Sukses

Lifestyle

Perempuan Indonesia dan Trauma Kolektif yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Fimela.com, Jakarta - Rasa takut perempuan di ruang publik sering kali dianggap hal biasa. Kalimat seperti “jangan pulang malam”, “jangan jalan sendiri”, atau “jangan pakai pakaian terlalu terbuka” sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak perempuan Indonesia. Nasihat tersebut kerap disampaikan atas nama perlindungan, tetapi di sisi lain menunjukkan bahwa rasa aman perempuan belum sepenuhnya hadir di ruang publik.

Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Berbagai peristiwa kekerasan terhadap perempuan dalam sejarah Indonesia meninggalkan dampak yang lebih besar dari sekadar luka individu. Trauma dapat berkembang menjadi trauma kolektif, yaitu rasa takut yang diwariskan secara sosial lintas generasi.

Dalam konteks psikologis, trauma kolektif terjadi ketika suatu kelompok masyarakat mengalami atau mewarisi dampak emosional dari peristiwa kekerasan besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban langsung, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memandang keamanan, tubuh perempuan, hingga ruang publik.

American Psychological Association (APA) – Trauma menjelaskan bahwa trauma berat dapat memengaruhi rasa aman seseorang dalam jangka panjang, termasuk memicu kecemasan berlebihan, hypervigilance atau kondisi selalu waspada, gangguan tidur, hingga kesulitan mempercayai lingkungan sekitar.

 

Selalu Merasa Waspada

Bagi banyak perempuan Indonesia, kewaspadaan itu terlihat dalam berbagai kebiasaan sehari-hari yang kini terasa normal. Mulai dari membagikan live location saat bepergian, memilih duduk dekat pintu keluar transportasi umum, berpura-pura menelepon ketika berjalan sendirian, hingga merasa cemas ketika harus pulang malam.

Kebiasaan tersebut sering dianggap bentuk kehati-hatian biasa. Namun, psikolog menilai respons semacam ini juga dapat muncul dari rasa tidak aman yang terus diwariskan melalui pengalaman sosial perempuan.

WHO – Violence Against Women menyebut kekerasan terhadap perempuan memiliki dampak kesehatan mental jangka panjang, termasuk depresi, gangguan kecemasan, dan trauma psikologis berkepanjangan. WHO juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar persoalan individu, melainkan isu kesehatan publik dan hak asasi manusia.

Di Indonesia, persoalan keamanan perempuan di ruang publik masih menjadi perhatian. Kasus pelecehan seksual di transportasi umum, kekerasan berbasis gender, hingga intimidasi verbal masih kerap terjadi dan memperkuat rasa waspada perempuan dalam beraktivitas sehari-hari.

Situasi ini membuat banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa keamanan adalah tanggung jawab pribadi. Perempuan diajarkan untuk membatasi diri, menghindari tempat tertentu, hingga mengubah cara berpakaian demi mengurangi risiko kekerasan.

 

Hak Merasa Aman

Padahal, menurut Komnas Perempuan, rasa aman perempuan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya korban yang dituntut berhati-hati, tetapi juga negara, sistem hukum, transportasi publik, dan lingkungan sosial yang perlu menciptakan ruang aman bagi perempuan.

Trauma kolektif terhadap perempuan juga menjelaskan mengapa banyak penyintas kekerasan seksual memilih diam. Rasa takut disalahkan, stigma sosial, hingga kekhawatiran tidak dipercaya membuat banyak korban memendam pengalaman traumatis mereka selama bertahun-tahun.

Dalam masyarakat yang masih sering mempertanyakan perilaku korban dibanding tindakan pelaku, rasa aman emosional bagi penyintas menjadi sulit tercipta. Akibatnya, trauma tidak benar-benar selesai dan terus membentuk rasa takut kolektif perempuan di ruang publik.

Membicarakan trauma kolektif bukan berarti membuka luka lama semata. Kesadaran terhadap dampak psikologis kekerasan justru penting untuk memahami bahwa rasa takut perempuan bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan.

Keamanan perempuan tidak bisa hanya dibebankan pada kewaspadaan individu. Rasa aman perlu dibangun melalui sistem sosial yang lebih responsif, ruang publik yang aman, penegakan hukum yang berpihak pada korban, hingga budaya masyarakat yang tidak lagi menormalisasi ketakutan perempuan.

Sebab bagi banyak perempuan, rasa aman masih menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading