknya, hanya diam dengan muka memerah saat menahan amarah.

Kalimat di atas cukuplah sebagai deskripsi singkat tentang ayahku, sosok penyembunyi kasih sayang yang begitu besar dalam kediaman dan kebisuan. Petuah mutiaranya yang mengambil hikmah kehidupan masa lalu mampu membisukan lisan yang berusaha untuk menantang. Ah, jika mengingat ayah, kerinduan dalam hati tiba-tiba bergemuruh kencang, bayangan wajah dinginnya yang sendu pun penuh harapan akan kesuksesanku menyeruak begitu saja hingga memaksa kedua mataku menetes sebagai arti penyesalan.

Hidup di keluarga yang sederhana, ayah dan ibu yang banting tulang menghidupi keempat anaknya, membuat aku sebagai anak pertama ingin mengubah perekonomian keluarga. Sejak sekolah menengah pertama, aku sudah memiliki impian besar yang aku iringi dengan usaha besar pula untuk merealisasikannya menjadi nyata, ayah kagum pun selalu mendukungku. Sayangnya di tengah perjalanan menggapai impian, Allah menguji titik lemahku yang membuat diri ini berhenti menggapai impian.

Reno, cowok yang datang di tengah perjalananku menggapai impian, membuatku seakan jatuh pada kedalaman cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kewibawaannya, ketegasannya, keberaniannya, nan kasih sayangnya pada sesama sungguh telah menyihir jiwa ini mabuk dalam asmara, aku sungguh menginginkannya dan takut kehilangan.

Berbagai usaha aku lakukan demi mencuri perhatiannya, dan gayung pun bersambut. Ia juga tertarik padaku, namun ia tak ingin menjalani hubungan seperti halnya remaja biasa. Reno mengajakku untuk menikah muda, ia meyakinkanku bahwa akan memuliakanku dan menjagaku sebaik mungkin. Karena rasa cinta dan takut kehilangan yang begitu besar, tanpa menghiraukan mimpiku aku berkata iya. Ayahku, dengan wajah keberatan mengangguk pelan.

“Kalau memang itu pilihanmu, Ayah nggak bisa melarang. Ayah akan mengizinkan daripada kamu jatuh di lembah kemaksiatan!”

Ia kemudian membatalkan rencana pernikahan./Copyright pixabay.com

Persiapan menuju pernikahan dirancang sesederhana mungkin, tanggal telah ditetapkan meski belum disebarluaskan. Satu bulan sebelum hari H, satu kejadian menyedihkan seumur hidupku terjadi, Reno membatalkan rencana pernikahan ini, ia lebih memilih beasiswa kuliah yang didapatkannya dengan syarat tidak menikah sampai kelulusan. Aku menangis, bagaimana bisa terjadi? Aku rela meninggalkan mimpiku hanya untuk menerima tawarannya untuk menikah. Tetapi, mengapa ia justru lebih mementingkan hal lain di saat akan menuju mahligai pernikahan?

Hari- hari kulewati dengan menahan rasa sakit yang entah bagaimana dapat kulukiskan, aku mencoba mencari hikmah di balik kejadian ini. Kudekati Sang Pencipta, kurayu Dia, kumohon kekuatan batin dengan deraian air mata yang berlinangan.

“Jangan hanya melihat kesedihannya saja atas kejadian ini Raisa, cobalah kau tengok hikmahnya. Tuhan membatalkan rencana pernikahanmu, mungkin karena Ia ingin kau menuntaskan baktimu pada Ayahmu. Bangkitlah, rangkai impianmu kembali. Nikah itu suatu hal yang pasti kok Raisa, akan hadir tepat pada waktunya!”

Aku menghapus air mataku. Tiba- tiba, wajah dingin ayah dengan senyum khasnya terbayang di benakku. Aku merindukannya, sungguh aku merindukannya. Aku merindukan sosok penyayang di balik kedinginan wajah.

Ayah, tiada kasih setulus kasihmu. Izinkanlah anakmu mengungkap rasa rindu yang dibalut dengan permohonan maaf atas segala keegoisanku. Aku janji, akan kembali merajut mimpi dan menjadikannya nyata. Akan kupastikan, kau tersenyum bangga dengan deretan prestasi yang kupersembahkan hanya untukmu yang kurindu, ayahku.




(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading