Sukses

Parenting

7 Tips Atasi Kebosanan Anak Saat Sekolah Online di Masa Pandemi Covid-19

Fimela.com, Jakarta Setelah satu tahun lebih melakukan pembelajaran jarak jauh akibat pandemi, seorang anak yang telah menjalani rutinitas sekolah online ini telah memahami yang namanya off-cam dan mute mic

Biasanya, anak-anak yang sering melakukan hal itu sering merasa bosan dan merasa lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja selama sekolah online ini. 

Dilansir dari USA Today News, studi menunjukkan bahwa dalam pembelajaran online, orangtua harus mengambil peran sebagai guru. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa jenis partisipasi orang tua memiliki dampak yang lebih besar pada prestasi anak-anak. 

Menjadikan sekolah sebagai prioritas akan membantu mencegah anak-anak memperlakukan pembelajaran online sebagai liburan. Sebagai orangtua, kamu bisa membantu mereka agar bisa tetap termotivasi saat mereka menjalankan aktivitas sekolah online tersebut. 

Berikut 7 tips yang bisa kamu gunakan sebagai orang tua untuk mengatasi kebosanan anak saat jalani sekolah online. Yuk, simak penjelasannya.

1. Kurangi gangguan

Selama masa pembelajaran jarak jauh ini, banyak anak yang menghabiskan sekitar seperlima waktu kelas di perangkat digital seperti laptop, smartphone, dan tablet bukan untuk tujuan pembelajaran. Mayoritas mereka mengatakan melakukan hal tersebut untuk melawan kebosanan. 

Sebaiknya, batasi penggunaan perangkat digital untuk tujuan non-sekolah sampai tugas sekolah selesai.

Bukan hanya hal itu, biasanya lingkungan sekitar juga bisa menjadi gangguan besar. Seperti mainan favorit di sekitar juga dapat membuat anak lebih sulit fokus. Maka, simpanlah mainan-mainan tersebut di tempat lain agar konsentrasi anak tidak terganggu dengan mainan-mainan itu.

2. Lakukan istirahat otak

Linda Carling, seorang peneliti dari John Hopkins University School of Education Center for Technology in Education mengemukakan bahwa seorang anak kecil mungkin perlu istirahat sejenak setelah mengerjakan tugas selama 5-25 menit (dikutip dari USA Today News). 

Maka dari itu, sertakan “brain breaks” atau istirahat otak di antara pembelajaran. Misalnya seperti olahraga ataupun aktivitas fisik lainnya. Cara tersebut merupakan salah satu cara terbaik untuk mengurangi stres dan mencegah kecemasan.

3. Manajemen waktu

Penelitian menunjukkan bahwa sisa yang memiliki nilai lebih tinggi biasanya lebih baik dalam manajemen waktu. Maka dari itu, sebagai orangtua, cobalah untuk membangun sebanyak mungkin struktur dan konsistensi, mengatur waktu makan, tugas sekolah, serta aktivitas lainnya. 

Berikan fleksibilitas dalam jadwal mereka, agar mereka memiliki waktu istirahat jika mereka merasa frustrasi, cemas, atau sangat terganggu. Karena memberi anak lebih banyak waktu untuk berpikir atau memproses topik yang menantang akan membuat mereka belajar mandiri dalam memecahkan persoalan. 

4. Berikan dukungan positif

Ketika anak-anak telah menyelesaikan tugas atau menyelesaikan kelas, berilah mereka pujian atau semacam penghargaan sehingga dapat membantu mereka mempertahankan motivasinya. 

Selain itu, cobalah berikan mereka sebuah penghargaan seperti makanan manis, atau memungkinkan waktu bermain dengan mainan favorit, dan lain sebagainya untuk dijadikan sebagai bentuk penghargaan dari kerja keras yang telah mereka lakukan.

5. Fleksibel

Ketika harus mengerjakan kegiatan atau mata pelajaran yang lebih sulit, pertimbangkan untuk menyisihkan waktu lain untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga, perlu adanya fleksibilitas dalam mengatur waktu untuk melakukan rutinitas agar kegiatan anak bisa tetap on-track sesuai dengan jadwal yang biasanya dijalani.

6. Bantu anak-anak agar tetap bisa terhubung dengan teman-temannya

Anak-anak pasti merindukan sekolah, guru, dan teman-temannya. Saat ini, mereka hidup dengan ketidakpastian, sehingga kita juga tidak tahu pasti kapan mereka akan mendapat kesempatan untuk bertemu satu sama lain dengan teman-temannya.

Maka dari itu, menerapkan interaksi sosial secara online ke dalam rutinitas akan membantu anak tetap berhubungan dengan teman sekolahnya. 

7. Terhubung dengan gurunya

Cobalah untuk memulai tahun ajaran baru dengan membuka dialog dengan guru anak kamu. Kesulitan dengan tugas sekolah dan tantangan teknologi merupakan beberapa alasan untuk menghubungi guru. 

Biasanya, kurangnya komunikasi dengan orangtua dapat menjadi tantangan bagi seorang guru, terutama saat pembelajaran jarak jauh. Maka dari itu, menjadi proaktif sangat penting jika anak merasa kesulitan di sekolah.

Penulis: Chrisstella Efivania

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
Mengusung Konsep Live Teaching untuk Sekolah Daring yang Interaktif
Artikel Selanjutnya
Survei Membuktikan: 60% Anak Mengalami Kesulitan Teknis Saat Belajar Online