Eksklusif Dita Soedarjo, Salurkan Empati Lewat Bisnis

Asnida Riani diperbarui 22 Sep 2017, 09:28 WIB

Fimela.com, Jakarta Bisnis tak hanya soal untung-rugi, pun bukan selalu tentang menyejahterakan kantong pribadi. Sedikit 'menyimpang' memang, namun setidaknya itulah yang diyakini Dita Sodarjo. Sebagai seorang social entrepreneur, perempuan berusia 25 tahun ini tak hanya berkecimpung di bisnis komersial, namun juga aktif terlibat dalam berbagai charity.

***

Melihat jauh ke belakang, kegiatan sosial macam itu ternyata bukanlah hal baru di hidup gadis cantik yang akrab disapa Dita tersebut. Sejak kecil, ia sudah terbiasa ikut dalam rentetan charity. Tumbuh dewasa tak membuat Dita kehilangan kebiasaan berbagi. Ia bahkan melakukan hal serupa ketika tengah mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Los Angeles, Amerika Serikat, beberapa tahun silam.

Berbekal empati, ditambah tumbuh di tengah keluarga yang notabene berprofesi sebagai entrepreneur kemudian membuat Dita menjalani keduanya, yakni berbisnis sambil menolong sesama. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini diketahui memegang bisnis komersial sebagai owner Häagen-Dazs Indonesia, di samping juga punya usaha di berbagai bidang untuk keperluan charity. Bila disimpulkan, pengumpulan dana yang dilakukan Dita sebagian besar berfokus pada uluran tangan kepada perempuan.

"For young people, it's not hard to do charity. Kamu nggak harus selalu menyumbangkan uang, tapi bisa  waktu atau berbagi pengalaman pribadi. Tentang bagaimana perjuangan hidupmu," tutur Dita ketika bertandang ke kantor Bintang.com di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Mesti membelah waktu untuk jenis bisnis berbeda, bagaimana kiat Dita menjaga keduanya agar tetap punya porsi imbang? Apakah kedua bisnis ini memberi pengaruh, baik langsung maupun tidak, antara satu dengan yang lain? Langsung saja simak kutipan wawancara Dita Sodarjo kepada Bintang.com berikut.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tantangan Baru Sebagai Anak Pengusaha

Dita Soedarjo. (Foto: Daniel Kampua/Bintang.com Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com Wardrobe: @dignitywoman.id MUA: @sarahsadiqa)

Tak selalu mulus, Dita ungkap betapa sulit menjalani karier sebagai pebisnis perempuan. Datang dari keluarga pengusaha malah membuatnya menemukan tantangan baru. Peran ganda yang dijalani sebagai social entrepreneur juga punya cerita yang tak kalah seru.

Jadi social entrepreneur, bagaimana bagi waktu dengan bisnis komersial?

Di samping Häagen-Dazs, bisnisku itu kan online. Jadi, bisa bales di manapun. Lagipula, kalau charity lebih sering weekend. Jadi, aku weekday bisa kerja. Kalau pun di hari biasa, acara biasanya selesai jam kantor. It's fun. Karena aku still single, bagi waktunya masih sangat santai.

Berbicara soal bisnis dan perempuan, menurut Dita apa sebenarnya modal yang diperlukan kaum Hawa untuk terjun ke dunia bisnis yang notabene didominasi laki-laki?

Project aku yang paling baru namanya Dignity, artinya harga diri. Nah, menurutku ini nyambung banget sama modal perempuan di dunia bisnis. Kamu harus punya image dulu, jangan menghalalkan secara cara karena itu nggak akan bertahan lama.

Mulai dari bisnis skala kecil dulu, yang penting bisa kamu banggain. Manfaatin apa yang sekarang punya big power, macam social media. Pakai itu buat bangun citra produk, karena branding image itu penting dan bikin orang lain percaya.

Berasal dari keluarga entrepreneur, jalan ke dunia bisnis lebih mudah nggak?

Pasti. Aku bohong kalau bilang nggak. Karena kan aku udah kenal banyak orang dari kecil. Temanku di dunia usaha jadi cukup banyak. Ini membantu nggak cuma di bisnis komersial, tapi juga charity.

Terbantu direlasi saja?

