Sukses

Parenting

Buku Ini Inspiratif, Menjauhkan Anak dari Khayalan Putri-Putrian

"Pada suatu hari ada seorang gadis yang suka pergi ke sekolah." Lalu mengalirlah kisah nyata Malala Yousafzai, gadis Pakistan yang mendapat hadiah Nobel yang pernah ditembak oleh Taliban tahun 2012, dalam sebuah buku anak-anak yang berjudul Good Night Stories for Rebel Girls.

Good Night Stories for Rebel Girls, buku yang satu ini memang berbeda dari buku anak-anak lainnya. Seperti yang dilansir oleh bbc.com, buku ini memuat kisah 100 wanita inspiratif dari seluruh dunia yang dilengkapi dengan ilustrasi cantik. Jadi di buku ini tak ada kisah dongeng putri-putrian yang selama ini banyak ditemukan di buku cerita anak-anak.

Foto: copyright bbc.com

Penulis buku ini adalah dua perempuan Italia yang bernama Elena Favilli (34 tahun) dan Francesca Cavallo (33 tahun). Dalam wawancara dengan BBC, Elena menjelaskan bahwa gagasan pembuatan buku ini adalah karena masih banyaknya buku anak-anak yang kental dengan stereotipe gender sempit. "Buku anak-anak tak pernah berubah sejak kami masih anak-anak, pria yang jadinya tokoh protagonisnya dan wanita yang jadinya putrinya," papar Elena.

Penulis buku Good Night Stories for Rebel Girls. | Foto: copyright bbc.com

Kesenjangan penokohan pria dan wanita di buku anak-anak memang sudah lama jadi isu tersendiri. Tahun 2011, akademisi di Florida State Universitymenemukan bahwa bias gender di buku sudah ada lebih dari 100 tahun. Mereka menemukan bahwa di sekitar 6.000 buku bergambar yang diterbitkan antara tahun 1900 hingga 2000, hanya 7,5 persen yang menampilkan karakter hewan betina protagonis.

Buku dan gambar merupakan media yang sangat krusial untuk membantu anak-anak melihat dan memahami dunia yang ada di sekitarnya. Terlebih, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan bulan Januari 2017, saat sudah berusia 6 tahun, anak perempuan akan merasa diri mereka tak secerdas atau berbakat seperti anak laki-laki. Laporannya menyebutkan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki yang berusia enam tahun cenderung memiliki pemahaman bahwa karakter yang sangat cerdas dalam buku cerita itu anak laki-laki, bukan anak perempuan.

Foto: copyright bbc.com

"Kalau semua anak membaca kisah tentang putri yang menunggu diselamatkan pangeran, maka pesan yang mereka tangkap adalah bahwa pria lebih berharga dari wanita, bahwa mereka tak setara," lanjut Elena.

Dalam buku yang ditulis, Elena dan Francesca lebih menekankan pada kisah nyata para wanita yang sukses dan berhasil serta melampaui norma-norma sosial yang sering membatasi. Meski istilah "rebel" (membangkang) berkonotasi negatif, tapi pesan yang sebenarnya ingin disampaikan Elena dan Francesca dalam bukunya adalah wanita juga bisa melakukan hal-hal luar biasa yang melampaui orang lain, meski kadang harus menghadapi tantangan dan hambatan yang berat.

Buku ini sendiri langsung menyedot perhatian di Amerika Serikat setelah mendapat 815,700 poundsterling atau sekitar 13,2 miliar rupiah dari crowdfunding campaign tahun 2016. Tak ada kisah putri-putrian seperti cerita dongeng yang banyak dijual di pasaran. Melainkan berisi kisah para wanita hebat di dunia yang berhasil sukses di bidangnya masing-masing.

Anak-anak yang membacanya, khususnya anak perempuan akan mendapat inspirasi dan juga bayangan tentang para wanita yang sukses dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. Tak lagi ada khayalan soal putri yang cuma menunggu dijemput pangeran. Melainkan para wanita kuat dan cemerlang yang berhasil memperjuangkan impiannya. Sepertinya buku ini menarik, ya.

Memilih buku bacaan yang tepat bagi anak pastinya anak berpengaruh pada tumbuh kembangnya kelak. Sebagai orang tua kita memang perlu melakukan pertimbangan yang matang dalam memilih bahan bacaan yang bisa memberi pengaruh positif di hidupnya.

(vem/nda)
What's On Fimela
Loading