Sukses

Parenting

Memaknai Perjuangan Ibu Thomas Alva Edison, Ciptakan Semangat Mendidik Anak dengan Cinta

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

***

Oleh: Sukma Restidinar

Di bulan Oktober ini, saya ingin memberikan secercah harapan dan semangat kepada kaum perempuan Indonesia, terutama kaum Ibu dengan berbagi kisah pembuka mengenai masa kanak-kanak ilmuwan ternama, Thomas Alva Edison. Karena cerita di balik kesuksesannya berawal dari peran mulia seorang ibunda.

Begini kisahnya, suatu hari di masa kanak-kanak, Thomas Alva Edison pulang dengan membawa sepucuk surat dari gurunya. Sesampainya di rumah, Thomas berkata kepada sang Ibu, “Mama, pihak sekolah memberikan surat ini untuk engkau baca."

Sambil meneteskan air mata, sang ibu membaca dengan lantang, “Thomas adalah anak yang super jenius, sekolah ini terlalu kecil untuknya dan kami tidak punya guru yang cukup baik untuk mengajarnya. Maka dari itu Anda harus menolong dia untuk belajar sendiri di rumah!”

Puluhan tahun berikutnya, ibunya telah tiada dan Thomas telah dikenal sebagai salah satu ilmuwan terbesar abad ke-20. Suatu ketika, di saat sedang menyortir barang-barang di rumahnya, dia menemukan sebuah surat yang sudah usang di dalam laci sebuah meja.

Lalu ia pun membaca surat itu, “Anakmu ini bodoh dan merepotkan, kami tidak bisa menerimanya lagi di sekolah ini!”

Rupanya itulah isi asli dari surat yang selama puluhan tahun disembunyikan oleh ibu dari Thomas Alva Edison. Setelah membaca surat itu, Thomas menangis, mengenang perjuangan seorang ibu di dalam mengajar dan mendidik Thomas dengan homeschooling.

Sesudah tenang kembali, Thomas menulis di buku hariannya sebagai berikut: Thomas Alva Edison adalah seorang anak bodoh yang telah menjadi ilmuwan jenius abad ini, semata-mata hanya karena jasa ibunya, dialah sosok pahlawan yang sebenarnya.

Membesarkan Buah Hati Tercinta

Dari kisah ini saya ingin memberi highlight sekaligus mengingatkan semua Ibu akan pentingnya positivity, compassion dan motivasi di dalam kehidupan anak. Pada tanggal 21 Oktober 2021 saya terkejut dengan postingan dari sebuah situs. Isinya curahan hati putra dan putri mengenai harapan mereka terhadap orang tua mereka.

Betapa terkejutnya saya setelah melihat postingan itu yang notabene berisikan tulisan tangan beberapa anak yang berharap agar para orang tua mereka berhenti memarahi mereka dengan menggunakan kata-kata kasar, kotor, tidak senonoh, serta berhenti mengatai mereka bodoh.

Saya tidak bisa merinci kalimat-kalimat yang dituliskan oleh anak-anak yang malang tersebut. Karena menurut saya isinya terlalu vulgar dan penuh dengan konten yang perlu banget untuk disensor. Fenomena ini mendorong saya untuk berkaca pada diri sendiri, apakah saya telah melukai hati anak-anak saya dengan kata-kata yang mungkin tidak separah postingan tersebut di saat anak saya sedang nakal atau ketika mengalami kesulitan saat mengikuti online learning di sekolahnya.

Masa pandemi ini seperti saat ini, tak seorang pun tahu kapan berakhir, karena beberapa negara yang sebagian warganya sudah divaksin pun mengalami 2nd dan 3rd wave. Keadaan krisis yang dirasakan merata oleh kaum ibu seperti kehilangan orang yang dikasihi hingga pekerjaan tidak membantu mereka di dalam melakukan tugas parenting.

Saya tidak menghakimi dan menyalahkan seorang ibu yang melampiaskan amarahnya kepada sang anak ketika sedang nakal. Saya pun juga sering memproyeksikan Stress saya ke anak saya. Posisi anak yang lebih lemah memang sering sekali menjadi sasaran empuk bagi orang tua untuk let go their anger kepada mereka.

Melalui tema elevate women saya ingin mengajak para wanita, terutama yang sudah memiliki putra dan putri untuk berserah diri kepada Sang Pencipta. Mengapa? Karena sang Maha khalik yang memampukan kita untuk memberikan anugrah positivity, compassion dan motivation kepada anak-anak kita.

Sementara itu dari sisi kita sebagai manusia, harus juga usaha dong seperti kita mengikuti berbagai macam zoom class tentang psikologi anak, teknik homeschooling serta parenting group, namun kurang jos rasanya jika kita tidak membangun relasi dengan Sang Maha Kuasa.