Of course not. Aku lihat cara papaku kerja. Beliau selalu menekankan kalau usaha itu sebenarnya team work. Kamu nggak bisa menonjolkan diri sendiri. Terus juga pengusaha itu nggak boleh nyaman terlalu lama sama diri sendiri. Bahaya karena kamu bakal stuck, nggak berkembang ide dan cara pikirnya. Usaha kan
sifatnya kompetisi, jadi kalau kamu nggak bisa compete ya selesai sampai situ.

Kita sama-sama tahu usaha itu setiap hari ada pemain barunya, dan tekonologi sekarang punya efek besar atas dunia bisnis. Jadi, usaha itu memang selalu tentang never stop learning and innovating, also you need to be flexible. Yang paling sederhana tapi banyak orang lupa, kamu tuh nggak boleh telat. Karena susah banget
ngejar ke depannya kalau apa-apa sudah telat.

Kalau begitu, bukankah tantangan berbisnisnya jadi jauh berkurang?

Nggak juga. Aku tuh sering diremehin orang. Biasanya kalau anak pengusaha itu dibilang nggak bisa kerja. Cuma titipan. Padahal, we do want to work. Bahkan, kami harus kerja dua kali lebih keras untuk ngilangin underestimate itu.

Jadi, apa sih tantangan paling seru yang sudah dialami Dita selama ini?

Ada budaya kurang bagus di antara pengusaha perempuan, jealous. Ia bakal nyari kesalahan kamu, atau kadang ada juga yang mau ngadu domba aku sama
partnerku. Secara garis besar, intinya aku harus bedain friendship sama bisnis. Itu penting buat karena perempuan biasanya lebih emotional ketimbang laki-laki. Terus juga jangan pilih partner hanya karena sahabat. Harus pikir lebih clear. Ia harus menambal kelemahanmu.

 

3 dari 3 halaman

Terjun ke Bisnis Es Krim

Dita Soedarjo. (Foto: Daniel Kampua/Bintang.com Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com Wardrobe: @dignitywoman.id MUA: @sarahsadiqa)

Selain memegang bisnis yang berkonsentrasi pada charity, Dita juga berkecimpung di dunia komersial. Dengan goal berbeda, apa sebenarnya kesukaran yang mesti ia kalahkan untuk mempertahan bisnis franchise Häagen-Dazs Indonesia?

Akhirnya bisa pegang Häagen-Dazs tuh gimana?

Balik kuliah kan aku bantu mama kerja di media selama setahun. Tapi, akhirnya aku memilih bergeser ke makanan itu awalnya karena aku memang suka. Ice cream, itu favoritku dari kecil. Jadi, selagi ada kesempatan kerja dengan apa yang ku suka ya aku ambil.

Jualan es krim itu kesannya senang-senang aja, betul nggak sih?

Ada betulnya juga. Tapi, Häagen-Dazs kan franchise, jadi kalau ada apa-apa, misal aku punya ide apa, itu mesti tunggu approval dari pihak sana. Mereka tuh betul-betul strict sama aturan. Image Häagen-Dazs nggak boleh lengser sedikit pun. Aku pernah mau bikin yang sedikit lucu-lucu gitu, tapi pihak sana tetap mau Häagen-Dazs yang terkesan sebagai es krim klasik.

Dari situ, aku belajar untuk mengendalikan diri. Soalnya, salah entrepreneur muda, apalagi seusiaku itu susah untuk nerima pendapat, apalagi perintah. Makanya good communication itu penting banget buat pengusaha muda. Jangan tutup telinga.

Sudah punya bisnis komersial dan non-komersial, masih ada yang dimau?

Aku masih mau banyak. Banyak banget. Terutama belajar dari papaku. Aku mungkin mau punya lebih banyak waktu sama keluarga, sekalian belajar banyak hal dari mereka. Kalau di bisnis, aku mau fokus bangun Dignity dulu supaya up-nya cepat.

Rencana 5 tahun ke depan?

Aku mau buat local makeup. Yang murah, bagus, dan packagingnya lucu. Sekalian promosi juga kalau brand lokal itu juga bisa bersaing, lho.

Pada akhirnya, sukses itu apa sih menurut Dita?

Suka sama diri sendiri. Karena kalau kamu lakuin apapun dari A sampai Z tapi nggak suka sama diri sendiri juga nggak akan cukup. Jadi, sukses pertama itu sebenarnya bukan di karier, tapi bagaimana suka sama diri sendiri.