Masjid Assalafiyah, Warisan Peninggalan Pangeran Jayakarta

Asnida Riani diperbarui 13 Jun 2016, 06:00 WIB

Fimela.com, Jakarta 'Masjid Jami Assalafiyah. Dibangun pada 1620 oleh Achmad Djaketra,' jadi untaian aksara yang berada tepat di muka bangunan dengan 'sejuta' kisah tersebut. Berada tepat di sini jalan, namun seketika bising lalu lintas ibu kota tertinggal setelah memasuki masjid yang beralamat di Jalan Jatinegara Kaum no. 49, Jakarta Timur ini terkesan sederhana nan nyaman.

Warna putih dominan dengan kaligrafi yang menghiasi 'jendela' jadi 'pengucap' selamat datang kala melangkah menuju ruang salat. Belum juga sampai, perhatianmu akan terenggut pada 'pintu' menuju ruang terbuka di mana sejumlah makam berada. Di antara banyak nama di tempat peristirahatan terakhir tersebut, Achmad Djaketra atau Pangeran Jayakarta jadi yang paling menyita.

"Lebih baik ziarah dulu sebelum salat," tutur Zulfikar, salah seorang penjaga masjid kepada tim Bintang.com, Kamis (9/6). Ya,  masjid yang diarsiteki langsung Pangeran Jayakarta ini tak sekedar jadi tempat ibadah, melainkan juga 'destinasi' ziarah, baik itu tokoh maupun 'keluarga'.

Meski sudah melalui pemugaran di kanan-kiri sudut, namun Masjid Assalafiyah tetap memiliki beberapa ornamen orisinal, termasuk kayu penyusun atap dan pilar di bagian dalam ruang salat. Dikelilingi sejumlah julangan pohon nan rindang, semilir angin sesekali masuk dan menambah nuansa tenang di dalam masjid.

Selain berada di area strategis, sejarah panjang masjid ini membuatnya kerap kedatangan jamaah dari sejumlah tempat, bahkan dari luar Jakarta. Jadi bangunan warisan peninggalan Pangeran Jayakarta, Masjid Assalafiyah tetap berdiri dan memberi warna lain atas kemelut ibu kota.