Positivity, Compassion, and Motivation

Jika kita memiliki relasi dengan baik dengan Tuhan Yang Maha Es, pastilah kita memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri dan sesama, termasuk putra-putri terkasih. Berbicara mengenai positivity, compassion dan motivation, saya akan berbagi tips kepada anda para ibu tangguh bagaimana caranya melatih diri untuk melakukan ketiga hal tersebut kepada sang buah hati. Karena saya juga sering melakukannya, dan hal ini membuat saya lebih lega dan stres berkurang. Yuk simak langkah-langkahnya:

1.   Positivity itu erat kaitannya dengan attitude kita. Biasakan di pagi hari, sesedih apa pun Anda semalam, cobalah untuk bangun lebih bagi, mengucap syukur kepada Tuhan YME sambil berolahraga ringan seperti stretching, yoga dan pilates selama 10 menit saja.

Sambil bermeditasi dan mengucapkan mantra berupa raja syukur dan pujian kepada Sang Pencipta akan memberi energi positif kepada anda. Jika anda terpaksa berhadapan dengan orang-orang yang negatif setiap pagi, contohnya anggota keluarga, staff ataupun rekan kerja serta atasan, cobalah untuk tidak berinteraksi dan menghindar secara sopan namun cerdik, agar anda tidak tersandung masalah.

Tetapi tetap kerjakan tugas anda dengan sempurna dan sebaik mungkin. Percayalah jarak itu healing!

2.   Compassion itu didapat dari membiasakan diri kita untuk membantu orang lain. Saya paham bagaimana rasanya mengirit pengeluaran sebagai seorang ibu. Berhenti jajan boba dan kopi kekinian, belanja di pasar dan mencermati diskonan di minimarket sudah menjadi pekerjaan rutin seorang ibu.

Namun alangkah baiknya jika semelarat apa pun keadaan kita, cobalah untuk berbagi kepada orang yang keadaannya jauh lebih parah dari pada kita. Toh, saat ini berbagi dimudahkan dengan berbagai macam aplikasi donasi, bahkan di beberapa aplikasi e-commerce sudah disediakan wadah untuk berdonasi yang memberikan peluang kepada kita untuk memberi berkat bagi sesama di saat berbelanja. Percayalah God is The Provider, dia akan memenuhi kebutuhan kita, dengan cara-nya yang melampaui akal dan batas pemikiran manusia

3.   Motivation adalah sebuah attitude yang banyak dipengaruhi juga oleh faktor eksternal, walaupun sebenarnya faktor internal juga turut berandil mempengaruhi kondisi pikiran seseorang.

Saya ingin mengingatkan saja bahwa saat ini banyak sekali faktor eksternal yang sifatnya toxic, entah itu media massa, media sosial serta lingkungan terdekat sendiri yang sayangnya memberikan motivasi dan pengaruh yang buruk.

Mulailah menyortir apa yang kita konsumsi mulai hari ini. Hapus kontak WA chat dengan orang-orang yang negative, nyinyir. Keluar dari group yang memberi dampak konsumtif (grup WA jastip kadang suka memberi pengaruh kita untuk belanja barang yang sebenarnya kita tidak perlu) serta blok akun belanja Instagram yang memberi konten negatif.

Sebaliknya, bergabunglah dengan grup atau komunitas yang membangun. Saat ini banyak sekali komunitas perempuan tangguh yang berisikan wanita luar biasa yang bertahan setelah melewati badai kehidupan seperti ditinggal orang yang dikasihi, mengalami sakit kritis, kehilangan pekerjaan hingga masalah kehidupan berat lainnya.

Berkaca pada Ibu dari Thomas Alva Edison, siapa sih yang menyangka kalau anak yang diberi julukan bodoh dan menyusahkan di kelas, kelak akan menjadi salah satu ilmuwan terkenal di dunia?

Nah, Bunda, walaupun saat ini mungkin anak kita sedang kesusahan menghadapi persoalan di kelas, tidak rangking 10 besar dan selalu tertinggal, hal itu bukan menjadi tolak ukur kalau anak anda nanti tidak berhasil di hidupnya. Berikan semangat ketika anak sedang gagal, atau tidak bisa memecahkan soal fisika atau kimia yang penuh dengan simbol dan rumus yang sulit. Saya yakin sebagai orang tua (kecuali kita mengambil jurusan MIPA) kita kadang juga kebingungan bagaimana caranya menyelesaikan soal tersebut kan? 

Buang jauh-jauh kata-kata kasar atau negatif yang bisa membuat mental anak down dan meninggalkan bekas luka yang akan dia akan ingat seumur hidup.

Yuk berkaca seperti ibu dari Thomas Alva Edison yang spin the message negative dan mengubahnya menjadi pesan positif. Coba bayangkan kalau Ibu dari Thomas Alva Edison membacakan  isi asli dari surat dari sekolah, mungkin Thomas Alva Edison tidak akan mampu menjadi ilmuwan yang mampu menciptakan penuaan mutakhir di abad ke-20.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Kusampaikan Rindu Lewat Doa, Terima Kasih Sudah Jadi Ayah Terbaik untuk Putri Bungsumu Ini
Artikel Selanjutnya
Hadirnya Cobaan adalah Cara Tuhan Membuatku Jadi Perempuan yang Lebih Kuat