Sukses

Parenting

7 Cara Mendidik Anak Usia 2 Tahun Tanpa Memarahinya

Fimela.com, Jakarta Anak usia 2 tahun sedang aktif-aktifnya, banyak tingkah laku yang mungkin membuat orang tua lelah. Di masa ini, si kecil mulai mengekspolarasi lingkunganya, banyak pertanyaan yang diajukan, dan rasa penasaran yang tinggi.

Bahkan, memasuki usia 2 tahun si kecil mudah menangis karena orang tua tidak menuruti keinganannya. Tentu membuat orang tua lebih frustasi.

Namun orang tua harus tetap mendidik anak, karena usia dua tahun waktu yang tetap untuk mengembangkan potensial si kecil. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua.

1. Bicaralah dengan si kecil

“Tahun kedua adalah tentang bahasa,” kata Natasha Burgert, seorang dokter anak dan juru bicara American Academy of Pediatrics melansir hechingerreport.org. Sekitar waktu ini, anak-anak harus mengetahui setidaknya 50 kata dan mulai menggabungkannya dalam frasa sederhana atau kalimat yang lebih lengkap. Tetapi untuk mengembangkan kosakata mereka, balita perlu diajak bicara oleh orang sekitarnya.

2. Buat si kecil melakukan sesuatu sendiri

Burgert merekomendasikan agar anak-anak seusia ini mulai melakukan tugas-tugas dasar seperti menyikat gigi dan memilih pakaian sendiri. Mereka juga harus memulai latihan pispot dan mencari cara untuk menenangkan diri ketika mereka mulai bekerja (yang sering terjadi pada usia ini).

Si kecil harus diberi tugas yang semakin mengembangkan rasa tanggung jawab. Selain mendorong kerja sama dan sifat positif lainnya, kata Burgert, pekerjaan rumah membuat anak-anak merasa seperti bagian dari unit keluarga.

3. Biarkan anak bermain

Para ahli mengatakan bahwa penting untuk memanjakan keingintahuan mereka dan bermain sesering mungkin. Anak usia dua tahun harus belajar cara bermain sendiri dengan tenang dan mainan tradisional seperti kereta api dan boneka mendorong jenis kreativitas mandiri ini.

si kecil juga harus menggunakan permainan sebagai cara untuk memikirkan masalah dan mempelajari hal-hal baru dan hal itu membutuhkan orang dewasa untuk bermain bersama. Membaca buku bersama merupakan salah satu bagian penting dari rutinitas sehari-hari bagi balita.

4. Beri mereka apa yang mereka inginkan sesuai keinginan orang tua

Melansir heatline, balita mengambil wadah berisi jus dan berusaha keras untuk membukanya. orang tua berpikir bahwa ini akan berakhir dengan buruk.

Agar hal buruk tidak terjadi, dengan hati-hati ambil wadah dari mereka. Yakinkan mereka bahwa akan membuka botol dan menuangkannya ke gelas. Orang tua dapat menerapkan teknik ini pada situasi lain, seperti jika mereka meraih sesuatu di lemari atau jika mereka melempar mainan mereka karena kesulitan meraih mainan yang mereka inginkan.

Memberikan uluran tangan dengan cara ini membuat mereka tahu bahwa mereka dapat meminta bantuan ketika mereka mengalami masalah alih-alih mencoba sendiri dan membuat kekacauan. Tetapi jika tidak ingin mereka memiliki barang itu, gunakan suara lembut untuk menjelaskan mengapa mengambilnya dan tawarkan penggantinya.

5. Berpikirlah seperti anakmu

Sangat mudah untuk menjadi kesal saat anak membuat kekacauan. Hari ini, mereka menggambar seluruh dinding dengan krayon mereka. Kemarin, mereka melacak kotoran dari bermain di halaman belakang.

Tapi cobalah berpikir seperti anak kecilmu. Mereka menganggap aktivitas ini menyenangkan, dan itu normal! Mereka belajar dan menemukan apa yang ada di sekitar mereka.

Jangan keluarkan mereka dari aktivitas, karena dapat memicu amukan. Sebaliknya, tunggu beberapa menit dan kemungkinan besar mereka akan melanjutkan ke hal lain. Atau dapat bergabung dan membimbing mereka secara konstruktif. Misalnya, mulailah mewarnai beberapa lembar kertas dan ajak mereka melakukan hal yang sama.

6. Bantu anak mengeksplore

Balita ingin menjelajahi dunia. Bagian dari eksplorasi itu adalah menyentuh segala sesuatu yang ada di bawah matahari. Bantu mereka mencari tahu apa yang aman dan tidak aman untuk disentuh.

7. Tetapkan batasan

“Karena saya bilang begitu” dan “karena saya bilang tidak” bukanlah cara yang berguna untuk mendisiplinkan anak. Sebaliknya, tetapkan batasan dan jelaskan alasannya kepada anak.

Misalnya, jika anak menarik bulu kucing, lepaskan tangannya, beri tahu dia bahwa kucing itu sakit ketika dia melakukannya, dan tunjukkan kepadanya cara mengelusnya. Juga tetapkan batasan dengan menjauhkan benda-benda dari jangkauan seperti gunting dan pisau di laci terkunci, pintu dapur tertutup.

Anak mungkin menjadi frustrasi ketika mereka tidak dapat melakukan apa yang mereka inginkan, tetapi dengan menetapkan batasan akan membantu mereka mempelajari pengendalian diri.

 

#changemaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
4 Kegiatan Sederhana yang dapat Dilakukan saat Anak Merasa Bosan
Artikel Selanjutnya
FIMELA FEST 2020: 4 Tanda Toxic Relationship dalam Keluarga yang Membuat Anak Tidak Percaya Diri