Sukses

Informasi Profil

  • Nama LengkapAyu Utami
  • Tanggal Lahir21 November 1968
  • Tempat LahirBogor, Jawa Barat, Indonesia
  • ProfesiPenulis, Jurnalis, Aktivis

Ayu Utami adalah seorang penulis asal Indonesia. Wanita yang lahir pada tanggal 21 November 1968 ini telah menulis novel, cerpen hingga artikel.

Lahir dan besar di Bogor, Ayu Utami menempuh bangku kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Setelah sempat berkecimpung di beberapa majalah sebagai seorang wartawan,ia menjadi bagian dari Aliansi Jurnalis Independen, sebuah institusi yang berdiri sebagai sikap protes terhadap pembredelan yang dilakukan Orde Baru kepada kantor-kantor majalah.

Pengalamannya sebagai seorang jurnalis ia jadikan pendorong untuk menjadi seorang penulis. Novel pertamanya yang berjudul Saman menuai reaksi positif dari para kritikus dan sukses diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Pamela Allen di tahun 2005.

Novel ini membawa Ayu meraih penghargaan pada tahun 2000, yaitu Prince Claus Award yang diinisiasikan oleh Prince Claus Fund yang bergerak di bidang budaya dan pembangunan.

Di usianya yang sudah menginjak 48 tahun, Ayu telah menelurkan tak kurang dari 10 novel yang umumnya sarat dengan nuansa seksual dan klenik.

Tanggapannya Terhadap Kasus Sitok Srengenge

Kasus penyair Sitok Srengenge yang dilaporkan ke polisi oleh mahasiswi yang dihamilinya masih terus bergulir. Di media sosial ada dua kubu, yang membela si penyair karena menganggap kasus itu pribadi dan suka sama suka, serta kubu lain yang sepakat ini kekerasan seksual.

Lalu bagaimana seorang penggiat sastra dan penulis buku populer Ayu Utami melihat kasus tersebut. Berikut tulisannya yang diambil dari situsnya.

Sungguh, pertanyaan mendasarnya adalah ini: apa yang salah dengan jika sama suka, Mengapa tak pantas lagi kita mengobral istilah itu, terutama untuk lari dari jejak sebuah hubungan seks?

Ketika seorang perempuan melaporkan kasus seksual, reaksi pertama kita biasanya bertanya: pemerkosaan atau suka sama suka? Tapi pengutuban ini mengandung masalah. Kita sering lupa. Begitu juga dalam kasus SS belakangan ini. Seorang perempuan mengadukan kasus seksual yang menyebabkan kehamilan, lalu media mengabarkan bahwa terlapor mau bertanggungjawab mengenai akibat dari hubungan yang dilakukan secara suka sama suka, Mungkin wartawan yang memakai istilah itu. Kita semua sering terjebak memakai istilah tersebut dalam memperlawankannya dengan pemerkosaan.

Maka, marilah kita kita lihat apa problemnya. Selama ini kita cenderung menafsirkan hubungan seks hanya pada peristiwa seks saja: rayuan atau paksaan, rabaan, dan hubungan badan. Maka, betulkah jika seorang perempuan datang ke kamar lelaki, apalagi lebih dari sekali, berarti apa yang terjadi di dalam kamar disetujui kedua pihak?


Jika ditimbang baik-baik, cara pandang yang membenarkan itu amat wajar hanya bagi tubuh lelaki. Tubuh lelaki memang tidak membawa jejak persetubuhan. Ejakulasinya melepaskan jejak itu dari tubuhnya. Maka alamiah jika pria lebih mudah lupa pada?atau terlepas dari?hubungan seks yang ia lakukan. Tapi kita tidak boleh menjadikannya norma, justru karena kita adalah manusia.

Salah Satu Aktivis Feminis di Indonesia

Berikut beberapa potret perempuan feminis Indonesia yang berjuang demi harkat dan martabat kaumnya, seperti disusun Liputan6.com, Senin (7/3/2016).

Pasca kemenangannya dalam sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, nama Ayu Utami sebagai salah satu sastrawan muda perempuan makin mencuat. Berbagai karya fiksinya yang membicarakan persoalan perempuan menjadi tren dan menginspirasi penulis lainnya untuk tidak lagi tabu memandang persoalan perempuan. Ayu Utami adalah pejuang feminisme yang bersenjatakan kata-kata.